IRGC: AS Kehabisan Amunisi

8 hours ago 4

Harianjogja.com, JOGJA—Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) membantah klaim kemenangan yang disampaikan Presiden AS Donald Trump. IRGC bahkan menuding militer Amerika di kawasan Teluk Persia sedang berada dalam kondisi terdesak karena kekurangan amunisi.

Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naeini, di tengah meningkatnya perang narasi antara kedua negara.

Menurut Naeini, pernyataan kemenangan yang disampaikan Gedung Putih tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.

“Kami tahu bahwa amunisi Anda akan segera habis dan Anda mencari jalan keluar yang terhormat dari perang ini,” tegas Naeini kepada kantor berita Tasnim News Agency, Selasa (10/3/2026).

Klaim Berlawanan dari Washington dan Teheran

Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa kekuatan militer Iran telah mengalami kerusakan besar. Dalam wawancara dengan CBS News, Senin (9/3/2026), ia mengeklaim bahwa fasilitas militer Iran—mulai dari Angkatan Laut, Angkatan Udara hingga fasilitas produksi drone—telah lumpuh.

Trump bahkan menyebut konflik tersebut hampir mencapai titik akhir.

Namun, IRGC menuding pernyataan tersebut sebagai upaya menutupi situasi sebenarnya di kawasan.

“Mengapa Anda tidak mengatakan yang sebenarnya kepada rakyat Amerika? Trump tidak ingin orang Amerika tahu bahwa semua infrastruktur militer AS di wilayah Teluk Persia telah dihancurkan,” kata Naeini.

Di sisi lain, muncul pula pernyataan yang dinilai kontradiktif dari pemerintah Amerika. United States Department of Defense melalui akun resminya di platform X menuliskan pesan bernada keras: “Kita Baru Saja Memulai Perang.”

Pernyataan tersebut dinilai bertolak belakang dengan klaim Trump yang menyebut konflik hampir berakhir.

Korban Militer dan Ketegangan di Timur Tengah

Di tengah saling klaim tersebut, militer AS mengonfirmasi bahwa tujuh prajurit Amerika gugur dalam konflik yang pecah sejak akhir Februari 2026.

Salah satu korban adalah Benjamin Pennington, yang tewas dalam serangan di Prince Sultan Air Base.

Upacara penghormatan jenazahnya dihadiri oleh Wakil Presiden AS JD Vance.

Dampak pada Pasokan Energi Global

Selain korban militer, konflik Iran-AS juga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.

Salah satu titik paling krusial adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Sejak 28 Februari 2026, aktivitas di jalur tersebut dilaporkan terganggu akibat meningkatnya ketegangan militer di kawasan.

Situasi ini memicu volatilitas di pasar energi global. Harga minyak mentah AS sempat mengalami koreksi sekitar 10% setelah pernyataan Trump mengenai kemungkinan berakhirnya perang.

Pernyataan Trump Picu Kebingungan

Ketika ditanya mengenai kepastian akhir konflik, Trump justru memberikan pernyataan yang memicu perdebatan baru.

Menurutnya, optimisme terkait berakhirnya perang merupakan pandangan pribadinya.

“Berakhirnya perang itu hanya ada dalam pikiran saya, bukan orang lain,” ujar Trump.

Seiring konflik yang telah memasuki minggu kedua, perhatian dunia kini tertuju pada perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah, terutama terkait perlindungan infrastruktur energi yang berperan penting dalam stabilitas pasokan global.
.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news