Karhutla 2026 Tembus 202.004 Hektare, El Nino Makin Kuat

6 hours ago 7

Karhutla 2026 Tembus 202.004 Hektare, El Nino Makin Kuat

Petugas gabungan memadamkan kobaran api di Bukit Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Rabu (5/8/2026). ANTARA/HO-BPBD Probolinggo\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA— Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 202.004 hektare. Angka tersebut menjadi yang tertinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama pada dua siklus El Nino sebelumnya, yakni 2019 dan 2023.

Data Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menunjukkan luas karhutla hingga Juli 2026 telah melampaui catatan pada 2019 yang mencapai 137.007 hektare dan 2023 sebesar 92.924 hektare.

Meski demikian, angka tersebut masih jauh di bawah kondisi pada 2015. Saat itu, Indonesia menghadapi El Nino dengan intensitas sangat kuat dan luas karhutla pada Januari-Juli mencapai sekitar 600.000 hektare.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipasi sejak awal tahun untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan.

"Jadi di 2026 [per Juli], 202.000 hektare. Sudah melebihi 2023, melebihi 2019. Tapi dengan gejala El Nino yang tadi diambilkan sama dengan 2015. Ini masih di bawah 2015, karena itu perjuangan kita," ujar Raja Juli dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Selasa (18/8/2026).

Menurut Raja Juli, kondisi tersebut tetap perlu menjadi perhatian karena fenomena El Nino pada 2026 berkembang hingga mencapai intensitas sangat kuat.

Pada awal tahun, El Nino diperkirakan masih berada pada kategori moderat. Namun, intensitasnya kemudian meningkat menjadi kuat dan kini masuk kategori sangat kuat.

"El Nino saat ini berada pada intensitas yang sangat kuat yang harus kita garis bawahi [intensitasnya] sangat kuat," katanya.

Indeks Nino 3.4 Capai 2,19

Salah satu indikator yang menjadi perhatian pemerintah adalah indeks Nino 3.4. Saat ini, indeks tersebut berada di sekitar +2,19.

Kondisi itu menunjukkan suhu muka laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik lebih hangat dibandingkan kondisi normal. Fenomena tersebut berpotensi mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia sehingga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan indeks Nino 3.4 pada dasarian III Juli mencapai +2,45. Sementara nilai bulanannya berada di angka +2,19.

BMKG juga memprediksi intensitas El Nino 2026 masih dapat meningkat hingga kategori sangat kuat.

Raja Juli kemudian membandingkan perkembangan El Nino 2026 dengan kondisi pada 2015. Pada Juli-September 2015, indeks Nino 3.4 berada di sekitar +1,5. Sementara pada November 2015, indeks tersebut mencapai +2,57.

"Ini perbandingan El Nino kita ini yang kita namakan sama dengan 2015. Juli sampai September 2015 indeks Nino-nya hanya plus 1,5. Sementara sekarang sudah 2,9 berarti lebih tinggi dari itu. Namun di bulan November 2015 plus 2,57. Jadi kita berharap kita akan sampai di 2,47 seperti 2015," ujar Raja Juli.

Karhutla 2015 Masih Tertinggi

Meskipun luas karhutla pada 2026 telah melampaui catatan 2019 dan 2023 dalam periode Januari-Juli, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan kondisi pada 2015.

Kemenhut mencatat total luas karhutla nasional selama periode El Nino mencapai sekitar 2,61 juta hektare pada 2015. Angka tersebut kemudian turun menjadi sekitar 1,64 juta hektare pada 2019.

Pada siklus El Nino berikutnya, luas karhutla kembali turun menjadi sekitar 1,16 juta hektare pada 2023.

Perkembangan tersebut menunjukkan adanya penurunan luas karhutla secara nasional dalam beberapa siklus El Nino. Namun, peningkatan luas karhutla pada 2026 menjadi perhatian karena terjadi ketika intensitas El Nino diperkirakan semakin kuat.

Pemerintah pun terus melakukan langkah pengendalian dan antisipasi kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Kondisi cuaca yang lebih kering akibat El Nino dapat meningkatkan potensi kebakaran. Karena itu, pengendalian karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman ketika api muncul, tetapi juga membutuhkan pencegahan dan kesiapsiagaan sejak dini.

Dengan luas karhutla yang telah mencapai 202.004 hektare hingga Juli 2026, perkembangan El Nino dalam beberapa bulan ke depan menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan risiko kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news