Lebih Dekat dengan Ruang NICU RS Unand: Tempat Perawatan Intensif Bayi, Pernah Tangani Bayi Prematur 640 Gram

7 hours ago 4

Hayati Sumbar

PADANG, KLIKPOSITIF — Di lantai empat Rumah Sakit Universitas Andalas (RS Unand), terdapat sebuah ruang yang menjadi penopang harapan bagi banyak keluarga, yaitu Ruang Rawat Mahoni. Di sinilah fasilitas Neonatal Intensive Care Unit (NICU) beroperasi, sebuah unit perawatan intensif yang menangani bayi baru lahir hingga anak dengan kondisi kritis yang membutuhkan penanganan khusus dan berkelanjutan.

NICU RS Unand tidak sekadar ruang perawatan, tetapi menjadi pusat rujukan bagi bayi-bayi dengan kondisi medis kompleks, baik dari dalam maupun luar Sumatera Barat. Setiap hari, tim medis berjibaku menjaga kehidupan yang baru saja dimulai, sering kali dalam kondisi yang sangat rentan.

Dokter Konsultan Neonatologi RS Unand, dr. Anggia Perdana Harmen, Sp.A(K), M.Biomed, menyebut NICU sebagai ruang dengan tingkat kewaspadaan tertinggi dalam layanan kesehatan.

“Bayi yang dirawat di NICU adalah pasien dengan kondisi paling rentan. Perubahan kecil saja, baik pada napas, denyut jantung, maupun respons tubuh, harus segera direspons. Karena itu, pemantauan dilakukan secara ketat setiap saat,” ujar dr. Anggia di Rs Unand, Rabu (29/4/2026).

Ia menjelaskan, NICU RS Unand menjadi tempat penanganan bayi dan anak yang membutuhkan pertolongan intensif agar dapat kembali sehat. Berbagai kondisi ditangani di sini, mulai dari prematuritas, gangguan pernapasan, infeksi neonatal, hingga kelainan bawaan yang membutuhkan intervensi cepat.

Dalam menunjang pelayanan tersebut, NICU RS Unand dilengkapi dengan berbagai fasilitas medis modern. Alat bantu napas tersedia lengkap, mulai dari non-invasif seperti CPAP hingga ventilator invasif dan High Frequency Oscillation (HFO) untuk kasus gangguan pernapasan berat. Selain itu, terdapat infant warmer untuk menjaga suhu tubuh bayi, alat fototerapi untuk menangani bayi kuning, serta monitor kardiovaskular untuk memantau kondisi vital secara real-time.

“Kami juga memiliki amplitude EEG untuk bayi dengan kondisi asfiksia atau kejang, serta NIV untuk bayi prematur. Dengan fasilitas ini, kami dapat memberikan penanganan komprehensif tanpa harus memindahkan bayi dari ruang perawatan,” jelasnya.

Tak hanya itu, layanan penunjang seperti USG portable dan rontgen portable turut mempercepat proses diagnosis, sehingga tindakan medis dapat segera dilakukan tanpa meningkatkan risiko pada bayi.

Dengan kelengkapan tersebut, NICU RS Unand mampu menangani pasien dari tingkat ringan hingga berat melalui tiga level pelayanan. Level 1 diperuntukkan bagi bayi dengan risiko ringan, sementara level 2 menangani bayi dengan kondisi seperti hiperbilirubinemia atau infeksi ringan yang membutuhkan intervensi. Adapun level 3 menjadi layanan tertinggi bagi bayi prematur ekstrem, bayi dengan berat lahir sangat rendah, serta mereka yang mengalami gangguan kardiorespirasi dan sirkulasi.

“Pada level 3, bayi sering kali membutuhkan bantuan napas, pemantauan intensif, hingga nutrisi parenteral total karena belum bisa menerima asupan melalui mulut. Ini adalah fase paling kritis dalam perawatan neonatal,” kata dr. Anggia.

