Makassar Masifkan Tracing TBC di 339 Titik, Terintegrasi Cek Kesehatan Gratis

3 hours ago 5

KabarMakassar.com — Upaya memutus rantai penularan Tuberkulosis (TBC) di Kota Makassar terus menjadi perhatian, Pemerintah Kota Makassar kini menggelar tracing secara masif dan mengintegrasikannya dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), menyasar 339 titik di seluruh wilayah kota.

“Gerakan ini tidak sekadar mengejar temuan kasus, tetapi menjadi strategi untuk mendeteksi TBC, kita memastikan warga yang terindikasi segera mendapat penanganan, sekaligus mencegah penyakit di lingkungan,” jelas Appi saat melaunching gerakan tersebut di Kantor Kelurahan Antang, Jalan Antang Raya, Selasa (11/8).

Orang nomor satu Kota Makassar itu, menegaskan bahwa penanganan TBC membutuhkan kerja bersama hingga ke tingkat paling dekat dengan masyarakat.

Munafri mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program prioritas pemerintah pusat yang sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, khususnya dalam memperluas akses pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat.

Menurutnya, pelaksanaan tracing TBC yang dirangkaikan dengan CKG akan dilakukan secara serentak di berbagai wilayah Kota Makassar.

“Semua ini akan kita lakukan serentak di 339 titik yang ada di Kota Makassar. Di setiap titik itu ada 100 yang akan ditracing,” kata Munafri.

Dia menyampaikan, kegiatan tersebut tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Tracing harus menjadi langkah awal untuk menemukan kasus secara lebih cepat, memastikan warga mendapatkan pengobatan, sekaligus mencegah penularan lebih luas.

Appi mengakui, angka kasus TBC di Kota Makassar masih relatif tinggi dibandingkan sejumlah daerah lainnya.

Kondisi tersebut, kata dia, membutuhkan penanganan yang serius dan dilakukan secara terintegrasi hingga tingkat kelurahan.

“TBC di Kota Makassar ini relatif tinggi dibanding di daerah-daerah lainnya. Maka dari itu, dibutuhkan penanganan ekstra, penanganan yang sangat serius karena penyakit ini bisa menular dengan sangat cepat,” tegas Appi.

Karena itu, Pemkot Makassar melalui Dinas Kesehatan dan seluruh puskesmas mulai melakukan penelusuran terhadap warga yang terindikasi memiliki risiko atau gejala TBC.

Ketua IKA FH Unhas itu, meminta masyarakat tidak takut maupun malu menjalani pemeriksaan. Bahkan, ia menekankan bahwa TBC bukan aib dan dapat disembuhkan apabila ditangani secara tepat.

“Jangan takut dan jangan malu, TBC ini bukan aib, ini penyakit yang bisa disembuhkan. Tapi kalau Bapak-Ibu menyembunyikan penyakitnya, tidak akan pernah terselesaikan,” imbuh politisi Golkar itu.

Menurut Appi, keterbukaan masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan program tersebut. Warga yang terindikasi atau mengalami gejala TBC diharapkan segera memeriksakan diri sehingga dapat memperoleh penanganan sedini mungkin.

Sebab, apabila tidak ditangani, penderita TBC berpotensi menularkan penyakit tersebut kepada orang-orang di lingkungan terdekat, termasuk keluarga.

“Maka dari itu, ini penting sekali kalau ada petugas yang datang atau mau dicek, apalagi yang terindikasi positif, silakan melapor untuk mendapatkan penanganan yang lebih detail,” katanya.

Dia menjelaskan, gerakan tracing tersebut akan menjadi proses panjang yang dilaksanakan mulai Agustus hingga November 2026.

Penelusuran dilakukan dengan menyasar ratusan titik di wilayah Kota Makassar dengan target pemeriksaan terhadap masyarakat di setiap titik yang telah ditentukan.

“Dari Kecamatan Manggala ini, kita mulai untuk menyusuri seluruh wilayah yang ada di Kota Makassar, memastikan target kita untuk menurunkan angka TBC yang ada di Kota Makassar ini dengan signifikan,” terangnya.

