Harianjogja.com, SLEMAN— Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM) di bidang keanekaragaman hayati melalui Program Profesi Kurator Keanekaragaman Hayati (PKKH).
Program tersebut dikembangkan untuk menjawab tantangan krisis dan degradasi biodiversitas global. PKKH Fakultas Biologi UGM menjadi program profesi pertama di Indonesia dan Asia yang secara khusus berfokus pada bidang tersebut.
Dekan Fakultas Biologi UGM Prof. Budi Setiadi Daryono mengatakan penguatan kompetensi profesional menjadi bagian dari upaya Fakultas Biologi merespons perkembangan kebutuhan di bidang keanekaragaman hayati.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Program PKKH yang dirancang sebagai pendidikan profesi untuk menyiapkan tenaga profesional dalam melakukan kurasi, pengelolaan, serta pendataan koleksi keanekaragaman hayati.
"PKKH Fakultas Biologi UGM merupakan program profesi pertama di Indonesia dan Asia yang berfokus pada bidang tersebut," tutur Budi dalam rilis tertulis Selasa (22/9/2026).
Menurut Budi, pengembangan profesi tersebut semakin relevan karena Indonesia merupakan negara megabiodiversitas yang membutuhkan SDM dengan kompetensi khusus dalam mengelola kekayaan hayati.
Pada Agustus 2026, Fakultas Biologi UGM kembali melantik lima lulusan PKKH. Dengan tambahan tersebut, total lulusan program profesi itu telah mencapai 22 orang.
"Program tersebut menjadi bagian dari upaya untuk memperluas pengembangan kompetensi profesional di bidang keanekaragaman hayati," tuturnya.
Dies Natalis ke-71 Dorong Biosinergi Berkelanjutan
Penguatan kompetensi di bidang biodiversitas tersebut juga menjadi bagian dari momentum Dies Natalis ke-71 Fakultas Biologi UGM.
Dies Natalis ke-71 Fakultas Biologi UGM mengusung tema "Biosinergi Berkelanjutan, Mengglobal dalam Keunggulan." Menurut Budi, tema tersebut menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara sivitas akademika, pemerintah, lembaga riset, dunia industri, dan masyarakat.
Sinergi tersebut diarahkan agar pengembangan ilmu Biologi tidak hanya menghasilkan keunggulan akademik. Lebih dari itu, inovasi yang dihasilkan diharapkan dapat diadopsi dan memberikan manfaat bagi pembangunan berkelanjutan.
Rektor UGM Prof. Ova Emilia dalam sambutannya pada Rapat Terbuka Senat dalam rangka Dies Natalis ke-71 Fakultas Biologi UGM, Senin (21/9/2026), turut menyinggung tantangan degradasi biodiversitas global.
"Tantangan masa depan, seperti krisis iklim, kerentanan pangan, dan degradasi biodiversitas global, menuntut institusi perguruan tinggi untuk terus berinovasi," tuturnya.
Ova menyebut pengembangan synthetic biology, bioinformatics, nanobiology, hingga entrepreneurship menjadi bagian penting dalam merespons tantangan masa depan.
Pengembangan bidang-bidang tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat kemandirian dan kedaulatan bangsa.
Inovasi Biologi Didorong Berdampak Nyata
Ova menilai pengembangan Biologi perlu diikuti dengan penguatan ekosistem kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, dan sektor industri.
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pengetahuan dan inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi tidak berhenti sebagai capaian akademik.
Melalui kolaborasi yang lebih kuat, hasil pengembangan ilmu dan inovasi diharapkan dapat diterapkan serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

2 hours ago
2

















































