Oleh: Nur Hidayah, Guru Besar Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar
KabarMakassar.com — Terkadang ujian bencana alam memberikan sebuah makna, bagaimana merawat manusia, merawat harapan serta merawat kemanusiaan.
Perasaan berduka saya hingga hari ini masih belum sepenuhnya reda atas apa yang menimpa saudara-saudara kita di NTT. Sebuah retrospeksi sederhana acapkali hadir dalam kondisi tertentu. Tentang eksistensi bahwa saya adalah seorang perawat!
Namun semakin lama saya menjalani profesi ini, semakin itu pula saya memahami bahwa menjadi perawat sesungguhnya tidak selalu berarti bekerja di rumah sakit, mengenakan seragam, atau memegang stetoskop. Dan sepertinya perawat itu adalah siapa pun yang bersedia hadir ketika manusia lain sedang terluka.
Karena itu, hari ini saya ingin mengajak kita semua menjadi perawat bagi saudara-saudara kita di NTT yang dalam sepekan terakhir ini membutuhkan dukungan moril hingga materil atas musibah yang menimpa.
Keperawatan pascabencana seyogyanya harus mampu melihat manusia bukan hanya sebagai tubuh yang sakit, tetapi sebagai bahagian keluarga yang sedang kehilangan sesuatu yang baru saja memudar dalam keseharian mereka, yah… rasa aman. Gempa dengan kekuatan Magnitudo (M) 7,7 dan kedalaman dangkal 10 km mungkin berlangsung hanya dalam hitungan detik saja. Namun percayalah, bagi mereka yang terdampak langsung, rasa takut dan traumatik dapat tinggal jauh lebih lama bahkan mungkin dalam alam bawah sadar saat mereka sedang terlelap.
Ketika tanah di sana berhenti berguncang, sesungguhnya bencana belum benar-benar selesai. Tak hanya rumah yang runtuh, tetapi rasa aman dalam psikis mereka juga akan ikut runtuh. Tidak hanya anggota keluarga mereka yang terluka hingga lebih dulu kepangkuan Yang Maha Kuasa, tetapi ada pula hati yang kehilangan tempat untuk berpijak guna menata hidup dalam waktu yang lebih cepat. Ada pula anak-anak yang kembali bermain, tetapi mungkin masih saja tetap terbangun pada malam hari, tak lain oleh rasa takut gempa yang tak pernah mengenal kompromi atas kedatangannya yang tiba-tiba.
Atas peristiwa itu, kita butuh menemukan sebuah maknanya.
Bahwa kita tidak boleh berhenti pada sebatas pertanyaan: “Apa yang sakit?”
Tetapi kita mungkin perlu bertanya lebih banyak lagi: apa yang membuat mereka takut? Apa kehilangan yang mereka rasakan? serta apa yang mampu membuat mereka merasa aman kembali?”
Setelah rangkaian ujian bernama musibah dan bencana ini, saudara-saudara kita di sana tidak hanya membutuhkan obat, makanan, tempat tinggal, dan perawatan luka. Mereka membutuhkan seseorang yang hadir, mendengarkan, memahami, dan membantu mereka perlahan-lahan menemukan kembali rasa aman. Dalam situasi bencana, pelayanan kesehatan sering berorientasi pada kondisi yang paling terlihat: luka, patah tulang, dehidrasi, infeksi, penyakit kronis yang kambuh, atau kebutuhan obat-obatan. Semuanya menjadi sangat penting serta urgen.
Berapa banyak penderitaan manusia yang tidak selalu terlihat. Seorang ibu mungkin tampak sehat secara fisik, tetapi pikirannya terus tertuju kepada anaknya yang belum ditemukan. Ataukah seorang ayah mungkin tidak mengalami luka serius, tetapi harus menghadapi kenyataan bahwa rumah dan sumber penghidupannya telah hilang. Atau bahkan mungkin seorang lansia yang tidak membutuhkan tindakan medis segera, tetapi telah kehilangan lingkungan yang selama puluhan tahun memberinya rasa nyaman dan aman.
Karena itu, pasien tidak selalu hadir sebagai individu. Ia hadir sebagai bagian dari keluarga, komunitas, dan lingkungan sosial yang sedang mengalami guncangan. Maka, pendekatan keperawatan pascabencana perlu bergeser: dari patient-centered menjadi family and community-centered care.
Bukan berarti individu tidak penting. Justru sebaliknya, kita memahami individu secara utuh karena ia tidak pernah benar-benar terpisah dari keluarganya.
Ketika sebuah rumah runtuh, yang hilang bukan hanya dinding dan atap. Karena kehilangan rumah dapat berarti kehilangan rasa aman, kehilangan rutinitas, bahkan kehilangan identitas. Kita semua bisa membayangkan, bagaimana kehidupan di pengungsian, banyak keluarga yang harus beradaptasi dengan ruang yang berbeda, orang-orang yang berbeda, suara-suara yang berbeda, dan ketidakpastian tentang hari esok.
