Ilustrasi Figur yang Dibutuhkan Golkar Sulsel (Dok: Ist).KabarMakassar.com — Direktur Profetik Institute, Asratillah, menilai Musyawarah Daerah Golkar Sulawesi Selatan tahun 2026 akan menjadi momentum paling menentukan bagi masa depan Partai Golkar di Sulsel.
Menurutnya, Musda kali ini bukan sekadar agenda pergantian ketua, tetapi menjadi titik evaluasi atas kemunduran elektoral Golkar dalam dua pemilu terakhir.
Asratillah mengatakan dominasi Golkar di Sulsel yang bertahan selama puluhan tahun mulai runtuh sejak Pemilu 2019 dan semakin terasa pada Pemilu 2024. Ia mengingatkan bahwa Sulsel selama ini dikenal sebagai “lumbung suara” Golkar, namun kini posisi tersebut mulai direbut partai lain, terutama Nasdem.
“Golkar Sulsel sedang menghadapi krisis elektoral dan krisis citra sekaligus. Ini terlihat dari kegagalan mempertahankan dominasi politik di beberapa daerah strategis, termasuk kehilangan kursi Ketua DPRD Sulsel pada Pemilu 2024,” kata Asratillah dalam keterangannya, Rabu (13/05).
Berdasarkan data KPU Sulsel Nomor 740 Tahun 2024, Partai Nasdem memperoleh 887.682 suara, disusul Gerindra 812.563 suara, sementara Golkar berada di posisi ketiga dengan 770.454 suara. Kondisi ini dinilai menjadi alarm serius bagi partai berlambang pohon beringin tersebut.
Menurut Asratillah, kemunduran Golkar bukan semata karena lemahnya struktur partai, tetapi karena perubahan perilaku pemilih yang kini lebih mempertimbangkan figur dan citra kandidat dibanding loyalitas tradisional terhadap partai.
“Pemilih sekarang lebih cair. Mereka melihat integritas figur, kedekatan dengan publik, dan kemampuan menghadirkan harapan baru. Politik hari ini tidak cukup hanya mengandalkan nostalgia kejayaan masa lalu,” ujarnya.
Terkait bursa calon Ketua Golkar Sulsel, Asratillah menilai tiga nama yang selama ini muncul yakni Ilham Arief Sirajuddin atau IAS, Munafri Arifuddin atau Appi, dan Andi Ina Kartika Sari memiliki kekuatan masing masing. IAS dinilai unggul dari sisi pengalaman dan jaringan politik yang luas. Sementara Andi Ina dianggap membawa simbol regenerasi dan energi baru di internal partai.
Namun demikian, Asratillah melihat Munafri Arifuddin memiliki peluang yang cukup relevan dengan kebutuhan Golkar saat ini. Menurutnya, Appi hadir dengan citra yang relatif lebih bersih dan lebih mudah diterima oleh pemilih muda serta kelompok kelas menengah perkotaan.
“Golkar hanya bisa kembali merebut Ketua DPRD Sulsel jika dipimpin figur yang relatif bersih di mata publik. Dalam konteks itu, Appi memiliki modal yang cukup kuat karena dia membawa kesan pembaruan dan tidak terlalu dibebani konflik politik masa lalu,” jelasnya.
Asratillah juga menilai dukungan mayoritas DPD II yang disebut mengarah kepada Appi menunjukkan adanya keinginan akar rumput Golkar untuk menghadirkan perubahan kepemimpinan yang lebih adaptif terhadap perkembangan politik modern.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa dinamika Musda Golkar Sulsel masih sangat cair dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan politik yang tidak terduga.
“Dalam politik Golkar, keputusan akhir sering ditentukan oleh kombinasi antara dukungan daerah dan restu pusat. Karena itu semua kemungkinan masih bisa terjadi sampai menjelang Musda,” tutupnya.


















































