Menteri Sosial Saifullah Yusuf di Kantor Gubernur Sulsel (dok. Syamsi/KabarMakassar)KabarMakassar.com — Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengungkapkan masih tingginya persoalan ketidaktepatan penyaluran bantuan sosial (Bansos) di Indonesia.
Hasil evaluasi pemerintah menunjukkan hampir setengah dari total penerima bantuan sosial terindikasi tidak memenuhi kriteria penerima manfaat.
Program bantuan yang paling terdampak di antaranya Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sembako.
Hal tersebut disampaikan saat kegiatan silaturahmi bersama pemerintah daerah dan pilar-pilar sosial di Kantor Gubernur Sulsel, Sabtu (18/4/2026).
Pertemuan ini dihadiri sejumlah unsur pemerintah daerah serta para pendamping sosial dari berbagai wilayah di Sulawesi Selatan.
“Ditengarai 45 persen penerima manfaat sembako dan penerima manfaat program PKH itu sebagai tidak tepat sasaran. Pendamping-pendamping ini hanya terima jadi,” ungkap Gus Ipul, sapaan akrabnya.
Menurutnya, selama ini data penerima bantuan sebagian besar berasal dari pusat dan langsung diterapkan di lapangan.
Para pendamping sosial umumnya hanya menggunakan data tersebut tanpa memiliki ruang yang cukup untuk melakukan koreksi.
Padahal, pendamping dinilai paling memahami kondisi nyata keluarga penerima manfaat di wilayahnya masing-masing. Karena itu, keterlibatan aktif pendamping menjadi hal penting dalam proses pembaruan data.
“Karena mereka selama ini terimanya data dari pusat. Dia sendiri itu tidak diberi kesempatan untuk memperbaiki data. Tapi hari ini kita beri kesempatan pendamping PKH untuk memberikan data-datanya agar nanti bisa dikoreksi oleh BPS,” kata Gus Ipul.
Ia menjelaskan, ketidaktepatan sasaran bantuan juga dipengaruhi oleh penggunaan basis data yang sebelumnya berbeda di masing-masing lembaga pemerintah.
Kondisi ini menyebabkan sinkronisasi data menjadi tidak optimal dan berpotensi menimbulkan kesalahan dalam penentuan penerima bantuan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah kini mulai menerapkan sistem data tunggal nasional. Pendekatan baru ini diharapkan mampu memperbaiki akurasi data penerima manfaat.
“Jadi kalau dulu, Indonesia tidak pernah punya data tunggal, tapi sejak terbitnya Inpres ini, Indonesia sudah memiliki data tunggal DTSEN yang dikelola sepenuhnya oleh BPS,” paparnya.
Pemerintah juga menekankan bahwa pembaruan data harus dilakukan secara bertahap dan melibatkan seluruh unsur pemerintahan hingga tingkat paling bawah.
Proses ini dimulai dari tingkat RT dan RW, kemudian dilanjutkan ke desa atau kelurahan, hingga pemerintah daerah.
Mekanisme berjenjang tersebut dinilai penting untuk memastikan data yang dihimpun benar-benar sesuai kondisi masyarakat. Dengan demikian, bantuan sosial dapat disalurkan kepada pihak yang benar-benar membutuhkan.
“Yang beda dari dulu, kita sekarang ingin melibatkan RT/RW kelurahan, desa, sampai ke bupati, wali kota dan gubernur untuk ikut memperbaiki dan memutakhirkan data kita,” sebutnya.
Dalam sistem yang baru, penentuan akhir penerima bantuan tidak lagi berada di tangan pemerintah daerah maupun pendamping sosial.
Kata Gus Ipul, seluruh hasil pemutakhiran data nantinya akan diverifikasi oleh Badan Pusat Statistik sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan data nasional.
Proses verifikasi dilakukan dengan metode pemeringkatan berdasarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Hasil pemeringkatan tersebut akan menjadi dasar dalam menetapkan penerima bantuan sosial.
“Kita bantu hanya pemutakhiran saja. Nanti yang memverifikasi dan menyajikan data itu dalam bentuk rankingan dari desil 1 sampai desil 10, itu adalah BPS,” jelasnya..
Selain jalur pembaruan data secara administratif, pemerintah juga membuka partisipasi masyarakat dalam proses verifikasi data penerima bantuan.
Gus Ipul berujar, warga dapat mengusulkan atau menyanggah data melalui sistem digital yang telah disediakan pemerintah.
Mekanisme ini diharapkan mampu meningkatkan transparansi serta akurasi data penerima manfaat.
“Masyarakat bisa lewat aplikasi Cek Bansos yang sudah kita siapkan. Kita ingin keterlibatan daerah ini membuat data kita makin akurat,” pungkasnya.


















































