KLIKPOSITIF — Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan kebahagiaan dan antusiasme bagi masyarakat. Berbagai kegiatan khas seperti buka puasa bersama, persiapan mudik, hingga tradisi berbagi atau “salam tempel” menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan menjelang Idulfitri.
Namun di balik euforia tersebut, terdapat tantangan yang kerap muncul setiap tahun, yakni meningkatnya pengeluaran atau inflasi gaya hidup musiman. Banyak orang menyadari bahwa pengeluaran selama Ramadan justru sering kali lebih besar dibandingkan bulan-bulan biasa.
Tanpa pengelolaan keuangan yang baik, Tunjangan Hari Raya (THR) yang diterima menjelang Lebaran berpotensi cepat habis dan hanya “numpang lewat”, bahkan menyisakan saldo rekening yang menipis setelah perayaan usai.
Agar hal tersebut tidak terjadi, masyarakat disarankan untuk mengatur arus kas secara lebih bijak selama Ramadan dan Lebaran. Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk mengelola THR dengan lebih efektif.
Pisahkan gaji bulanan dan THR
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memisahkan antara gaji bulanan dan dana THR. Kedua sumber dana tersebut sebaiknya tidak dicampur agar pengeluaran dapat lebih terkontrol.
Gaji bulanan sebaiknya digunakan untuk kebutuhan rutin seperti membayar tagihan listrik dan air, cicilan rumah atau kendaraan, serta belanja kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, dana THR dapat dialokasikan khusus untuk pengeluaran tambahan yang muncul selama Ramadan dan Idulfitri.
Dengan memisahkan kedua pos keuangan tersebut, masyarakat dapat menghindari pengeluaran impulsif yang berpotensi mengganggu stabilitas keuangan.
Mengalokasikan THR secara terencana
Agar dana THR tidak habis tanpa perencanaan, masyarakat dianjurkan untuk langsung membagi alokasi dana sejak hari pertama diterima.
Sebagian dana, sekitar 10 hingga 15 persen, dapat dialokasikan untuk kewajiban agama seperti zakat fitrah, zakat mal, fidyah, maupun sedekah. Pos ini menjadi prioritas sebagai bagian dari penyempurnaan ibadah selama Ramadan.
Selanjutnya, sekitar 10 hingga 20 persen dapat digunakan untuk melunasi atau mencicil utang jangka pendek, seperti tagihan kartu kredit atau layanan paylater.
Sebagian besar dana, sekitar 40 hingga 50 persen, dapat dialokasikan untuk kebutuhan Lebaran, termasuk biaya transportasi mudik, pembelian hampers, uang salam tempel, kue Lebaran, hingga pakaian baru jika diperlukan.
Sementara itu, sekitar 10 hingga 20 persen sisanya dapat disimpan sebagai tabungan atau investasi, misalnya untuk menambah dana darurat atau membeli instrumen investasi seperti Surat Berharga Negara (SBN) maupun reksa dana.
Waspadai pengeluaran kecil yang sering terabaikan
Selain pengeluaran besar seperti tiket perjalanan mudik, pengeluaran kecil yang terjadi berulang kali juga perlu diwaspadai karena berpotensi menguras anggaran tanpa disadari.
Salah satu contohnya adalah undangan buka puasa bersama yang cukup banyak selama Ramadan. Meski silaturahmi penting, masyarakat disarankan untuk menentukan prioritas kehadiran serta menyiapkan anggaran khusus agar tidak berlebihan.
Tren mengirim hampers juga sebaiknya disikapi dengan bijak. Pengiriman dapat dibatasi hanya untuk keluarga inti atau relasi terdekat. Alternatif lain adalah memberikan buah tangan buatan sendiri yang lebih hemat namun tetap bermakna.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk menahan godaan belanja online, terutama saat sahur ketika banyak promo atau diskon yang dapat memicu pembelian impulsif.
Menyiapkan keuangan setelah Lebaran
Hal lain yang kerap terlupakan adalah kondisi keuangan setelah Lebaran. Setelah masa libur usai, aktivitas kembali berjalan normal, sementara waktu menuju gajian berikutnya sering terasa cukup panjang.
Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk menyisakan saldo yang cukup di rekening operasional guna memenuhi kebutuhan transportasi dan pengeluaran harian. Menghindari utang konsumtif serta tetap disiplin terhadap anggaran bulanan juga menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan finansial.
Pada akhirnya, esensi ibadah puasa tidak hanya berkaitan dengan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri. Nilai tersebut dapat diterapkan dalam kebiasaan konsumsi agar perayaan Ramadan dan Lebaran tetap membawa keberkahan tanpa menimbulkan beban finansial baru.

12 hours ago
8


















































