
Suasana Sidang Ke-2 Komisi Irigasi DIY Tahun Anggaran 2026 bertajuk Sinergi Kelembagaan Pengelola Irigasi dalam Upaya Adaptasi Bencana Hidrometeorologi di DIY berlangsung di Ruang Rapat A Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM) DIY, Kamis (16/7). Sidang tersebut membahas sinergi kelembagaan pengelola irigasi dalam upaya adaptasi terhadap bencana hidrometeorologi di DIY./ Harian Jogja/Anisatul Umah
JOGJA - Komisi Irigasi DIY mematangkan pola tanam adaptif sebagai strategi menghadapi meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim. Strategi tersebut disusun melalui pengaturan pola tanam dan pengelolaan air irigasi agar risiko gagal panen dapat ditekan sekaligus menjaga ketahanan pangan di DIY.
Pembahasan tersebut mengemuka dalam Sidang Ke-2 Komisi Irigasi DIY Tahun Anggaran 2026 bertema Sinergi Kelembagaan Pengelola Irigasi dalam Upaya Adaptasi Bencana Hidrometeorologi di DIY yang digelar di Ruang Rapat A Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM) DIY, Kamis (16/7).
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kegiatan Pembinaan dan Pemberdayaan Kelembagaan Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) DPUPESDM DIY, Moh. Nur Kholis, mengatakan salah satu tugas pokok Komisi Irigasi sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Permen PUPR) No. 17/PRT/M/2015 tentang Komisi Irigasi ialah merumuskan rencana tata tanam (RTT) yang telah disiapkan oleh dinas atau instansi terkait.
Menurutnya, penyusunan RTT dilakukan dengan mempertimbangkan data debit air di setiap daerah irigasi, sistem pemberian air secara serentak maupun bergolongan, kesesuaian jenis tanaman, serta rencana pembagian dan pemberian air.
"Jadi prinsipnya, ketersediaan air ini kami identifikasi setiap 15 hari. Setiap daerah irigasi kami sudah mengidentifikasi ketersediaan air per meter kubik per detik," ujarnya.
Ia menjelaskan, identifikasi ketersediaan air secara berkala menjadi dasar Komisi Irigasi dalam menyusun rekomendasi pola tanam kepada para pemangku kepentingan.
Hasim Muklis dari Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) DIY mengatakan pembahasan pola tanam adaptif menjadi penting karena perubahan iklim telah memengaruhi pola musim yang semakin sulit diprediksi.
Dalam sambutan Kepala Bapperida DIY Danang Setiadi yang dibacakannya, disebutkan bahwa berbagai fenomena cuaca ekstrem seperti gelombang panas di Eropa, kebakaran hutan, banjir besar di sejumlah wilayah Asia, hingga badai tropis yang merusak infrastruktur dan mengganggu sektor pertanian menunjukkan perubahan iklim sudah menjadi kenyataan.
"Menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi sebuah ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang kita hadapi saat ini," ucapnya.
Pakar Teknik Konservasi Tanah dan Air Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM), Ngadisih, mengatakan mitigasi perlu dilakukan sebelum bencana terjadi, salah satunya melalui pengaturan pola tanam yang disesuaikan dengan kondisi ketersediaan air.
"Dengan mitigasi karena memang tujuan mitigasi itu kan meminimalkan dampak dari satu bencana, maka puso ini kita harapkan dapat kita minimalkan. Bukan berarti kita hilangkan, tapi kita minimalkan," ucapnya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

7 hours ago
4

















































