CNG Jadi Alternatif LPG, PGN Gagas Perluas Pasar di Jogja

1 hour ago 6

Harianjogja.com, SLEMAN—Upaya pemerintah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor membuka peluang bagi penggunaan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif energi. PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN) melalui anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia atau PGN Gagas, kini memperluas pemanfaatan CNG di sejumlah wilayah, termasuk Jogja dan Jawa Tengah bagian Selatan.

Pengembangan CNG dilakukan melalui skema klasterisasi jaringan gas rumah tangga serta CNG point to point untuk pelanggan komersial. Langkah tersebut menjadi salah satu cara memperluas pemanfaatan gas bumi ke wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa karena lokasinya relatif jauh dari sumber gas.

Namun, ekspansi CNG masih menghadapi tantangan. Ketersediaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang terbatas dan jaringan distribusi yang belum merata membuat pemanfaatan CNG belum mudah mencapai skala keekonomian.

Selain itu, tabung CNG untuk pelanggan komersial berukuran sekitar 180 kilogram saat ini masih bergantung pada impor, terutama dari China dan Eropa.

CNG Memperluas Pilihan Energi

Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan mengatakan CNG perlu ditempatkan sebagai salah satu pilihan energi bagi masyarakat dan pelaku usaha. Pemanfaatannya tidak semata-mata diarahkan untuk menggantikan energi yang selama ini digunakan.

“Bagi kami, penggunaan CNG ini bukan soal menggantikan satu energi dengan energi lainnya, tetapi memperluas pilihan. Jadi masyarakat punya pilihan sumber energi yang akan digunakan,” kata Santiaji di Sleman, Rabu (19/8/2026).

Menurut Santiaji, masyarakat dan pelaku usaha membutuhkan sumber energi yang beragam, andal, terjangkau, serta berbasis sumber daya dalam negeri. CNG menjadi salah satu opsi yang dapat dikembangkan secara bertahap dengan tetap mempertimbangkan aspek keekonomian, kesiapan infrastruktur, dan kebutuhan pasar.

Dari sisi pasokan, CNG memiliki keunggulan karena menggunakan gas bumi dalam negeri. Kondisi tersebut berbeda dengan LPG yang sebagian besar kebutuhannya masih bergantung pada impor.

Selain itu, penggunaan CNG menawarkan efisiensi biaya bagi pelanggan. Berdasarkan perhitungan PGN Gagas, penghematan biaya dapat mencapai sekitar 20% hingga 30%, tergantung pola penggunaan.

CNG Point to Point Layani 20 Pelanggan

Untuk memperluas pemanfaatan CNG, PGN Gagas mengembangkan skema CNG point to point di Jawa Tengah bagian Selatan dan Jogja. Layanan tersebut telah melayani 20 pelanggan dengan total volume penyaluran sekitar 74.000 meter kubik per bulan.

Wilayah layanan CNG point to point mencakup sejumlah lokasi di Sukoharjo, Jogja, dan Magelang. Di Jogja, Bakpia Tugu Jogja tercatat sebagai pelanggan dengan kebutuhan terbesar, yakni sekitar 50.000 meter kubik.

Pelanggan lainnya adalah restoran Payakumbuah dengan kebutuhan sekitar 2.000 meter kubik dan Platinum Hotel sekitar 1.500 meter kubik.

Sementara di Sukoharjo, CNG telah digunakan oleh Bening Big Tree dengan kebutuhan sekitar 3.000 meter kubik. Ada pula 12 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG dengan total kebutuhan sekitar 12.000 meter kubik serta Aston Hotel Solo sekitar 1.500 meter kubik.

Di Magelang, terdapat dua titik SPPG dengan volume sekitar 2.000 meter kubik dan PGN Balkondes sekitar 2.000 meter kubik.

Restoran di Jogja Hemat hingga 30%

Manager Payakumbuah Jogja Adi Saputro mengatakan restoran tersebut menggunakan sekitar 1.900 hingga 2.000 meter kubik CNG setiap bulan dengan harga sekitar Rp13.500 per meter kubik.

Menurut dia, penggunaan CNG mampu menekan pengeluaran energi hingga sekitar 30%. Sebelum menggunakan CNG, pengeluaran energi dapat mencapai sekitar Rp40 juta per bulan, kemudian turun menjadi sekitar Rp25 juta hingga Rp27 juta setelah beralih menggunakan CNG.

Meski demikian, Santiaji mengakui ketersediaan SPBG atau mother station yang belum merata menjadi salah satu kendala ekspansi CNG.

“Kendalanya itu, tidak semua lokasi ada SPBG. Tapi kami terus mendorong supaya CNG bisa digunakan di lebih banyak wilayah,” ujarnya.

Pemerintah Bidik Efisiensi Subsidi LPG

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah menargetkan implementasi penggunaan CNG dapat dilakukan secepatnya setelah seluruh tahapan uji coba selesai.

Selain dinilai lebih murah dibandingkan dengan liquefied petroleum gas (LPG), penggunaan CNG juga berpotensi mengurangi beban subsidi energi negara hingga puluhan triliun rupiah.

Bahlil mengatakan salah satu keunggulan utama CNG adalah harga yang lebih kompetitif dibandingkan LPG. Berdasarkan perhitungan pemerintah, biaya penggunaan CNG dapat lebih rendah sekitar 30% hingga 40%.

“Yang jelas harganya lebih murah 30% sampai 40% dari pada LPG,” ujar Bahlil usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan tahunan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026).

Potensi Efisiensi Rp27 Triliun-Rp30 Triliun

Bahlil menjelaskan efisiensi tersebut berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap anggaran subsidi energi. Nilai subsidi LPG saat ini mencapai sekitar Rp86 triliun hingga Rp90 triliun per tahun.

Apabila penggunaan CNG mampu menekan biaya sekitar 30%, penghematan diperkirakan mencapai sekitar Rp27 triliun hingga Rp30 triliun.

“Kalau 30% sampai 40%, sekarang subsidi kita berapa? Rp86 triliun sampai Rp90 triliun. Kali rata-rata lah, kalau katakanlah 25%, kali 30%, berarti kan Rp27 triliun sampai Rp30 triliun bisa kita lakukan efisiensi,” ujarnya.

PGN Gagas Targetkan Volume CNG 84.000 Meter Kubik

PGN Gagas menargetkan volume penyaluran CNG meningkat sekitar 10.000 meter kubik menjadi 84.000 meter kubik per bulan melalui tambahan pelanggan pada tahun ini.

Segmen hotel, restoran, dan kafe menjadi salah satu sasaran ekspansi karena kebutuhan energinya relatif besar dan tersebar di berbagai lokasi.

Selain CNG point to point, PGN juga menerapkan skema klasterisasi dengan membangun jaringan gas untuk pelanggan dalam satu kawasan. Pengembangan klaster tersebut juga telah dilakukan untuk jaringan gas rumah tangga di Sleman, Jogja.

Infrastruktur jaringan gas itu didukung satu unit Pressure Regulating Station, pipa DTM berdiameter 180 milimeter dan 90 milimeter sepanjang 15,9 kilometer, serta lima unit Regulating Station.

Menurut Santiaji, skema klasterisasi dapat menekan biaya distribusi. Dengan demikian, kebutuhan transportasi CNG dapat dibuat lebih efisien dibandingkan pola distribusi point to point dengan jarak yang lebih jauh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news