Ia menambahkan, NICU RS Unand juga mampu menangani pasien yang membutuhkan tindakan bedah anak, termasuk bedah toraks, urologi, hingga kasus kardiologi yang kompleks.

Penanganan bayi di NICU dilakukan secara multidisiplin. Tim medis terdiri dari dokter neonatologis, dokter anak dengan berbagai subspesialis seperti kardiologi, nefrologi, nutrisi metabolik, hingga hemato-onkologi. Tenaga keperawatan yang bertugas pun telah mendapatkan pelatihan khusus neonatal.

“Kami bekerja sebagai satu tim yang terintegrasi. Selain dokter dan perawat, ada dukungan dari bedah anak, radiologi, rehabilitasi medik, nutrisionis, hingga apoteker. Semua berperan dalam proses penyembuhan bayi,” ungkapnya.

Peran NICU RS Unand semakin penting karena menjadi pusat rujukan regional. Sekitar dua pertiga bayi yang dirawat merupakan pasien rujukan yang tidak lahir di RS Unand. Mereka datang dari berbagai daerah di Sumatera Barat hingga provinsi lain seperti Jambi, Bengkulu, Riau, dan Sumatera Utara.

“Sebagian besar pasien datang dalam kondisi sudah cukup berat, sehingga membutuhkan penanganan cepat dan intensif. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami,” jelas dr. Anggia.

Kasus yang ditangani pun sangat beragam, mulai dari bayi berat lahir rendah (BBLR), berat lahir sangat rendah (BBLSR), hingga berat lahir amat sangat rendah (BBLASR), serta bayi prematur ekstrem. Salah satu kasus paling menantang yang pernah ditangani adalah bayi dengan berat lahir hanya 640 gram pada usia kehamilan 26–27 minggu.

“Bayi dengan kondisi tersebut membutuhkan perawatan panjang, bisa dua hingga tiga bulan. Jika kondisinya stabil dan berat badan sudah mencapai sekitar 1.800 gram, bayi biasanya sudah bisa menyusu langsung,” tuturnya.

Selain itu, NICU RS Unand juga menangani bayi dengan berat 700 hingga 800 gram, serta saat ini tengah merawat empat bayi dengan berat di bawah 1.000 gram.
Tidak hanya kasus medis umum, berbagai kasus bedah anak juga ditangani, seperti atresia ani, atresia duodenum, hingga penyakit Hirschsprung. Kondisi ini memerlukan tindakan operasi dan perawatan intensif lanjutan.

“Kasus bedah membutuhkan penanganan berkelanjutan, mulai dari sebelum operasi hingga pascaoperasi. Termasuk bayi dengan asfiksia atau tidak menangis saat lahir, yang sering kali memerlukan perawatan jangka panjang,” katanya.

Di balik seluruh proses medis yang kompleks, NICU RS Unand juga menempatkan keluarga sebagai bagian penting dari proses penyembuhan. Orang tua, terutama ibu, dilibatkan dalam perawatan bayi sejak kondisi mulai stabil.

“Ketika bayi sudah melewati fase kritis dan alat bantu mulai berkurang, ibu kami ajarkan cara merawat bayi. Ini penting agar terbentuk bonding dan kesiapan saat bayi pulang ke rumah,” ujar dr. Anggia.

Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan kepercayaan diri kepada orang tua sekaligus memastikan keberlanjutan perawatan di rumah.

Di ruang Mahoni, setiap detik adalah perjuangan. Di antara bunyi alat medis dan langkah cepat tenaga kesehatan, harapan terus dijaga bahwa setiap bayi, sekecil apa pun ia lahir, memiliki kesempatan untuk tumbuh dan menjalani kehidupan yang lebih baik.

“Harapan kami sederhana, setiap bayi yang dirawat di NICU memiliki kesempatan terbaik untuk bertahan dan tumbuh sehat. Itu yang menjadi semangat kami setiap hari,” tutup dr. Anggia.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news