Gawat! Hampir Separuh Gen Z Tak Punya Dana Darurat

3 hours ago 5

Harianjogja.com, JOGJA—Kebiasaan menghabiskan uang untuk kesenangan sesaat atau doomspending semakin menjadi perhatian di kalangan Generasi Z (Gen Z). Di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi, sebagian anak muda justru kesulitan menyisihkan uang untuk menghadapi kebutuhan mendadak.

Kondisi itu tercermin dalam analisis pengembang aplikasi fintech Frich. Sebanyak 47% responden Gen Z disebut tidak memiliki dana darurat, berdasarkan analisis anonim terhadap komunitas Frich yang beranggotakan sekitar satu juta pengguna Gen Z.

Analisis tersebut menyoroti pandangan anak muda mengenai target menabung, tekanan finansial, serta pilihan yang mereka ambil ketika menghadapi kondisi keuangan darurat.

Pakar keuangan pribadi sekaligus Certified Financial Planner (CFP) Bobbi Rebell menilai situasi itu tidak terlepas dari tekanan ekonomi yang dialami generasi muda dalam beberapa tahun terakhir.

"Masuk akal jika mereka merasa seperti itu, mengingat berbagai kemunduran ekonomi selama beberapa tahun terakhir," kata Rebell, dikutip dari Fortune, Kamis (20/8/2026).

Apa Itu Doomspending?

Doomspending merupakan perilaku menghabiskan uang, terutama untuk barang atau pengalaman yang memberikan kepuasan instan, ketika seseorang merasa pesimistis atau tidak memiliki kendali terhadap kondisi ekonomi dan masa depannya.

Ketidakpastian ekonomi, gejolak politik, serta tingginya penggunaan media sosial disebut ikut memengaruhi perilaku tersebut.

Bagi sebagian Gen Z, menabung bahkan dianggap sebagai sesuatu yang sulit dilakukan atau tidak memberikan hasil yang sepadan. Kekhawatiran finansial yang mereka hadapi dinilai tidak selalu dipahami, sementara nasihat keuangan konvensional dianggap kurang sesuai dengan realitas kehidupan mereka.

Situasi itu turut mendorong anak muda mencari informasi mengenai keuangan dari sumber yang lebih dekat dengan keseharian mereka, seperti influencer di TikTok hingga komunitas daring.

Utang Lebih Besar daripada Tabungan

Tekanan finansial yang dialami Gen Z juga terlihat dalam laporan terbaru Bankrate mengenai tabungan darurat.

Sebanyak 27% Gen Z tercatat memiliki utang yang jumlahnya lebih besar dibandingkan tabungan mereka. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan memenuhi pengeluaran saat ini dan kemampuan membangun cadangan keuangan.

Padahal, Gen Z tetap mempunyai sejumlah target finansial jangka panjang. Data Frich menunjukkan lebih dari 20% Gen Z ingin menabung untuk membeli rumah pertama.

Co-founder sekaligus Chief Product Officer Frich Aleksandra Medina mengatakan situasi ekonomi saat ini membuat Gen Z semakin sulit memprioritaskan tabungan.

"Banyak Gen Z berada dalam situasi keuangan yang serba sulit, terjebak antara membayar kebutuhan saat ini atau menyisihkan uang untuk keadaan darurat dan membeli barang menggunakan kredit," ujar Medina.

Ketika berbagai target keuangan terasa semakin sulit dicapai, sebagian anak muda kemudian memilih mengeluarkan uang untuk barang atau pengalaman yang memberikan kepuasan secara langsung.

Saat Darurat, Gen Z Pilih Utang atau Keluarga

Persoalan baru muncul ketika kebutuhan mendadak datang sementara tabungan tidak mencukupi.

Riset Frich menunjukkan hampir sepertiga Gen Z akan meminta bantuan anggota keluarga ketika menghadapi masalah keuangan secara tiba-tiba. Sementara itu, sekitar 25% memilih mengambil utang tambahan.

