Jumali Rabu, 24 Juni 2026 09:07 WIB

Cuaca panas - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa memicu krisis serius dengan korban jiwa dan gangguan luas di berbagai negara. Pemerintah Prancis melaporkan sedikitnya 40 orang meninggal dunia sejak Kamis (18/6/2026) akibat insiden yang berkaitan dengan suhu ekstrem.
Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menyampaikan bahwa sebagian besar korban merupakan anak muda yang tewas tenggelam saat berusaha mencari kesejukan di tengah suhu yang sangat tinggi.
“Angka terbaru yang dilaporkan kepada kami adalah 40 kematian sejak 18 Juni, sebagian besar di kalangan anak muda. Mereka merupakan korban pertama dari krisis yang kita hadapi,” ujarnya dalam rapat darurat pemerintah yang dikutip oleh BBC.
Menteri Olahraga dan Pemuda Prancis Marina Ferrari mengingatkan masyarakat agar tidak berenang di area yang tidak diawasi selama periode gelombang panas.
“Berenang di area yang tidak diawasi selama gelombang panas bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan,” katanya melalui siaran radio setempat.
Korban Didominasi Insiden Tenggelam
Sebagian besar korban jiwa terjadi akibat warga yang nekat berenang di sungai, kanal, dan area berbahaya untuk menghindari panas ekstrem.
Di antaranya terdapat seorang anak perempuan berusia 13 tahun yang tenggelam di Sungai Seine saat berenang bersama keluarganya meski tidak bisa berenang. Seorang pesepak bola muda juga dilaporkan kritis setelah diselamatkan dari Sungai Rhône.
Di kota Carpentras, Prancis selatan, dua balita ditemukan meninggal di dalam mobil yang terparkir di halaman rumah akibat suhu ekstrem.
Rekor Suhu Terpanas
Prancis mencatat hari Juni terpanas sepanjang sejarah dengan suhu rata-rata nasional mencapai 29,8°C, melampaui rekor sebelumnya pada 2003 dan 2019. Badan cuaca Météo-France juga menempatkan lebih dari separuh wilayah Prancis dalam peringatan gelombang panas tingkat merah.
Gelombang panas ini juga berdampak pada aktivitas publik. Sejumlah ikon wisata seperti Menara Eiffel dan Museum Louvre terpaksa menyesuaikan jam operasional, bahkan ditutup lebih awal demi keselamatan pengunjung.
Transportasi dan Infrastruktur Terganggu
Dampak panas ekstrem juga melumpuhkan transportasi publik di wilayah Île-de-France. Otoritas setempat mengimbau warga untuk bekerja dari rumah karena suhu rel dan infrastruktur kereta yang tidak mampu menahan panas ekstrem.
Hampir 2.700 sekolah di Prancis juga ditutup atau mengubah jadwal belajar. Selain itu, satu pembangkit listrik tenaga nuklir terpaksa berhenti beroperasi karena suhu air pendingin melebihi ambang batas.
Situasi Serupa di Negara Lain
Di Spanyol, suhu mencapai lebih dari 44°C di beberapa wilayah, dengan puluhan stasiun cuaca mencatat suhu di atas 40°C. Sementara di Italia, pemerintah menetapkan status siaga merah di 15 kota besar termasuk Roma dan Milan.
Gangguan juga terjadi pada transportasi umum, termasuk bus listrik yang mengalami penurunan performa akibat penggunaan pendingin udara intensif.
Dampak Perubahan Iklim
Data layanan iklim Copernicus Climate Change Service menunjukkan bahwa Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia, dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga menegaskan bahwa peningkatan suhu ekstrem yang lebih sering dan intens merupakan dampak nyata dari perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
1

















































