Refleksi Hari Kartini, Perjuangan Panjang Raden Ajeng Kartini Belum Selesai

6 hours ago 7
Refleksi Hari Kartini, Perjuangan Panjang Raden Ajeng Kartini Belum SelesaiRaden Ajeng Kartini (Dok. IST)

KabarMakassar.com — Peringatan Hari Kartini setiap 21 April kembali hadir di tengah realitas yang belum sepenuhnya berpihak pada perempuan. Di balik seremoni tahunan, isu kesetaraan gender justru masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia, mulai dari akses pendidikan, peluang kerja, hingga perlindungan hak-hak dasar.

Nama Raden Ajeng Kartini tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perjuangan emansipasi perempuan. Lahir di Jepara pada 21 April 1879, Kartini dikenal sebagai sosok yang melawan keterbatasan budaya melalui pemikiran dan tulisan. Meski berasal dari kalangan bangsawan dan sempat mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, ia tetap harus menjalani masa pingitan yang membatasi ruang geraknya.

Kondisi tersebut tidak menghentikan Kartini untuk berpikir kritis. Melalui surat-surat yang ia kirimkan kepada rekan-rekannya di Eropa, ia menyuarakan pentingnya pendidikan bagi perempuan serta mengkritik ketimpangan sosial yang terjadi pada masa itu. Gagasan-gagasannya kemudian dihimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang hingga kini masih menjadi rujukan pemikiran emansipasi.

Kartini menempatkan pendidikan sebagai kunci utama perubahan. Ia menilai perempuan tidak seharusnya hanya dibatasi pada ranah domestik, melainkan perlu memiliki akses yang sama untuk berkembang. Pemikiran ini tergolong progresif di zamannya, bahkan melampaui isu gender semata dengan menyentuh persoalan keadilan sosial secara luas.

Langkah konkret Kartini juga terlihat dari inisiatifnya mendirikan sekolah bagi perempuan di Jepara. Upaya tersebut menjadi tonggak awal terbukanya akses pendidikan bagi perempuan pribumi. Dukungan dari tokoh Belanda seperti J.H. Abendanon turut memperluas penyebaran gagasan Kartini hingga ke Eropa.

Pengakuan negara terhadap jasa Kartini ditetapkan melalui keputusan Presiden Soekarno yang menetapkan 21 April sebagai Hari Kartini pada 1964. Sejak itu, peringatan ini rutin diisi berbagai kegiatan, meski kerap dinilai masih didominasi simbolisme dibanding substansi perjuangan.

Memasuki era modern, relevansi pemikiran Kartini justru semakin terasa. Ketimpangan gender masih terjadi di berbagai sektor. Perempuan di sejumlah daerah masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan pekerjaan, serta rentan terhadap kekerasan dan diskriminasi.

Di sisi lain, kemajuan juga tak bisa diabaikan. Sejumlah perempuan Indonesia telah tampil sebagai pemimpin dan figur berpengaruh di berbagai bidang. Nama-nama seperti Susi Pudjiastuti, Tri Rismaharini, hingga Najwa Shihab menjadi bukti bahwa ruang perempuan semakin terbuka, meski belum merata.

Gerakan sosial yang digerakkan perempuan juga terus berkembang, mulai dari advokasi kekerasan berbasis gender hingga perjuangan kesetaraan upah dan representasi politik. Namun, tantangan struktural dan budaya masih menjadi penghambat yang belum sepenuhnya teratasi.

Kartini pernah mempertanyakan makna pendidikan jika tidak membawa manfaat bagi sesama. Gagasan ini kembali relevan ketika kesenjangan masih terlihat di berbagai lini kehidupan. Hari Kartini pun tak lagi cukup dimaknai sebagai perayaan simbolik, melainkan harus menjadi momentum evaluasi.

Lebih dari satu abad setelah pemikiran Kartini lahir, perjuangan menuju kesetaraan belum sepenuhnya usai. Peringatan 21 April menjadi pengingat bahwa emansipasi bukan sekadar sejarah, tetapi proses panjang yang masih terus berlangsung di tengah dinamika zaman.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news