Ia meminta jajaran camat, lurah, hingga RT/RW mengambil peran aktif dalam menyosialisasikan program tersebut kepada masyarakat.

Lanjut Appi, keberhasilan penanganan TBC tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat.

“Terkhusus pada pak camat, pak lurah, sosialisasi ini sangat penting untuk ada di wilayahnya, termasuk Bapak RT/RW,” tuturnya.

“Untuk menurunkan ini, dibutuhkan effort, dibutuhkan sosialisasi yang masif ke tengah-tengah masyarakat,” sambung Munafri.

Dia menuturkan, pendekatan berbasis kewilayahan penting dilakukan karena masyarakat yang paling dekat dengan warga adalah perangkat di tingkat kelurahan, RT dan RW.

Dengan pendekatan tersebut, warga yang memiliki gejala atau berisiko terpapar TBC diharapkan dapat segera ditemukan dan diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan.

Ditambahkan, perkembangan teknologi pemeriksaan TBC yang dinilai semakin memudahkan masyarakat.

Jika sebelumnya pemeriksaan identik dengan pengambilan sampel dahak, saat ini proses deteksi dapat didukung dengan pemeriksaan menggunakan teknologi seperti rontgen, sesuai dengan mekanisme pelayanan kesehatan yang diterapkan.

“Dengan kemajuan teknologi dan kesiapan para petugas medis yang kita miliki, insyaallah ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Dulu kan diambil dahaknya, sekarang sisa dirontgen,” harap Appi.

Wali Kota Makassar itu berharap kemudahan tersebut dapat mendorong masyarakat lebih terbuka dan tidak menunda pemeriksaan.

Ia menegaskan, masyarakat yang memiliki gejala tidak perlu langsung menyimpulkan dirinya terkena TBC. Pemeriksaan oleh tenaga medis tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Selain pemeriksaan, Munafri juga mengingatkan masyarakat untuk menerapkan langkah pencegahan apabila mulai mengalami gejala seperti batuk.

Ia juga meminta masyarakat tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami gejala yang mengarah pada TBC.

“Kalau ada gejala-gejala itu langsung datang secepatnya ke puskesmas untuk bisa dicek dengan baik,” lanjutnya.

Menurutnya, prinsip utama yang harus dibangun adalah mencegah penularan sedini mungkin, semakin cepat kasus ditemukan dan ditangani, semakin besar peluang untuk mencegah penyebaran di lingkungan masyarakat.

Appi juga memastikan seluruh rangkaian kegiatan tracing TBC dan pemeriksaan kesehatan tersebut ditujukan untuk memberikan kemudahan akses layanan kepada masyarakat.

Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak dibebani biaya dalam pelaksanaan program tersebut.

“Seluruh kegiatan ini dilaksanakan tanpa dipungut biaya satu peser pun,” tegasnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat memanfaatkan kesempatan tersebut dengan mengikuti pemeriksaan dan tidak menutup diri ketika mendapatkan kunjungan atau pendampingan dari petugas kesehatan.

Munafri juga meminta petugas yang turun ke masyarakat memberikan edukasi secara tepat agar tidak menimbulkan stigma terhadap penderita TBC.

Menurutnya, stigma, rasa takut, dan rasa malu justru dapat membuat warga enggan memeriksakan diri sehingga berpotensi memperbesar risiko penularan.

Munafri berharap gerakan tracing TBC yang dimulai dari Kelurahan Antang tersebut menjadi tonggak keseriusan Pemkot Makassar dalam menekan angka TBC.

Ia meminta Dinas Kesehatan, puskesmas, kecamatan, kelurahan, hingga unsur RT/RW bekerja secara konsisten dan tidak berhenti setelah kegiatan launching.

“Ini bukan hanya kegiatan seremonial yang kita kumpul pagi-pagi di sini, tapi ini harus menjadi tonggak dari bagaimana keseriusan pemerintah melalui Dinas Kesehatan dan seluruh elemen yang dimiliki untuk membasmi yang namanya TBC di kota ini,” tukasnya.

Loading

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news