Legislator Makassar Desak Solusi Cepat Atasi Sampah

5 hours ago 5
Legislator Makassar Desak Solusi Cepat Atasi SampahAnggota DPRD Makassar Andi Suhada Sappaile saat Serap Aspirasi (Dok: Ist).

KabarMakassar.com — Persoalan sampah terus menjadi keluhan utama masyarakat di Kota Makassar.

Penumpukan sampah rumah tangga hingga kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa yang kian mengkhawatirkan dinilai membutuhkan penanganan cepat dari pemerintah, baik dari sisi perubahan perilaku warga maupun percepatan proyek pengolahan sampah modern.

Anggota DPRD Makassar Andi Suhada Sappaile menilai persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah semata. Menurut dia, penanganan harus dimulai dari rumah tangga melalui kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik sebelum diangkut petugas.

“Harus ada pemilahan sejak dari rumah. Sampah organik itu mudah terurai, sementara anorganik bisa didaur ulang dan punya nilai ekonomis. Kalau ini berjalan, beban sampah bisa jauh berkurang,” ujar Andi Suhada, Selasa (19/05).

Ia mengatakan pemilahan sampah menjadi langkah mendasar yang selama ini belum berjalan optimal. Selain membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, langkah tersebut juga dinilai dapat menekan persoalan lingkungan lain seperti banjir akibat saluran tersumbat sampah rumah tangga.

“Makanya pemilahan sampah itu penting. Jangan semua sampah dicampur lalu dibuang begitu saja. Kalau dari rumah sudah dipilah, penanganannya jauh lebih mudah,” katanya.

Di sisi lain, Andi Suhada mendorong percepatan realisasi program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang direncanakan di TPA Tamangapa, Kecamatan Manggala. Program tersebut dinilai mendesak mengingat kapasitas TPA yang terus tertekan akibat tingginya produksi sampah harian di Makassar.

Menurut dia, model pengelolaan sampah dengan sistem open dumping tidak lagi relevan jika pemerintah ingin menyelesaikan persoalan sampah secara jangka panjang.

“Sekarang arah pemerintah adalah bagaimana sampah ini diolah menjadi energi listrik. Jadi bukan lagi hanya ditumpuk begitu saja, tapi diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” jelasnya.

Ia menyoroti kondisi kawasan Antang yang disebutnya semakin memprihatinkan akibat penumpukan sampah yang terus terjadi. Menurutnya, percepatan proyek PSEL harus menjadi prioritas agar persoalan lingkungan dan dampak terhadap warga sekitar bisa segera diatasi.

“Kondisi di Antang sekarang sangat memprihatinkan. Sampah sudah seperti gunung. Kalau program sampah jadi listrik ini berjalan, tentu manfaatnya besar bagi kota ini,” tegasnya.

Senada, Lurah Maloku Aidir Perdana Putra menilai penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari perubahan pola pengelolaan di tingkat masyarakat.

Ia menyebut sampah anorganik berpotensi memberi nilai ekonomi tambahan jika dikelola dengan baik, sementara sampah organik dapat diolah secara mandiri di lingkungan warga.

“Kalau masyarakat mulai memilah, sampah anorganik bisa punya nilai jual, sementara organik bisa dikelola sendiri. Jadi persoalan sampah tidak semuanya harus berakhir di TPA,” ujarnya.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news