Tujuh Jenis Istirahat dan Mengapa Anda Membutuhkannya

2 weeks ago 22

TARUNA - hayati

KLIKPOSITIF – Tidur semalaman penuh sering kali terasa seperti sebuah pencapaian. Namun, kenyataannya, durasi tidur yang cukup tidak selalu menjamin tubuh dan pikiran terasa segar keesokan harinya. Jika hasil pemeriksaan dokter menyatakan kondisi kesehatan baik-baik saja, lalu apa yang menjelaskan rasa lelah dan kurang bertenaga yang tetap muncul?

Jawabannya bisa jadi karena selama ini kita menyamakan tidur dengan istirahat. Padahal, menurut sejumlah pakar, istirahat memiliki makna yang jauh lebih luas. Dalam bukunya Sacred Rest, Dr. Saundra Dalton-Smith mengemukakan bahwa manusia membutuhkan tujuh jenis istirahat yang berbeda. Masing-masing ditujukan untuk mengatasi kelelahan di area tertentu dalam kehidupan kita.

Dilansir dari laman Harvard.Edu, pandangan ini juga diamini oleh Eric Zhou, profesor madya di Divisi Sleep Medicine, Harvard Medical School. Ia menegaskan, tidur dan istirahat bukanlah hal yang sepenuhnya sama. Bahkan, jika seseorang sudah rutin tidur tujuh hingga sembilan jam setiap malam dengan kualitas yang baik, menambah jam tidur belum tentu menjadi solusi atas rasa lesu yang dirasakan.

“Banyak dari kita memaknai istirahat hanya sebatas fisik. Tidur memang bagian penting dari pemulihan fisik, tetapi ia tidak menjawab kelelahan di aspek lain yang juga memengaruhi kemampuan kita untuk berfungsi secara optimal,” ujarnya.

Mengembalikan Energi Tubuh dan Jiwa

Zhou menjelaskan tujuh jenis istirahat yang perlu dikenali, beserta cara sederhana untuk memenuhinya:

1. Istirahat fisik
Jika tubuh terasa sangat lelah, mudah ceroboh, atau sulit mengingat sesuatu, bisa jadi Anda kekurangan istirahat fisik. “Tandanya jelas, seperti tangki energi tubuh yang benar-benar kosong,” kata Zhou. Selain tidur malam dan tidur siang, berbaring dan membiarkan tubuh rileks juga termasuk istirahat fisik. Menariknya, aktivitas ringan seperti peregangan, yoga, atau berjalan santai justru tergolong istirahat fisik aktif yang dapat menambah energi.

“Solusinya bisa berada di dua ujung yang berlawanan. Kadang justru dengan bergerak, tubuh terasa lebih bertenaga,” jelasnya.

2. Istirahat mental
Pikiran yang terus berpacu, sulit fokus, atau membaca kalimat yang sama berulang-ulang tanpa paham isinya merupakan tanda kelelahan mental. Istirahat mental bertujuan menenangkan pikiran dari aktivitas berpikir dan memecahkan masalah tanpa henti. Cara sederhana untuk mencapainya antara lain dengan menuliskan daftar tugas sebelum tidur atau melakukan meditasi.

3. Istirahat spiritual
Rasa hampa, sinis, atau terputus dari makna hidup bisa menandakan kebutuhan akan istirahat spiritual. Bentuknya tidak selalu berupa doa atau ritual keagamaan, tetapi juga bisa melalui kedekatan dengan alam, kegiatan sosial, atau menjadi relawan. “Fokuslah pada hal-hal yang membuat Anda merasa lebih utuh dan terhubung,” kata Zhou.

4. Istirahat sensorik
Mudah marah atau merasa ‘penuh’ secara mental sering kali dipicu oleh kelebihan rangsangan sensorik. Layar gawai, lampu terang, dan kebisingan terus-menerus dapat menguras energi. Untuk memulihkannya, letakkan ponsel sejenak, redupkan lampu, dan nikmati suasana yang tenang atau alami.

“Kita terbiasa mengisi setiap waktu luang dengan ponsel,” ujar Zhou. “Padahal, ada harga yang harus dibayar dari stimulasi sensorik yang terus-menerus. Sesekali, biarkan diri Anda bosan.”

5. Istirahat kreatif
Buntu ide atau merasa tidak terinspirasi bukan hanya dialami pekerja seni. Semua orang bisa mengalami kelelahan kreatif. Untuk mengisinya kembali, luangkan waktu menikmati seni, keindahan alam, atau mencoba pengalaman baru. “Kreativitas hadir dalam banyak bentuk,” kata Zhou.

6. Istirahat emosional
Kebutuhan emosional orang lain, baik dalam rutinitas sehari-hari maupun situasi berat seperti merawat anggota keluarga yang sakit, dapat menguras energi batin. Istirahat emosional berarti memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan dengan jujur. Menulis jurnal atau berbagi cerita dengan orang tepercaya bisa membantu, meski Zhou mengingatkan bahwa kelegaan sejati kadang baru datang setelah situasi sulit berlalu.

7. Istirahat sosial
Jenis istirahat ini berkaitan dengan menyeimbangkan hubungan yang melelahkan dan yang memberi energi. Jika Anda merasa enggan bersosialisasi atau justru merasa kesepian di tengah keramaian, mungkin Anda membutuhkan istirahat sosial. “Belajarlah untuk tidak selalu mengatakan ‘ya’,” saran Zhou, “dan prioritaskan hubungan yang bermakna dibandingkan yang sekadar formal.”

Pada akhirnya, rasa lelah yang tak kunjung hilang mungkin bukan soal kurang tidur, melainkan kurang istirahat dalam arti yang lebih utuh. Dengan mengenali berbagai bentuk istirahat ini, kita dapat lebih bijak merawat energi—bukan hanya tubuh, tetapi juga pikiran dan jiwa.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news