KOMMA Fakultas Pertanian Universitas Andalas Gelar FGD Tata Kelola Berkelanjutan Tahura Dr. Mohammad Hatta pada Peringatan 50 Tahun Pengabdian

9 hours ago 4

KLIKPOSITIF – Dalam rangka memperingati HUT 50 tahun pengabdian Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam (KOMMA) Fakultas Pertanian Universitas Andalas, KOMMA menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Menggagas Tata Kelola Berkelanjutan Taman Hutan Raya (Tahura) Dr. Mohammad Hatta”. Kegiatan ini mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, pemerhati lingkungan, lembaga swadaya masyarakat, praktisi, dan alumni untuk merumuskan langkah bersama dalam menjaga keberlanjutan kawasan konservasi yang menjadi salah satu paru-paru Kota Padang.

Ketua KOMMA Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Muhammad Farhan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Tahura Dr. Mohammad Hatta bukan sekadar kawasan hutan, tetapi telah menjadi ruang belajar, laboratorium alam, serta tempat lahirnya kepedulian lingkungan bagi generasi mahasiswa selama puluhan tahun. Menurutnya, konservasi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar kawasan tersebut tetap lestari dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Mewakili pimpinan Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Wakil Dekan II Dr. Jumsu Trisno, S.P., M.Si. menyampaikan apresiasi atas inisiatif KOMMA dalam menyelenggarakan forum ilmiah tersebut. Ia menegaskan bahwa Fakultas Pertanian memiliki tanggung jawab moral dan akademik dalam mendukung upaya penyelamatan Tahura Dr. Mohammad Hatta melalui kajian ilmiah, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Hasil diskusi diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi acuan dalam pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan.

FGD dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Padang H. Maigus Nasir, M.Pd yang menyampaikan apresiasi kepada KOMMA atas kepeduliannya terhadap masa depan Tahura Dr. Mohammad Hatta. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa keberadaan Tahura merupakan anugerah sekaligus aset strategis bagi Kota Padang yang harus dijaga bersama. Menurutnya, yang terpenting bukan lagi siapa yang mengelola kawasan tersebut, melainkan bagaimana seluruh pihak dapat berkontribusi dalam menjaga, mengembangkan, dan menjadikan Tahura sebagai kawasan konservasi yang bernilai ekologis, edukatif, dan berkelanjutan. Ia juga mengingatkan bahwa berbagai bencana hidrometeorologi yang terjadi belakangan menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian kawasan hutan sebagai penyangga kehidupan.

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai institusi, di antaranya WRI Indonesia, KKI Warsi, Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, dan Dinas Pertanian Kota Padang. Berbagai perspektif disampaikan mengenai peluang penguatan tata kelola Tahura melalui kolaborasi multipihak, pendanaan inovatif, pelibatan masyarakat, hingga pengembangan program konservasi berbasis partisipasi publik.

Rakhmat Hidayat perwakilan WRI Indonesia yang juga sebagai salah seorang anggota kehormatan KOMMA FP-UA menekankan pentingnya membangun skema pendanaan inovatif (innovative financing) yang melibatkan sektor swasta, akademisi, media, serta masyarakat dalam mendukung konservasi Tahura. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi sangat bergantung pada tata kelola yang transparan, akuntabel, serta memiliki peta jalan jangka pendek, menengah, dan panjang yang disusun secara bersama-sama.

Sementara itu, perwakilan KKI Warsi memperkenalkan program Pohon Asuh, sebuah skema konservasi berbasis donasi masyarakat yang telah berjalan selama lebih dari satu dekade. Melalui program tersebut, masyarakat dapat berkontribusi dalam pelestarian hutan melalui adopsi pohon, dengan dana yang dimanfaatkan untuk patroli kawasan, pembibitan, dan kegiatan restorasi ekosistem. Model ini dinilai dapat menjadi salah satu alternatif pembiayaan konservasi yang melibatkan partisipasi publik secara langsung.

Dinas Pertanian Kota Padang memaparkan berbagai dokumen perencanaan pengelolaan Tahura Dr. Mohammad Hatta yang telah disusun, mulai dari penataan blok kawasan, desain tapak, hingga Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP). Meski demikian, sejumlah program strategis seperti patroli kawasan, pemulihan ekosistem, monitoring keanekaragaman hayati, hingga pembangunan sarana pendukung masih menghadapi keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia. Pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi dalam mendukung penelitian, inventarisasi flora-fauna, serta pengembangan kawasan secara berkelanjutan.

Pada sesi tanggapan, para akademisi dan pemerhati lingkungan menyoroti pentingnya memperjelas status kelembagaan dan pengelolaan Tahura sebelum merancang program pengembangan kawasan. Selain itu, peserta juga menekankan perlunya inventarisasi terbaru terhadap kekayaan hayati Tahura, termasuk keberadaan spesies endemik seperti Rafflesia gadutensis, kantong semar, dan berbagai flora khas lainnya yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut. Pengembangan konsep forest healing, ekowisata berbasis konservasi, serta peningkatan peran masyarakat sekitar juga dinilai menjadi peluang besar bagi masa depan Tahura.

Berbagai masukan juga datang dari WALHI Sumatera Barat, LBH Padang, BKSDA Sumatera Barat, serta akademisi Universitas Andalas yang menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan Tahura tidak hanya ditentukan oleh aspek ekologis, tetapi juga tata kelola kelembagaan, kepastian status kawasan, transparansi pendanaan, serta sinergi antarinstansi. Seluruh pihak sepakat bahwa pengelolaan Tahura harus dilaksanakan secara kolaboratif agar mampu menjaga fungsi ekologis sekaligus memberikan manfaat sosial, pendidikan, dan ekonomi secara berkelanjutan.

Menutup kegiatan, moderator menyampaikan bahwa FGD ini bukanlah akhir dari proses diskusi, melainkan menjadi langkah awal penyusunan rekomendasi strategis untuk pengelolaan Tahura Dr. Mohammad Hatta. Seluruh hasil diskusi akan dituangkan dalam notulensi dan rekomendasi bersama sebagai bahan tindak lanjut bagi para pemangku kepentingan. Momentum 50 tahun KOMMA diharapkan menjadi titik awal lahirnya kolaborasi yang lebih kuat dalam menjaga salah satu kawasan konservasi penting di Sumatera Barat demi keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news