
Foto ilustrasi sakit perut/keracunan. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 2 Yogyakarta dihentikan sementara setelah 413 warga SMKN 2 Yogyakarta diduga mengalami keracunan. Sementara itu, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan air masih dalam proses.
Kepala Dinas Kesehatan DIY Gregorius Anung Trihadi mengatakan berdasarkan penyelidikan epidemiologi sementara, menu ayam gongso atau ayam kecap memiliki hubungan signifikan dengan kejadian tersebut.
Menurut Anung, dugaan sementara agen penyebab mengarah pada bakteri. Namun, kepastian etiologi atau penyebab serta sumber utama kejadian masih menunggu hasil resmi pemeriksaan laboratorium.
"[hasil laboratorium belum keluar] belum, hasil laboratorium untuk sampel makanan dan air masih dalam proses pemeriksaan," ujar Anung, Selasa (22/9/2026).
Pengawasan Pengolahan Makanan Diperketat
Anung mengatakan tindak lanjut yang akan dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang adalah monitoring dan evaluasi terhadap pengolahan makanan.
Salah satunya dengan memperketat pengawasan rantai suhu atau food chain di fasilitas pengolahan pangan. Proses pematangan atau pengungkepan ayam juga harus dipastikan sempurna melalui pengukuran suhu inti yang tepat serta menghindari penyimpanan pada suhu ruang terlalu lama.
Selain itu, meskipun Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) telah terbit, pengawasan internal berkelanjutan tetap diperlukan. Pengawasan mencakup sarana, Sumber Daya Manusia (SDM) penjamah pangan, pelaksanaan alur, serta evaluasi Standar Prosedur Operasional (SOP) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga makanan didistribusikan kepada penerima.
Penyimpanan Bahan Baku Juga Dievaluasi
Anung melanjutkan, perbaikan juga diperlukan pada sarana penyimpanan, pengolahan, dan proses selanjutnya. Pemantauan suhu secara berkala pada fasilitas pendingin seperti chiller dan freezer perlu dilakukan agar sesuai standar.
Penyimpanan bahan baku juga perlu diperbaiki untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang.
"Memastikan sarana lain pengolahan sampai distribusi termasuk pengelolaan limbah," jelasnya.
Selain perbaikan sarana dan proses pengolahan, investigasi serta uji laboratorium lanjutan juga akan dilakukan. Saat ini, pemeriksaan masih menunggu hasil laboratorium sampel makanan dan air untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
Langkah terakhir yang disiapkan adalah memperkuat koordinasi lintas sektor.
"Terus memperkuat koordinasi antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, pihak sekolah, dan penyedia makanan (SPPG dan Yayasan/Mitra), Korwil/KPPG, dan pemangku kepentingan dalam memantau kesehatan siswa serta mengevaluasi standar kebersihan dan keamanan pangan secara menyeluruh," jelas Anung.
Pemeriksaan Sampel Berlangsung 1-2 Minggu
Sementara itu, Waka Humas SMKN 2 Jogja Arianto Eko Nugroho mengatakan pemeriksaan sampel dilakukan oleh Dinas Kesehatan Sleman karena SPPG yang memasok makanan berada di wilayah Sleman.
Menurut Arianto, proses pemeriksaan tersebut membutuhkan waktu sekitar 1-2 minggu. Selain itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga telah melakukan investigasi di SPPG tersebut pada Sabtu sebelumnya.
"Iya, jadi kita berhenti dulu [MBG-nya] sampai dengan nanti investigasinya itu betul-betul sudah keluar. Jadi kami tidak menerima MBG terlebih dahulu," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

5 hours ago
3

















































