Video Menko Polkam Djamari Chaniago Viral, Kritik Pemberian Gelar Datuk kepada Pejabat

4 hours ago 2

Hayati Sumbar

KLIKPOSITIF- Video pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, viral di media sosial setelah menyinggung soal pemberian gelar adat Datuk kepada pejabat.

Pernyataan itu disampaikan Djamari saat berbicara di hadapan peserta Sekolah Staf dan Pimpinan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Sespim Lemdiklat Polri), Senin (9/3/2026).

Dalam pidatonya, Djamari sempat menanyakan kepada peserta yang berasal dari Minangkabau. Ia kemudian menceritakan pengalamannya saat ditawari gelar Datuk oleh sejumlah tokoh adat dari Sumatera Barat setelah dirinya menjabat sebagai Menko Polkam.

“Kita lihat beberapa kasus selama ini di lingkungan kita. Pertama kita lihat kasus narkoba. Seorang Pati, Kapolda. Ada orang Padang? Angkat tangan, orang Minang? Coba berdiri,” ungkap Djamari dalam video yang beredar.

Ia kemudian menjelaskan bahwa tidak lama setelah menjabat sebagai Menko Polkam, dirinya didatangi oleh ketua adat dari Sumatera Barat yang menawarkan gelar Datuk.

Menurutnya, tawaran tersebut datang secara tiba-tiba, padahal sebelumnya para tokoh adat itu tidak mengenalnya secara langsung.

“Begitu saya menjadi Menko Polkam, datanglah ketua adat dari Sumbar ke kantor saya menawarkan kepada saya untuk dijadikan Datuk. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tahu-tahu datang begitu,” ujarnya.

Djamari mengaku sempat mempertanyakan manfaat dari pemberian gelar tersebut, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat Minangkabau.

“Saya tanya, apa untungnya buat saya dan apa untungnya buat orang Minang? Tidak bisa jawab dia,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Djamari juga menyinggung kasus penobatan seorang jenderal sebagai Datuk yang kemudian terseret dalam kasus narkoba.

Menurutnya, hal tersebut justru mencederai nilai kehormatan gelar adat Minangkabau.

“Kamu tahu tidak bahwa pernah salah besar dalam memilih seorang Datuk yang katanya kebanggaan suku, kebanggaan adat di Minangkabau. Kenapa salah? Karena melantik seorang jenderal jadi Datuk dan dia adalah biang kerok narkoba,” ucapnya.

Ia pun mempertanyakan bagaimana seseorang bisa dinobatkan sebagai Datuk tanpa mengetahui latar belakangnya terlebih dahulu.
“Datuk adalah jabatan kehormatan dalam adat Minangkabau. Bukankah anda sendiri yang menghancurkan adat itu,” kata dia.

Djamari menegaskan dirinya akhirnya menolak tawaran tersebut dan meminta agar pesan itu disampaikan kepada masyarakat Minangkabau.

“Sampaikan kepada orang Minang, saya tidak bersedia,” ujarnya.

Dalam pidato itu, ia juga mengaku pernah menyampaikan hal serupa saat diundang memberikan kuliah umum di Universitas Andalas.

Di hadapan dosen dan guru besar, Djamari menyampaikan agar masyarakat tidak merasa tidak bersalah ketika terjadi peristiwa yang mencederai nilai-nilai adat.
Ia menegaskan, sekecil apa pun persoalan yang terjadi di masyarakat harus menjadi perhatian bersama.

“Nah, saya ingin menggambarkan bahwa sekecil apa pun terlibat di masyarakat, kita harus peduli,” tutupnya.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news