Dalam situasi seperti itu, perawat mempunyai peran yang sangat penting untuk membantu menciptakan kembali “ruang aman”, bahkan ketika rumah fisik belum dapat dibangun kembali. Ruang aman itu dapat dimulai dari hal sederhana:
Perawat yang menyapa dengan tenang, mau mendengarkan, menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, atau membantu seorang ibu menemukan layanan untuk anaknya. Kadang-kadang, intervensi yang paling bermakna bukanlah tindakan yang paling kompleks, tetapi kehadiran yang membuat seseorang merasa bahwa ia tidak menghadapi bencana sendirian.
Pemulihan Anak Pascabencana
Dalam situasi pascagempa, anak-anak merupakan kelompok yang sangat rentan. Mereka mungkin belum memiliki kemampuan kognitif dan emosional untuk memahami mengapa rumah mereka runtuh, mengapa mereka harus tinggal di tenda, atau mengapa orang dewasa di sekitarnya terus terlihat cemas. Karena itu, perlindungan anak pascabencana bukan hanya memastikan mereka mendapatkan makanan dan pelayanan kesehatan. Kita perlu membantu mereka mendapatkan kembali: rutinitas, permainan, hubungan, kesempatan belajar, dan rasa aman.
Perawat dapat berperan dalam menciptakan aktivitas sederhana yang membantu anak mengekspresikan perasaan mereka. Bermain, menggambar, bercerita, bernyanyi, atau sekadar memberikan kesempatan kepada anak untuk berbicara dapat menjadi bagian dari proses pemulihan.
Pada sisi lain, bagaimana dalam keluarga, perempuan sering kali berada pada posisi yang sangat berat, dari memikirkan anak-anak, memikirkan makanan, memikirkan sang suami serta orang tua yang lanjut usia yang wajib untuk selalu ia pastikan tentang kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Karena itu, pelayanan keperawatan pascabencana perlu memberikan ruang khusus bagi perempuan untuk berbicara, beristirahat, mendapatkan informasi, menjaga kesehatan reproduksi, memperoleh dukungan psikososial, serta terlibat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut keluarganya.
Kita tidak boleh menganggap perempuan hanya sebagai penerima bantuan. Perempuan adalah aktor penting dalam pemulihan keluarga dan komunitas. Ketika perempuan kembali memiliki rasa aman, pengetahuan, kapasitas, dan kesempatan untuk berdaya, sesungguhnya kita sedang memperkuat ketahanan seluruh keluarga.
Kembali Menghidupkan Asa
Pascabencana bukan hanya tentang recovery terhadap tubuh. Ia juga tentang recovery terhadap kehidupan. Karena itu, perawat perlu hadir dalam proses yang lebih panjang.
Pada tahap awal, kita mungkin menyelamatkan kehidupan. Tetapi pada tahap berikutnya, kita membantu manusia kembali menjalani kehidupan. Namun ada satu hal penting yang perlu kita pahami pascabencana, yah… “pulang” meski tidak selalu berarti kembali ke rumah yang sama.
Maka, tugas kita bukan hanya mengantarkan mereka kembali ke tempat tinggal. Tugas kita adalah membantu mereka menemukan kembali makna “rumah” tempat di mana mereka merasa aman, tempat di mana mereka merasa diterima, serta tempat di mana keluarga dapat kembali bersama, dan membayangkan masa depan yang mereka kembali rajut di atas puing-puing atas trauma ini.
Pascagempa, mungkin kita tidak dapat mengembalikan rumah yang telah roboh. Kita tidak dapat menghapus pengalaman menakutkan yang telah mereka lalui. Kita tidak dapat mengembalikan semua yang telah hilang. Tetapi kita dapat hadir. Kita dapat mendengarkan. Kita dapat merawat. Kita dapat membantu mereka memahami bahwa rasa takut mereka adalah manusiawi. Kita dapat membantu seorang anak kembali tersenyum. Kita dapat membuat seorang ibu menjadi kuat. Kita dapat menemani keluarga melewati hari-hari yang tidak mudah.
Dan perlahan-lahan, melalui kehadiran kecil yang konsisten dari kita semua, itu akan membantu mereka membangun kembali sesuatu yang sangat penting yaitu: rasa aman.
Sebab pada akhirnya, kita tidak hanya merawat tubuh yang terluka oleh gempa. Kita merawat keluarga yang sedang belajar untuk percaya kembali bahwa dunia masih merupakan tempat yang aman untuk ditinggali.
Sebab merawat bukan hanya sebatas pekerjaaan dalam sebuah profesi. Merawat itu adalah sentuhan kemanusiaan dan cara seorang perawat mengatakan kepada saudaranya yang saat ini sedang tertimpa musibah: “Keep strong NTT ku, kamu tidak sendirian.”


















































