Normalisasi Sungai Winongo Dimulai, 28 Kandang Dibongkar

8 hours ago 5

Harianjogja.com, JOGJA— Pemkot Jogja mulai menormalisasi Sungai Winongo pada Jumat (24/4/2026) untuk menekan risiko banjir dan longsor di kawasan bantaran. Langkah ini dilakukan menyusul tingginya sedimentasi yang mengganggu aliran air dan memicu ketidakseimbangan arus di badan sungai.

Normalisasi difokuskan pada pembukaan titik penyempitan (bottleneck) serta pengerukan sedimen yang selama ini menumpuk, terutama di sisi timur sungai. Kondisi tersebut membuat aliran air cenderung menghantam sisi barat dan meningkatkan potensi longsor.

Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, menjelaskan bahwa alat berat telah diterjunkan untuk mempercepat proses pengerjaan.
“Hari ini kita menurunkan alat berat dan melakukan normalisasi sungai agar berfungsi optimal, sehingga risiko banjir dan longsor bisa ditekan,” ujarnya saat meninjau lokasi di kawasan Wirobrajan.

Ia mengungkapkan, selama ini bantaran sisi timur Sungai Winongo dipenuhi aktivitas warga seperti kandang ayam, bank sampah, hingga vegetasi liar yang berdiri dekat talud. Kondisi tersebut dinilai mengganggu aliran air sekaligus memperburuk tampilan sungai.

Pemkot mencatat sedikitnya 28 kandang ayam berdiri di bantaran sungai dan telah dibongkar secara mandiri oleh warga sebelum normalisasi dimulai.

“Kami sudah sosialisasi dan warga menerima penataan ini,” kata Hasto.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO), Maryadi Utama, menyebut pihaknya mengerahkan dua ekskavator untuk mengatasi penyempitan alur sungai.
“Kita membuka bottleneck di tengah sungai agar arus kembali lancar ke hilir dan risiko luapan air bisa diminimalisir,” ujarnya.

Tak hanya pengerukan, program ini juga mencakup penanaman pohon dan penebaran benih ikan sebagai bagian dari pemulihan ekosistem sungai.

Kepala Dinas PUPKP Kota Jogja, Umi Akhsanti, menambahkan normalisasi tidak hanya dilakukan di Sungai Winongo, tetapi juga menyasar Sungai Code dan Gajahwong.

“Sedimentasi di Winongo cukup tinggi dan sempat memicu longsor di sisi barat. Kami ingin kondisi sungai lebih aman ke depan,” katanya.

Dari sisi masyarakat, Ketua Forum Komunikasi Winongo Asri, Endang Rohjani, menyebut upaya penataan bantaran sebenarnya telah dilakukan sejak 2009 bersama warga. Ia juga mendorong penguatan konsep integrated farming di kawasan sungai sebagai model pengelolaan lingkungan berkelanjutan.


“Harapannya, edukasi ini bisa diterapkan merata, termasuk di sisi timur sungai,” ujarnya.

Normalisasi Sungai Winongo diharapkan tidak hanya mengurangi risiko bencana, tetapi juga memperbaiki kualitas lingkungan bantaran sungai secara menyeluruh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news