Penulis novel Musim yang Tak Sempat Kita Miliki, Nadhifa Allya Tsana 'Rintik Sedu' (dok. Syamsi/KabarMakassar)KabarMakassar.com — Istilah backburner belakangan menjadi salah satu fenomena relasi yang ramai dibicarakan di kalangan generasi muda.
Istilah ini merujuk pada kondisi ketika seseorang tetap dipertahankan dalam kehidupan, meski hubungan yang dijalani tidak memiliki kejelasan arah.
Fenomena ini dinilai semakin sering muncul seiring perubahan pola komunikasi dan dinamika relasi di era digital.
Kondisi hubungan yang tidak sepenuhnya jelas tersebut kerap memunculkan pergulatan emosional bagi individu yang mengalaminya.
Banyak anak muda menghadapi situasi ketika perasaan tetap terjaga, namun komitmen tidak pernah benar-benar dibangun.
Situasi ini kemudian menjadi bahan diskusi luas di berbagai ruang percakapan, termasuk media sosial dan komunitas anak muda.
Fenomena tersebut kemudian diangkat oleh penulis novel Nadhifa Allya Tsana, yang dikenal dengan nama pena Rintik Sedu, dalam karya terbarunya berjudul Musim yang Tak Sempat Kita Miliki.
Melalui novel ini, Tsana mencoba merepresentasikan pengalaman emosional yang dinilai dekat dengan kehidupan generasi muda masa kini. Tema backburner dipilih karena dianggap relevan dengan realitas relasi yang banyak dialami pembacanya.
Dalam novel terbarunya, Tsana mencoba mengangkat pengalaman emosional yang sering dialami oleh generasi muda dalam relasi personal.
Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika seseorang tetap dipertahankan dalam kehidupan, meski hubungan tidak berjalan secara jelas. Kondisi emosional semacam ini dinilai banyak terjadi di kalangan generasi muda masa kini.
“Jadi di buku ini aku kebetulan berbagi tentang backburner karena di generasi aku, di sekitar aku tuh sangat hangat pembicaraannya tentang backburner, jadi aku pengen membahas sesuatu yang dekat sama teman-teman di Makassar juga,” ungkap Tsana di Gramedia Pettarani Makassar, Minggu (19/04).
Melalui pendekatan naratif yang emosional, Tsana berupaya menghadirkan pengalaman membaca yang reflektif bagi pembacanya. Ia melihat bahwa banyak anak muda yang sering mempertanyakan validitas perasaan mereka sendiri.
Keraguan tersebut kerap muncul ketika seseorang merasa emosinya tidak sesuai dengan ekspektasi lingkungan sekitar.
Kondisi tersebut membuat sebagian orang merasa ragu untuk mengakui apa yang mereka rasakan. Oleh karena itu, novel ini juga menjadi ruang untuk memvalidasi berbagai bentuk emosi yang dialami pembaca.
“Sebenarnya untuk pasukan aku, untuk pembaca aku yang suka merasa ‘kayaknya aku harusnya gak merasakan ini deh, harusnya aku gak gini deh, Itu kan cuma sesuatu, itu kan cuma itu’, jadi di dalam buku ini aku mau memvalidasi bahwa semua perasaan itu ya valid dan gak apa-apa untuk memilikinya,” tuturnya.
Selain membahas relasi emosional, novel ini juga mengajak pembaca untuk memahami proses penerimaan diri. Karakter-karakter yang dihadirkan dalam cerita digambarkan mengalami pergulatan emosional yang tidak sederhana.
Melalui alur cerita yang disusun, pembaca diajak untuk melihat berbagai kemungkinan penyelesaian konflik emosional. Cerita tidak hanya berfokus pada persoalan hubungan, tetapi juga perjalanan individu dalam memahami diri sendiri.
Kehadiran Tsana di Makassar menjadi bagian dari rangkaian tur buku yang telah berlangsung di sejumlah kota di Indonesia. Kota ini menjadi tujuan keempat setelah sebelumnya mengunjungi beberapa daerah lain dalam agenda promosi bukunya.
Dalam rangkaian tur buku ini, Tsana juga menilai pentingnya interaksi langsung dengan pembaca di berbagai daerah. Melalui tur buku, ia dapat memahami respons pembaca secara langsung terhadap karyanya.
Ia berharap novel terbarunya dapat memberikan dampak positif bagi pembaca, terutama dalam memahami emosi yang mereka rasakan. Tsana menilai bahwa menerima perasaan sendiri merupakan langkah awal dalam proses pemulihan emosional.
Kata dia, banyak orang yang menahan emosi karena merasa tidak seharusnya merasakan hal tertentu. Padahal, menurutnya, setiap perasaan memiliki nilai yang penting untuk dipahami. Ia menilai bahwa keberanian mengakui perasaan menjadi bagian dari proses pertumbuhan emosional seseorang.
“Aku pengen mereka gak perlu khawatir untuk mengakui apapun yang mereka rasakan, mereka pikirkan. Seburuk apapun itu atau se-gak perlu dirasakan apapun itu, itu tetep perasaan dan menurut aku itu gak perlu ditahan-tahan,” jelas Tsana.


















































