Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin (Dok: Sinta KabarMakassar)KabarMakassar.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mulai menggeser strategi pengembangan pertanian dari pola konvensional ke pemanfaatan teknologi.
Langkah ini disiapkan untuk menghadapi keterbatasan lahan sekaligus ancaman musim kering dan perubahan iklim.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi mengatakan, pembangunan greenhouse berbasis Internet of Things (IoT) menjadi salah satu opsi yang tengah dirancang pemerintah agar produktivitas tanaman tidak sepenuhnya ditentukan kondisi cuaca.
“Dengan greenhouse, kita berharap ke depan tidak lagi terlalu tergantung dengan cuaca, tetapi bagaimana produktivitas pertanian ini bisa memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Appi saat menghadiri Musyawarah Tani “Abbulo Sibatang” Kelompok Tani Bontoa di Jalan Andi Patturungi, Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Kamis (20/08).
Menurut Appi, keterbatasan lahan membuat Makassar tidak bisa terus mengandalkan metode pertanian konvensional. Teknologi dinilai menjadi kunci untuk memaksimalkan lahan yang tersedia.
“Dengan lahan yang tidak tersedia dalam jumlah besar, kita berharap pembangunan ke depan menggunakan teknologi-teknologi pertanian,” ujarnya.
Ancaman perubahan iklim juga menjadi alasan pemerintah memperkuat intervensi teknologi. Musim kering berkepanjangan, kata Appi, mulai berdampak terhadap ketersediaan air yang dibutuhkan masyarakat maupun petani.
Karena itu, pengembangan pertanian diarahkan tidak hanya untuk mempertahankan produksi, tetapi juga meningkatkan indeks pertanaman dan luas tambah tanam.
Appi mencontohkan lahan sawah sekitar 20 hektare di Makassar yang saat ini telah memasuki musim tanam kedua. Dengan pengelolaan dan dukungan teknologi, lahan tersebut dinilai berpeluang ditingkatkan hingga tiga kali tanam dalam setahun.
“Ini kan musim tanam kedua, mereka sudah bisa panen. Luasannya kurang lebih 20 hektare. Kemudian bisa tiga kali tanam. Ini sangat luar biasa,” katanya.
Setiap hektare lahan tersebut, lanjut Appi, berpotensi menghasilkan sekitar 6 hingga 7 ton padi. Potensi itu dinilai harus dijaga melalui dukungan sarana produksi dan teknologi.
Pemerintah Kota Makassar juga menyalurkan sejumlah bantuan kepada kelompok tani dalam kegiatan tersebut. Bantuan meliputi 2.000 liter pupuk organik cair, 2.365 kilogram benih padi sebar, lima unit kultivator, 20 unit hand sprayer elektrik, serta dua unit pompa air pinggang 3 inch.
Appi menegaskan, penerapan teknologi tidak berarti pemerintah meninggalkan lahan persawahan. Produksi sawah tetap didorong melalui peningkatan intensitas tanam dan dukungan alat pertanian.
“Kalau sawah, tetap kita akan jalan juga dengan meningkatkan intensitas panennya dan tentu akan disupport dengan teknologi yang ada,” tegasnya.
Ketahanan Pangan dan Inflasi
Bagi Appi, penguatan pertanian Makassar tidak hanya menyangkut peningkatan kesejahteraan petani. Produksi pangan lokal juga berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan pengendalian inflasi.
Sebagai kota metropolitan, Makassar masih bergantung pada pasokan pangan dari daerah-daerah penghasil. Namun ketergantungan itu dinilai perlu dikurangi dengan meningkatkan kemampuan produksi pangan di dalam kota.
“Kalau ketahanan pangan tidak bisa terjaga, inflasi kita pasti akan sangat tinggi. Maka dari itu, kita tidak boleh tergantung sepenuhnya dari daerah-daerah penghasil,” katanya.
Konsep urban farming pun didorong sebagai strategi memanfaatkan lahan-lahan sempit di perkotaan. Teknologi pertanian akan dikombinasikan dengan pengelolaan lingkungan dan keterlibatan masyarakat.
Appi bahkan meminta pengembangan urban farming disinkronkan dengan pengelolaan sampah, khususnya sampah organik yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.
“Harus ada sinkronisasi sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan pertanian lahan sempit atau urban farming,” ujarnya.
“Ini harus kita tumbuhkan setiap hari di Kota Makassar,” sambungnya singkat.
Menurut Appi, Dinas Pertanian dan Perikanan memiliki peran penting untuk memastikan inovasi tersebut tidak berhenti pada bantuan alat, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan kepada petani.
Pemerintah juga mendorong agar hasil pertanian memiliki nilai komersial sehingga peningkatan produksi berujung pada peningkatan pendapatan petani.
“Inilah yang akan menjadi pola komunikasi antara petani dengan pemerintah atau stakeholder yang berhubungan langsung dengan mereka,” katanya.
Appi memastikan pemerintah akan terus mengkaji program yang dapat menjaga keberlangsungan pertanian Makassar di tengah keterbatasan lahan, tekanan perubahan iklim, serta kebutuhan pangan yang terus meningkat.
“Harapan kita, bagaimana kehidupan masyarakat ini tetap bisa berjalan dengan baik, tetap bisa berjalan seimbang di tengah berbagai macam persoalan yang ada,” tukas Appi.


















































