Akses Tol Dekat Jogja Diprediksi Naikkan Kunjungan Mal

5 hours ago 3

Akses Tol Dekat Jogja Diprediksi Naikkan Kunjungan Mal Ilustrasi. - ANTARA FOTO/Feny Selly


Harianjogja.com, JOGJA—Akses tol yang semakin mendekati Yogyakarta diperkirakan akan meningkatkan kunjungan ke pusat perbelanjaan saat libur Lebaran 2026.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DIY, Surya Ananta, mengatakan keberadaan tol yang semakin dekat dengan Yogyakarta berpotensi meningkatkan mobilitas masyarakat dari luar daerah.

"Proyeksi kenapa lebih tinggi, karena jalan tol yang sudah mulai jadi alternatif, dibuka lebih mendekat ke Jogja," ujarnya, Selasa (10/3/2026).

Menurut Surya, selain faktor tol, kemudahan akses transportasi lain seperti kereta api hingga pesawat juga turut berperan dalam mendorong arus kunjungan ke Yogyakarta selama periode libur Lebaran.

Ia menjelaskan, aktivitas kunjungan ke mal pada pekan pertama Ramadan umumnya masih cenderung sepi dan tidak jauh berbeda dengan hari normal. Namun, peningkatan mulai terlihat memasuki pekan kedua hingga ketiga Ramadan, terutama di sektor restoran.

Pada periode tersebut, pengunjung yang datang masih didominasi masyarakat lokal.

Surya memperkirakan arus kedatangan wisatawan dari luar kota akan mulai meningkat mendekati Lebaran atau pada pekan keempat Ramadan, yakni mulai 16 Maret. Ia mengacu pada proyeksi pemerintah yang memperkirakan jumlah kunjungan ke DIY mencapai sekitar 8 juta orang.

"Spending di resto naik di pekan kedua, karena masyarakat sudah mulai melakukan buka puasa di pusat-pusat keramaian, resto di mal dan seterusnya," jelasnya.

Selain kuliner, sektor fesyen juga mulai menunjukkan peningkatan penjualan sejak pekan kedua Ramadan. Hal ini turut didorong oleh mulai cairnya sebagian Tunjangan Hari Raya (THR) bagi pekerja.

Menurut Surya, pergerakan masyarakat dari luar kota sangat dipengaruhi oleh jadwal cuti bersama. Ia memperkirakan mobilitas mulai meningkat pada 16–17 Maret, dengan puncak pergerakan diprediksi terjadi pada 18 Maret hingga 24 Maret.

"Nah pergerakan itu dipicu oleh cuti yang mana menurut prediksi kami pergerakannya mulai dari 16-17 Maret ini, puncaknya mungkin di 18 Maret, sampai nanti katakanlah selesainya di 24," ucapnya.

Faktor Global Dinilai Belum Berdampak

Surya menilai faktor eksternal seperti konflik di Timur Tengah belum akan berdampak secara langsung terhadap aktivitas konsumsi masyarakat di DIY dalam waktu dekat.

"Kalau menurut saya dampaknya tidak langsung di sana terjadi masalah lalu tiba-tiba dalam waktu sangat dekat ke sini kelihatannya semoga tidak," lanjutnya.

Sementara terkait tren belanja daring, ia menilai aktivitas belanja online memang semakin berkembang, tetapi sejauh ini belum mengganggu transaksi di toko fisik di pusat perbelanjaan.

"Belanja online belum sampai mengganggu atau menurunkan belanja offline, transaksinya masih terjaga," ungkapnya.

Penjualan Batik di Pasar Beringharjo Masih Sepi

Sementara itu, kondisi berbeda terlihat di Pasar Beringharjo. Menjelang Lebaran, aktivitas penjualan di pasar tradisional tersebut belum sepenuhnya ramai.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo, Bintoro, mengatakan peningkatan penjualan saat ini lebih banyak terjadi pada pakaian muslim dan pakaian biasa, sedangkan penjualan batik masih relatif sepi.

Ia menjelaskan, pakaian muslim lebih diminati karena banyak dicari masyarakat untuk kebutuhan Lebaran. Sebaliknya, batik lebih identik sebagai oleh-oleh sehingga sangat bergantung pada pembeli dari luar kota.

