Harianjogja.com, JOGJA—Harga rumah di Jogja semakin sulit dijangkau sebagian keluarga muda dan pekerja dengan penghasilan terbatas. Kondisi tersebut tidak lepas dari kenaikan biaya pembangunan, terutama harga tanah dan material bangunan.
Sekretaris DPD Real Estate Indonesia (REI) DIY, Ngatijan Suryo Sutiarso, mengatakan kenaikan sejumlah material bangunan yang menjadi komponen pembangunan rumah diperkirakan mencapai sekitar 25%.
Material yang mengalami kenaikan antara lain besi, cat, keramik hingga semen.
“Karena ada kenaikannya itu besi, ada cat, keramik, semen. Itu naiknya kan dirata-rata sekitar 25%-an,” kata Ngatijan, Rabu (16/9/2026).
Menurut Ngatijan, angka 25% tersebut merupakan kisaran kenaikan biaya material yang menjadi dasar masukan REI kepada pemerintah agar harga rumah subsidi dapat ditinjau kembali.
Saat ini, harga jual rumah subsidi di wilayah Jawa, termasuk DIY, masih berada di angka Rp166 juta.
Harga Tanah Jadi Beban Pengembang
Kenaikan biaya pembangunan rumah tidak hanya berasal dari material. Harga tanah juga menjadi persoalan yang cukup berat bagi pengembang, terutama di wilayah yang lokasinya masih relatif dekat dengan Kota Jogja.
“Kalau harga rumah itu kan pasti kenaikannya yang sangat dominan kan harga tanah, terus harga material,” ujarnya.
Kondisi tersebut turut menyulitkan penyediaan rumah subsidi di kawasan penyangga Kota Jogja. Ngatijan mengatakan harga tanah di sejumlah wilayah Bantul dan Sleman sudah sulit masuk dalam perhitungan pembangunan rumah subsidi.
Pengembang kemudian mulai melirik wilayah lain yang masih memiliki ketersediaan tanah dengan harga yang memungkinkan untuk pembangunan hunian subsidi.
Gunungkidul menjadi salah satu wilayah yang dilirik karena ketersediaan lahannya masih memungkinkan. Sementara Kulonprogo juga dinilai memiliki peluang, meski pasar di wilayah tersebut menurut Ngatijan belum sebesar kawasan yang lebih dekat dengan Kota Jogja.
Persoalan muncul ketika lokasi rumah semakin jauh dari pusat aktivitas. Kondisi itu tidak selalu sesuai bagi pekerja yang setiap hari harus beraktivitas di Kota Jogja dan sekitarnya.
Karena itu, Ngatijan menilai kenaikan harga rumah subsidi diperlukan agar pengembangan hunian dapat dilakukan di lokasi yang lebih dekat dengan pusat kegiatan masyarakat.
“Kalau bisa kemarin di-support ada kenaikan untuk harga jual, sekarang kan 166, nah mungkin bisa naik 25% gitu ya mungkin oke lah,” katanya.
Daya Beli Ada, Pilihan Rumah Terbatas
Dari sisi permintaan, Ngatijan mengatakan daya beli masyarakat untuk rumah sebenarnya masih cukup kuat. Hal tersebut berkaitan dengan kebutuhan hunian yang masih tinggi di DIY.
Persoalannya, rumah yang sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat tidak selalu berada di lokasi yang dekat dengan tempat kerja.
Rumah subsidi yang masih memungkinkan dibangun dengan harga tanah terjangkau justru banyak berada di wilayah yang jaraknya cukup jauh dari Kota Jogja. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pekerja yang membutuhkan akses ke pusat aktivitas.
Gambaran tersebut juga dirasakan Dimas Septian, 29, pengusaha muda yang tinggal di Umbulharjo, Kota Jogja.
Pria yang sudah berkeluarga tersebut mengaku belum berencana membeli rumah di Jogja karena harga hunian dinilai terlalu tinggi dibandingkan kemampuan ekonominya.
“Kalau beli rumah di Jogja menurut kita agak mustahil. Saya kan pengusaha UMKM. Misalkan pendapatan Rp8 juta, untuk saya yang sudah berkeluarga saja pun masih kurang untuk beli rumah di Jogja yang mungkin Rp300 jutaan ke atas,” katanya.
Saat ini Dimas memilih menyewa rumah sembari menjalankan usahanya. Jika nantinya memiliki kemampuan untuk membeli rumah, dia mempertimbangkan membeli hunian di kampung halamannya di Purworejo, Jawa Tengah, yang menurutnya masih lebih terjangkau.
Pekerja Swasta Juga Kesulitan
Keluhan serupa disampaikan Alvin Nurashari, 26, pegawai swasta di Sleman. Dengan penghasilan yang belum mencapai Rp5 juta per bulan, dia mengaku belum memiliki gambaran kapan dapat membeli rumah, termasuk rumah subsidi.
“Sebagai budak korporat swasta di Jogja yang gajinya enggak sampai Rp5 juta sih berat sekali buat bisa beli rumah. Sampai sekarang saya belum kebayang kapan bisa beli rumah,” ujarnya.
REI Dorong Bank Tanah untuk Rumah Subsidi
Melihat kondisi tersebut, REI DIY mendorong pemerintah daerah ikut menekan biaya penyediaan rumah. Salah satunya dengan memetakan kawasan yang dapat dikembangkan sebagai hunian penyangga Kota Jogja.
REI juga mengusulkan penyediaan lahan khusus atau bank tanah untuk pembangunan rumah subsidi. Selain itu, kemudahan dalam Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) serta perizinan juga diusulkan untuk membantu menekan biaya pembangunan.
Ngatijan menilai kawasan hunian subsidi idealnya tidak hanya berisi rumah. Fasilitas pendukung seperti sekolah dan pasar juga perlu tersedia.
Dengan konsep tersebut, pembangunan rumah subsidi di kawasan penyangga diharapkan tidak sekadar memindahkan masyarakat berpenghasilan rendah ke wilayah yang semakin jauh dari pusat aktivitas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

3 hours ago
2

















































