Dari TKD Mangkrak, Pleret Kembangkan Pertanian Berbasis IoT dan AI

2 hours ago 6

Harianjogja.com, BANTUL—Tanah Kas Desa (TKD) yang sebelumnya mangkrak di Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, kini mulai dimanfaatkan sebagai lahan percontohan pertanian berbasis Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Lahan seluas sekitar 5.500 meter persegi di Banyu Kencono tersebut disulap menjadi laboratorium pertanian dengan minim sentuhan manusia. Bawang merah dan pare ditanam berdampingan, sementara cabai disiapkan di bedeng berikutnya.

Bukan jenis tanamannya yang membuat lahan ini berbeda. Di antara bedeng tanaman, terpasang berbagai sensor yang menjadi "mata" bagi sistem pertanian berbasis IoT dan AI.

Proyek percontohan ini dirancang untuk membuktikan bahwa aktivitas bertani tidak harus selalu identik dengan mencangkul, menyiram, atau memperkirakan kondisi tanaman berdasarkan pengalaman. Data mulai digunakan untuk membantu pengelolaan lahan.

Dari Ilmu Titen ke Pertanian Berbasis Data

Lurah Pleret, Taufiq Kamal, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari keinginan mengembangkan pertanian yang lebih modern sekaligus meningkatkan nilai ekonomi aset kalurahan.

Pleret, menurutnya, memiliki sejarah panjang sebagai kawasan yang berkaitan dengan ketahanan pangan. Karena itu, pengembangan sektor pertanian menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali potensi tersebut.

"Pengennya itu mengganti dari angan-angannya petani, dari nilai titen itu menjadi akademik, semua pakai data," kata Taufiq, Jumat (21/8/2026).

Konsep pertanian terpadu tersebut memanfaatkan TKD yang pengelolaannya diarahkan melalui Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal). Lahan Banyu Kencono menjadi lokasi tahap awal dengan luasan sekitar setengah hektare.

Taufiq memilih membuat contoh terlebih dahulu sebelum mengajak petani lain menerapkan pola serupa. Selama hampir enam tahun menjabat, dia mengaku menghadapi kesulitan untuk mengajak anak-anak muda masuk ke sektor pertanian.

"Tujuan kami adalah nanti supaya kalau seperti ini pertanian jadi menarik," ujarnya.

Di lahan percontohan itu, tiga komoditas disiapkan sekaligus untuk mengurangi risiko apabila harga salah satu komoditas jatuh ketika panen. Bawang merah ditempatkan di bagian tengah, pare berada di salah satu bedeng, sedangkan cabai direncanakan ditanam di bagian lainnya.

Pola tersebut menjadi bagian dari konsep pertanian terpadu yang ingin dikembangkan Pleret. Pengembangannya nantinya tidak berhenti pada tanaman, tetapi terhubung dengan peternakan, pengolahan pupuk organik, kuliner, hingga wisata pertanian.

Sensor Memantau Kondisi Lahan

Pengelola pertanian terpadu Pleret, Saifuddin, menjelaskan sejumlah sensor dipasang untuk membaca kondisi lahan secara berkala. Sensor tersebut antara lain mengukur kelembapan tanah, kelembapan udara, dan temperatur atau kondisi cuaca.

Data dari sensor dikirim secara daring ke perangkat utama. Informasi tersebut kemudian ditampilkan melalui aplikasi Blynk dan dashboard berbasis website sehingga kondisi lahan dapat dipantau tanpa harus berada langsung di sawah.

Salah satu sistem yang telah disiapkan adalah otomatisasi penyiraman. Sensor kelembapan tanah menjadi pemicu sistem untuk menentukan kapan pompa harus bekerja.

Ketika kelembapan turun hingga batas yang telah ditentukan, pompa akan menyala secara otomatis. Sebaliknya, pompa berhenti ketika tanah sudah mencapai tingkat kelembapan yang ditetapkan.

"Kalau kami setting minimal 10, di bawah 10 itu kelihatan kering, nanti pompa akan nyala sendiri," kata Saifuddin.

Sistem pertanian tersebut juga memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi. Solar cell dipilih karena pompa membutuhkan daya cukup besar, sedangkan kapasitas listrik PLN di lokasi belum mencukupi.

Meski sejumlah pekerjaan telah diotomatisasi, peran manusia tetap diperlukan. Saifuddin mengatakan pengawasan masih dilakukan untuk memastikan sistem penyiraman berjalan normal sekaligus mengantisipasi gangguan pada perangkat.

Ke depan, teknologi tersebut ditargetkan tidak hanya mengatur penyiraman. Sistem pemupukan juga dirancang dapat dikembangkan menggunakan data pH tanah.

Pupuk cair yang berasal dari pengolahan limbah peternakan, seperti urin dan kotoran ternak, nantinya dapat dicampurkan sesuai kebutuhan tanaman.

Investasi Awal Rp73 Juta

Taufiq mengatakan proyek pertanian tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk mengejar hasil panen. Lahan Banyu Kencono disiapkan sebagai tempat belajar sekaligus pijakan untuk membangun ekosistem ekonomi baru di Pleret.

Pengembangan pertanian itu mendapat dukungan melalui BKK Desa Mandiri Budaya yang bersumber dari Dana Keistimewaan DIY. Investasi awal untuk kegiatan pertanian dan peralatan disebut sekitar Rp73 juta, termasuk sekitar Rp67,5 juta untuk peralatan.

Dana tersebut tidak ingin digunakan sekadar untuk membangun proyek baru yang berpotensi berhenti di tengah jalan. Taufiq ingin aset yang sudah tersedia kembali produktif sekaligus menghasilkan perputaran ekonomi.

"Ini harus investasi yang jelas. Kenapa? Kalau pertanian besok dapat keuntungan, itu bisa dikembangkan untuk pemutar," katanya.

Pengembangan pertanian juga diarahkan terhubung dengan peternakan domba. Pleret telah memulai breeding dan penggemukan domba melalui dukungan anggaran sebelumnya.

Limbah dari peternakan tersebut kemudian diarahkan menjadi bahan pupuk untuk pertanian. Dengan demikian, sektor pertanian dan peternakan diharapkan dapat saling mendukung dalam konsep usaha terpadu.

Targetnya Terhubung dengan Wisata dan Kuliner

Dari pertanian dan peternakan, Taufiq membayangkan rantai usaha yang lebih panjang. Hasil pertanian dapat menjadi bagian dari wisata dan kuliner, sedangkan hasil peternakan dapat diarahkan hingga ke usaha sate.

"Pengennya dari hulu sampai hilir itu besok ada di Pleret," ujarnya.

Jika berhasil, model tersebut tidak hanya diterapkan di lahan milik kalurahan. BUMKal nantinya diharapkan dapat menyediakan pengetahuan, pupuk, perangkat, dan pendampingan bagi petani muda yang memiliki lahan sendiri.

Dengan pola tersebut, teknologi yang kini masih diuji di lahan 0,5 hektare Banyu Kencono dapat direplikasi ke lahan lain.

Bagi Taufiq, inti proyek bukan sekadar membuat pompa menyala sendiri ketika tanah mengering. Lebih jauh, ia ingin pertanian menjadi usaha yang bisa dihitung, dianalisis, dan dikembangkan berdasarkan data.

Petani, dalam bayangannya, tidak lagi sekadar menjadi pekerja di lahannya sendiri. Mereka menjadi pengelola usaha yang dapat memantau kondisi tanaman melalui layar, membaca peluang keuntungan, serta mengambil keputusan dengan bantuan teknologi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news