"Kalau sekarang ini kondisinya [penjualan batik] dengan hari-hari biasa aja malah mending hari-hari biasa karena juga masih ada pembeli dari luar kota," kata Bintoro.

Menurutnya, sekitar 90% pengunjung Pasar Beringharjo selama Ramadan saat ini masih berasal dari masyarakat lokal dan wilayah sekitar DIY. Wisatawan maupun pemudik belum banyak terlihat.

Ia memperkirakan lonjakan pembelian akan mulai terjadi sekitar sepekan menjelang Lebaran.

"[puncak] kalau sebelum Lebaran ya paling H-3, H-4 itu, khusus pakaian-pakaian muslim. Tapi kalau yang batik nanti puncaknya paling H+3 sampai nanti kurang lebih H+5 atau H+6," ujarnya.

Meski demikian, Bintoro belum dapat memastikan apakah penjualan tahun ini akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menyebut kondisi ekonomi yang masih lesu menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya beli masyarakat.

"Banyakan kalau sudah merasakan di Jogja pengin balik lagi ke Jogja karena melihat keramahtamahan Jogja juga suasana di Jogja," tuturnya.

Sebagian pedagang di Pasar Beringharjo juga mulai memanfaatkan penjualan secara online. Namun, menurut Bintoro, banyak konsumen tetap lebih memilih berbelanja langsung karena dapat melihat kualitas barang secara langsung.

"Kalau menurut saya online memang juga itu laku, tapi memang kadang ya kalau online itu kan kembali pada kemantapan. Karena kalau kita beli barang tidak tahu persis barang yang dibeli itu kadang-kadang konsumen kan juga kadang kan tidak sesuai dengan yang diharapkan," ungkapnya.

Salah satu pedagang Beringharjo, Yuli, bahkan menilai kondisi penjualan tahun ini masih lebih sepi dibandingkan tahun sebelumnya.

"Tahun lalu mending, ini lebih parah. Ini lebih sepi dari tahun lalu," ujarnya.

JNE Prediksi Pengiriman Paket Naik hingga 30%

Di sisi lain, sektor logistik diperkirakan akan mengalami peningkatan aktivitas selama Ramadan dan Idulfitri.

Kepala Cabang JNE Yogyakarta, Adi Subagyo, memperkirakan volume pengiriman paket selama Ramadan tahun ini akan meningkat sekitar 20% hingga 30%.

Menurutnya, kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya transaksi e-commerce, terutama pada sektor fesyen, makanan dan minuman, serta kebutuhan rumah tangga.

"Dari sisi proyeksi, JNE memperkirakan volume pengiriman selama Ramadan tahun ini akan tetap tumbuh secara positif di kisaran 20%–30%," ujarnya.

Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, JNE memperkuat infrastruktur operasionalnya dengan dukungan lebih dari 50.000 karyawan dan sekitar 11.000 unit armada pengiriman.

Perusahaan juga mengoptimalkan Mega Hub yang berada di kawasan dekat Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Fasilitas seluas sekitar 4 hektar tersebut dilengkapi Automatic Sorting Center untuk mempercepat proses penyortiran dan distribusi paket.

Selain itu, JNE memanfaatkan jaringan lebih dari 8.000 titik layanan di seluruh Indonesia serta meningkatkan fleksibilitas jam operasional dan pengaturan rute distribusi di wilayah dengan volume pengiriman tinggi.

"Sinergi dan kolaborasi dengan berbagai mitra transportasi terus diperkuat untuk memastikan kelancaran pengiriman selama periode Ramadan dan Idul Fitri," tuturnya.

Menurut Adi, perusahaan juga mengoptimalkan jalur distribusi darat, udara, dan laut, serta memanfaatkan sistem pemantauan berbasis teknologi secara real-time untuk menjaga ketepatan waktu pengiriman sesuai standar layanan.

Ia menilai industri logistik nasional masih menunjukkan tren pertumbuhan positif seiring meningkatnya digitalisasi dan aktivitas belanja online di masyarakat.

"Perkembangan ini turut mendorong kenaikan permintaan layanan pengiriman, baik untuk produk ritel, kebutuhan sehari-hari, maupun kiriman dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)," lanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news