OPINI: Mengapa Perempuan Kerap Dalam Pusaran Femisida!

6 hours ago 6
 Mengapa Perempuan Kerap Dalam Pusaran Femisida!Rusliana Rusli (Akademisi)

Rusliana Rusli (Akademisi)

KabarMakassar.com — Di suatu siang, saat semua rutinitas wajib jeda termasuk kesibukan berinteraksi dengan para mahasiswa di dalam ruang kelas, kembali bertatapan dengan layar gawai, membuka sosial media dengan segala konten yang disajikan melalui kerja cerdas algoritma.

Tak sengaja lewat video reels singkat, sebuah kejadian yang membuat miris, mengugah total kesadaran saya, dimana kasus ini membuat saya seolah tengah berpikir keras, mencermati adegan dalam konten tadi, sesuatu yang lebih akrab disebut dengan Femisida.

Jika kita melihat bahwa kasus FEMISIDA  yang lagi booming disekeliling kita, terutama di sosial media, akan menimbulkan banyak pertanyaan yang tak lengkap rasanya jika tidak dijawab.

Apa sih femisida itu?

Secara sederhana, Femisida adalah aksi keji dan ekstrim, yah…menghabisi nyawa perempuan atau anak perempuan yang didasari oleh jenis kelamin atau gendernya.

Tentu kejahatan ini bukan sekadar aksi keji biasa, melainkan bentuk kekerasan paling ekstrem yang berakar pada ketidaksetaraan gender, diskriminasi, dan pandangan yang menempatkan perempuan sebagai objek.

Femisida adalah Istilah yang pertama kali dicetuskan dan dipopulerkan oleh aktivis feminis Diana E. H. Russell pada 1976 untuk membedakannya dengan pembunuhan netral (homicide).

Masih ingat dengat Kasus pembunuhan seorang gadis muda perempuan muda bernama Uswatun Khasanah? Dimana jasadnya ditemukan terpisah di Ngawi, Trenggalek dan Ponorogo. Korban merupakan warga Kelurahan Bence, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar (Kompas,25 Januari 2025) dan kasus terbaru yang terjadi di Mojokerto dimana perempuan tersebut dimutilasi lebih dari 600 bagian kecil (Kompas 2026). Aksi tak bermoral ini bukan sekedar dihabisi lalu mati begitu saja. Tetapi proses tak manusiawi tersebut sangat biadab dan diluar nurul (baca : Nalar).

Aksi sadis yang cukup ngeri, dimana tubuh dimutilasi lalu disebarkan keberbagai arah ini. Pola pelaku ini menandakan kasus ini bukanlah sesuatu yang terasa yang biasa saja untuk kalangan masyarakat normal seperti kita ini.

Meningkatnya aksi kekerasan berupa kasus pembunuhan yang korbannya adalah gadis-gadis yang masih berusia cukup muda, menurut data, dari rentang tahun 2024 hingga 2026 ada 10 kasus ekstrem dengan memutilasi korban yang menimpa kalangan perempuan yang masih sangat muda.

Sangat memprihatinkan memang, begitu mudahnya menghilangkan nyawa seseorang sekarang ini, dilakukan dengan membuang jauh-jauh rasa kemanusiaannya.

Hal ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan dikepala kita, kenapa hal ini bisa menjadi begitu mudah terjadi ditengah masyarakat kita yang sejak dulu dibelahan dunia luar cukup terkenal akan keramah tamahannya, gotong royongnya dan religiusitasnya.

Dalam pendekatan teori Psikoanalisis milik Sigmund Freud, bahwa kejahatan keji sering kali disebabkan oleh kegagalan mekanisme pertahanan ego (seperti superego) atau dorongan alam bawah sadar yang destruktif. Beberapa faktor bisa disinyalir.

Pelaku mungkin memiliki trauma masa lalu yang ditekan, sehingga memicu reaksi dan agresi yang luar biasa, lalu dilampiaskan tanpa kontrol dan diabaikannya sikap rasional.

Jika kita kembali membedah kasus-kasus pembunuhan tragis yang terjadi belakangan ini, sepertinya ada luka psikologis dan sosial yang mendalam di baliknya. Faktor pemicu utamanya sering kali berakar dari rasa tersinggung karena harga dirinya yang terusik. Apatahlagi kalau yang bersangkutan masuk kategori “pa’bambangang na tolo (sudah cepat emosi cepat marah pula).

Sementara itu, tindakan keji seperti memutilasi biasanya lahir dari rasa takut yang luar biasa akan konsekuensi perbuatan si pelaku. Kita ambil contoh, ketika seorang pria yang sudah beristri terjebak dalam masalah ini, ia akan nekat menghilangkan jejak demi menutupi kesalahannya.

Di sisi lain, faktor lainnya yang tidak kalah memprihatinkan adalah ketidaksiapan mental serta ketidakmampuan untuk bertanggung jawab atas dampak dari tindakan yang telah mereka lakukan sendiri.

Melihat fenomena yang trennya terus meningkat dari tahun ke tahun ini, kita sebagai masyarakat yang selalu menjunjung tinggi sikap saling jaga jika itu menyangkut keselamatan, harus benar-benar waspada demi masa depan generasi muda. Pembentukan watak yang baik sejatinya tidak bisa hanya dibebankan pada lembaga sekolah, karena pondasi terpenting justru dibangun di dalam rumah kita, melalui kehangatan keluarga.

Ketika pemuda kehilangan rasa percaya diri, harapan untuk maju, dan ruang aman untuk saling percaya (trust), tingkat stres mereka akan melonjak. Akibatnya, muncul jalan pintas seperti ingin hidup enak tanpa mau bersusah payah dan bekerja keras (ero ande tea’ eco atau mau makan tapi tidak mau bekerja keras).

Untuk mengatasi kemerosotan moral ini, dibutuhkan kerja sama erat dari seluruh stakeholder terkait.

Langkah konkret ini harus dimulai dengan membangun karakter kuat, terutama di kalangan perempuan. Menjadi perempuan hebat bukan lagi soal bagaimana tampil cantik dan menawan secara fisik, melainkan bagaimana menanamkan keberanian dan ketegasan untuk berkata TIDAK! Khususnya pada hal-hal yang tidak menyenangkan, merendahkan, atau bahkan merugikan diri mereka.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news