Presiden Ameriksa Serikat (AS), Donald Trump. - Reuters/Jonathan Ernst
Harianjogja.com, JAKARTA—Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras kepada Teheran.
Trump menyatakan akan melancarkan serangan yang lebih brutal jika Iran tidak segera menyetujui kesepakatan yang diajukan Washington.
“Kita akan menjatuhkan mereka dengan cara yang jauh lebih keras dan lebih brutal di masa depan, jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan itu!” tulis Trump melalui platform Truth Social.
Situasi ini terjadi setelah konflik bersenjata sempat pecah pada 28 Februari lalu, ketika Amerika Serikat bersama Israel menyerang sejumlah target di Iran. Serangan tersebut memicu korban jiwa serta kerusakan infrastruktur, dan dibalas oleh Iran dengan aksi militer terhadap kepentingan AS dan sekutunya di kawasan Teluk.
Meski sempat terjadi gencatan senjata pada awal April melalui mediasi Pakistan, upaya diplomasi yang dilanjutkan dalam perundingan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan konkret.
Di tengah kebuntuan tersebut, perhatian dunia tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi energi global. Ketegangan di kawasan ini meningkat seiring langkah AS yang memberlakukan blokade terhadap lalu lintas maritim Iran.
Pemerintahan Trump juga menggulirkan operasi militer bertajuk “Proyek Freedom” untuk mengawal kapal-kapal komersial yang melintasi selat tersebut. Operasi ini sempat dihentikan sementara, namun berpotensi dilanjutkan kembali dalam waktu dekat.
Sejumlah negara di kawasan, termasuk Arab Saudi dan Kuwait, bahkan telah mencabut pembatasan penggunaan wilayah udara dan pangkalan militer mereka oleh AS, membuka jalan bagi operasi militer lanjutan.
Di sisi lain, Iran menuduh AS melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan melancarkan serangan ke beberapa wilayah strategis, termasuk kawasan pesisir dan jalur pelayaran. Militer Iran pun dilaporkan melakukan serangan balasan terhadap kapal perang Amerika di sekitar Selat Hormuz.
Meski demikian, Komando Pusat AS menegaskan bahwa pihaknya tidak menginginkan eskalasi konflik, namun siap merespons setiap ancaman yang muncul.
Situasi di kawasan Teluk sendiri dilaporkan mulai berangsur normal, meski tensi geopolitik masih tinggi. Trump juga menyebut bahwa gencatan senjata dengan Iran secara teknis masih berlaku, sembari membuka peluang tercapainya kesepakatan damai.
Namun dengan ancaman baru yang dilontarkan Washington, risiko konflik terbuka tetap membayangi kawasan Timur Tengah, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

2 hours ago
2
















































