Ketua DPC Gerindra Jeneponto juga anggota Komisi E DPRD Sulsel, Vonny Ameliani Suardi (Dok: Sinta KabarMakassar).KabarMakassar.com — Dugaan keracunan makanan yang menimpa belasan siswa SDN 7 Kambutta Toa di Kecamatan Rumbia menjadi sorotan serius berbagai pihak.
Insiden dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) ini dinilai sebagai peringatan keras atas lemahnya pengawasan keamanan pangan di tingkat pelaksana khusunya dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ketua DPC Gerindra Jeneponto juga anggota Komisi E DPRD Sulsel, Vonny Ameliani Suardi, menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak boleh dianggap sepele.
“Ini jadi alarm keras bagi semua pihak. Pengawasan kualitas makanan harus benar-benar diperketat agar kejadian seperti ini tidak terulang,” tegas Vonny dalam keterangannya di akun sosial media, Sabtu (25/04).
Ia mengungkapkan, langkah awal yang telah diambil adalah penghentian sementara operasional dapur penyedia MBG di wilayah tersebut.
“Dapurnya sudah disuspend sampai waktu yang belum ditentukan. Kalau disuspend, otomatis tidak ada aktivitas, termasuk sewa,” jelasnya.
Vonny menilai, meskipun insiden ini tidak diinginkan oleh pihak manapun, pembenahan menyeluruh tetap menjadi keharusan, terutama pada rantai akhir penyajian makanan.
“Relawan dan pekerja di lapangan harus menjadi garda terakhir yang memastikan makanan benar-benar layak dikonsumsi,” ujarnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan pengawasan, Vonny juga turun langsung menjenguk para siswa yang menjadi korban.
“Kami sudah mengunjungi anak-anak di rumah sakit, memberikan semangat dan sedikit bantuan. Semoga mereka segera pulih dan tidak mengalami kejadian serupa lagi,” katanya.
Sebelumnya telah diberitakan, Bupati Jeneponto Paris Yasir bergerak cepat merespons insiden tersebut dengan mengambil alih koordinasi penanganan. Ia memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan maksimal dan penyebab kejadian segera diungkap.
“Saya sudah perintahkan Dinas Kesehatan dan puskesmas untuk segera melakukan penanganan serta identifikasi penyebabnya,” tegas Paris Yasir.
Tidak hanya fokus pada penanganan medis, Bupati juga memerintahkan investigasi menyeluruh terhadap dapur penyedia MBG. Tim gabungan dari unsur PSC, Kesehatan Lingkungan, hingga surveilans Kejadian Luar Biasa (KLB) diterjunkan untuk menelusuri sumber masalah di Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontomanai.
Pemerintah daerah ingin memastikan apakah insiden tersebut dipicu oleh bahan baku, proses pengolahan, atau distribusi makanan.
Langkah cepat ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak akan mentolerir kelalaian dalam program yang menyangkut kesehatan anak-anak. Evaluasi total terhadap sistem pengawasan pangan pun diminta segera dilakukan.
Hingga kini, puluhan siswa yang sempat dirawat di Puskesmas Tompobulu serta satu siswa di Puskesmas Rumbia dilaporkan dalam kondisi membaik setelah mendapatkan perawatan intensif berupa infus dan obat-obatan.
Meski demikian, Bupati menegaskan pemantauan ketat tetap dilakukan hingga seluruh korban benar-benar pulih.
Kasus ini kini menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan DPRD Sulsel sebagai bahan evaluasi menyeluruh, agar program bantuan pangan tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga aman dan layak dikonsumsi.


















