Pilihan tersebut dapat memberikan solusi dalam jangka pendek, tetapi berpotensi menambah tekanan finansial apabila utang sulit dilunasi.

Rebell menyarankan anak muda mempertimbangkan kembali dampak pembelian impulsif. Salah satunya dengan melihat bagaimana perasaan setelah berbelanja dan berapa lama kepuasan tersebut bertahan.

Gen Z juga perlu mempertimbangkan cara menghadapi kondisi darurat jika tidak memiliki tabungan serta kemampuan melunasi utang apabila harus kembali meminjam uang.

Menurut Rebell, pendekatan kepada Gen Z tidak cukup dilakukan dengan sekadar memberikan nasihat mengenai pentingnya menabung.

"Kuncinya adalah mendengarkan, bukan menggurui," ujarnya.

Sudah Punya Dana Darurat, tetapi Masih Tipis

Meski 47% responden belum memiliki dana darurat, survei Frich menunjukkan 53% responden mengaku sudah memilikinya.

Namun, jumlah dana yang dikumpulkan rata-rata masih kurang dari US$7.000 atau sekitar Rp114 juta, dengan asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS.

Jumlah tersebut memang cukup besar bagi sebagian orang. Akan tetapi, kebutuhan seperti kehilangan pekerjaan, kecelakaan, atau pengeluaran tidak terduga dapat menguras dana dalam waktu relatif singkat.

Karena itu, Rebell menyarankan anak muda mulai membangun dana darurat secara otomatis, terutama melalui rekening yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Jumlah setoran tidak harus langsung besar. Menurut Rebell, seseorang dapat memulai dari US$20 hingga US$40 atau sekitar Rp326.000-Rp652.000 setiap menerima gaji, kemudian meningkatkan nominalnya secara bertahap.

Yang tidak kalah penting, dana darurat harus mudah dicairkan ketika dibutuhkan.

Presiden United Financial Planning Group Gerry Barrasso mengingatkan bahwa likuiditas menjadi salah satu faktor penting ketika memilih tempat menyimpan dana darurat.

"Dana darurat harus likuid, kalau tidak maka tidak ada gunanya. Anda harus bisa mengakses uang tersebut dengan segera," kata Barrasso.

Menurut Barrasso, rekening tabungan dengan biaya rendah atau tanpa biaya serta rekening pasar uang dapat menjadi pilihan. Menyimpan seluruh dana di rekening giro memang memberikan akses cepat, tetapi biasanya tidak menghasilkan bunga secara optimal.

Menabung Bisa Dimulai dari Nominal Kecil

Medina menilai tekanan finansial yang semakin besar membuat Gen Z memiliki ruang yang lebih sempit untuk menabung dengan pola yang sama seperti generasi sebelumnya.

Persoalan serupa sebenarnya tidak hanya dialami Gen Z. Bankrate mencatat hampir sepertiga warga Amerika Serikat memiliki utang kartu kredit yang lebih besar daripada jumlah tabungan mereka.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti membangun dana darurat harus ditunda sampai memiliki penghasilan besar.

Menabung dapat dimulai dari nominal kecil dan dilakukan secara konsisten. Dengan memisahkan dana untuk kebutuhan darurat sejak menerima penghasilan, uang yang disiapkan untuk kondisi tak terduga tidak mudah terpakai untuk pembelian impulsif.

Pada akhirnya, persoalan doomspending bukan sekadar tentang kebiasaan berbelanja. Tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, utang, dan minimnya dana darurat saling berkaitan dalam membentuk kondisi keuangan anak muda.

Karena itu, membangun dana darurat secara bertahap dapat menjadi salah satu langkah untuk menciptakan ruang finansial yang lebih aman, tanpa harus menghilangkan seluruh pengeluaran untuk kebutuhan hiburan dan kesenangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news