Psikolog Ingatkan Burnout Bukan Alasan Menyakiti Orang di Medsos

1 hour ago 2

Harianjogja.com, JOGJA— Burnout atau kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional tidak hanya berdampak pada produktivitas kerja maupun kesehatan psikologis. Dalam banyak kasus, kondisi ini juga dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi di media sosial, termasuk memicu respons emosional yang lebih impulsif.

Saat mengalami burnout, seseorang cenderung lebih mudah tersinggung, kehilangan kesabaran, hingga kesulitan mengendalikan emosi. Akibatnya, aktivitas sederhana seperti membaca komentar, mengikuti perdebatan, atau mengunggah pendapat di media sosial berpotensi memicu reaksi yang berlebihan.

Psikolog klinis Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, menjelaskan bahwa burnout dapat menurunkan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dan mengendalikan impuls ketika berinteraksi di ruang digital.

"Orang yang mengalami burnout itu sedang mengalami kelelahan fisik dan mental, akibatnya ia dalam kondisi yang mudah tersinggung, sinis, kehilangan empati, dan kemampuan mengendalikan impulsnya menurun," kata Ratih, dikutip dari Antara.

Mengapa Burnout Membuat Orang Lebih Emosional di Medsos?

Menurut Ratih, salah satu penyebabnya adalah fenomena yang dikenal sebagai online disinhibition effect. Kondisi ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk bersikap lebih berani, lebih terbuka, atau lebih impulsif saat berada di dunia maya dibandingkan ketika berinteraksi secara langsung.

Media sosial menciptakan ruang komunikasi yang berbeda dengan percakapan tatap muka. Pengguna tidak selalu melihat ekspresi lawan bicara, tidak merasakan respons secara langsung, dan sering kali merasa memiliki jarak yang cukup aman dari konsekuensi sosial.

"Media sosial memiliki karakteristik yang membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara bebas, lepas, emosional dibandingkan ketika ia berinteraksi secara langsung," ujarnya.

Perasaan anonim, minimnya kontrol sosial, hingga kemudahan mengunggah komentar dalam hitungan detik membuat seseorang lebih rentan mengekspresikan kemarahan, frustrasi, atau kekecewaan secara spontan.

Ketika kondisi tersebut bertemu dengan burnout, risiko munculnya perilaku impulsif menjadi lebih besar.

Burnout Tidak Bisa Dijadikan Alasan

Meski dapat menjadi faktor pemicu, Ratih menegaskan bahwa burnout tidak boleh dijadikan pembenaran atas perilaku yang merugikan orang lain.

Menurut dia, setiap individu tetap memiliki tanggung jawab atas tindakan dan ucapan yang disampaikan, baik di dunia nyata maupun di media sosial.

"Burnout bukan pembenaran atas perilaku yang merugikan orang lain. Burnout dapat menjadi faktor risiko, tetapi setiap individu tetap memiliki tanggung jawab," katanya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kondisi psikologis memang dapat memengaruhi perilaku seseorang, tetapi bukan berarti menghapus konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.

Cara Mengelola Emosi Saat Bermedia Sosial

Ratih menyarankan agar masyarakat lebih peka terhadap kondisi emosinya sebelum aktif di media sosial, terutama ketika sedang menghadapi tekanan pekerjaan, masalah pribadi, atau kelelahan berkepanjangan.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko bereaksi secara impulsif di dunia digital.

Pertama, mengenali kondisi emosi diri sendiri sebelum membuka media sosial atau terlibat dalam diskusi daring. Kesadaran terhadap kondisi mental dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih bijak.

Kedua, membatasi penggunaan media sosial saat tubuh dan pikiran sedang sangat lelah. Mengurangi paparan terhadap informasi yang memicu stres dapat membantu menjaga kestabilan emosi.

Ketiga, memperbaiki kualitas tidur dan mengelola beban kerja secara lebih seimbang. Kurang tidur dan tekanan yang berlebihan sering menjadi faktor yang memperparah burnout.

Keempat, mencari saluran pelepasan stres yang sehat, seperti berolahraga, menjalankan hobi, membaca buku, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman.

Terapkan Prinsip "Pause Before Posting"

Ratih juga mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip pause before posting atau memberi jeda sebelum mengunggah komentar maupun konten di media sosial.

Jeda beberapa menit hingga beberapa jam dapat membantu seseorang menilai kembali apakah unggahan tersebut memang perlu dipublikasikan atau hanya merupakan luapan emosi sesaat.

Langkah sederhana ini dinilai efektif untuk mencegah konflik yang tidak perlu sekaligus mengurangi risiko penyesalan setelah mengunggah sesuatu ketika emosi sedang tidak stabil.

Dengan mengenali tanda-tanda burnout dan mengelola emosi secara lebih sehat, masyarakat dapat tetap aktif di media sosial tanpa terjebak dalam perilaku impulsif yang berpotensi merusak hubungan sosial maupun kesehatan mental.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news