Profesor Rahma Widyana Ingatkan Fenomena Salah Jurusan

5 hours ago 2

Profesor Rahma Widyana Ingatkan Fenomena Salah Jurusan Psikolog peneliti minat karier Profesor Rahma Widyana. - Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena salah jurusan menjadi persoalan pelik bagi dunia pendidikan di Indonesia. Banyak mahasiswa merasa tidak nyaman hingga memutuskan pindah jurusan di tengah jalan karena pilihan studi yang diambil tidak sejalan dengan minat dasar mereka.

Psikolog peneliti minat karier sekaligus Guru Besar UMBY Profesor Rahma Widyana mengungkapkan bahwa kesesuaian atau kongruensi antara cita-cita dengan tipe minat siswa SMA di Indonesia saat ini masih berada pada kategori sedang. Banyak siswa yang menentukan masa depan bukan berdasarkan potensi diri, melainkan faktor eksternal.

"Anak-anak di Indonesia itu sebagian besar kongruensi antara tipe minat dengan cita-citanya kategorinya sedang. Kadang mereka bermimpi sesuatu karena keinginan keluarga, mengejar prestise, atau sekadar tren sosial," ujarnya dalam pidato pengukuhan guru besar, Selasa (7/4/2026).

Rahma Widyana sendiri punya cerita unik ketika SMA, ia sempat dipaksa oleh guru sekolah untuk masuk ke jurusan IPA , mengingat ia memiliki nilai bagus. Akan tetapi, ia memilih untuk tetap masuk ke jurusan IPS karena memiliki passion di bidang tersebut. Namun saat SMA tersebut ia mampu membuktikan meraih nilai ujian akhir tertinggi setingkat provinsi.

"Ketika disuruh masuk ke IPA, saya waktu itu sempat bertanya ke guru, yang akan menjalani sekolah, saya atau bapak? akhirnya saya tetap memilih jurusan IPS karena sesuai dengan minat saya," ucapnya.

Peristiwa itu terus dikenang dan dijadikan pelajaran baginya bahkan menjadi materi yang terus dikawal dalam berbagai penelitian akademiknya terkait fenomena salah jurusan. Di mana fenomena tersebut biasanya dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti orang tua, lingkungan hingga sekadar tren.

Teori Holland dalam Konteks Lokal

Dalam penelitiannya, ia mengacu pada teori pilihan karier John Holland yang membagi minat manusia ke dalam enam tipe: realistik, investigatif, artistik, sosial, enterprising, dan konvensional. Fokus riset ini adalah melihat relevansi tipe-tipe tersebut dengan karakter anak muda di Indonesia serta mencari tipe mana yang paling dominan.

Menurutnya, jika pilihan jurusan hanya didasari oleh aspek finansial atau gengsi semata, dampaknya akan terlihat saat mereka memasuki dunia kerja. "Hasilnya tidak akan optimal. Mereka bisa saja sukses secara materi, tapi tidak memiliki kepuasan kerja karena bidang yang ditekuni bukan passion-nya," imbuhnya.

Peran Krusial Orang Tua

Selain faktor internal siswa, peran orang tua menjadi kunci utama dalam meminimalisir risiko salah jurusan. Ia menekankan agar orang tua tidak egois dalam memaksakan kehendak terkait masa depan anak.

"Orang tua tentu punya cita-cita untuk anaknya, tapi harus dilihat juga tipe minat si anak seperti apa. Jangan sampai memaksakan 'saya ingin kamu jadi ini', tanpa melihat kecocokan bidang tersebut dengan karakter anak," jelasnya.

Selama lima tahun terakhir, langkah konkret telah dilakukan melalui layanan psikolog penanggung jawab untuk penelusuran bakat minat di tingkat SMA. Proses ini mencakup pendampingan pemilihan jurusan hingga konseling bersama orang tua agar tercipta keselarasan pandangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news