Ilustrasi dehidrasi. - Ist/Istockphoto)\\r\\n
Harianjogja.com, JAKARTA — Memasuki musim kemarau, suhu udara yang semakin tinggi berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, salah satunya dehidrasi. Kondisi ini terjadi ketika tubuh kehilangan cairan lebih banyak dibandingkan asupan yang masuk, sehingga keseimbangan cairan terganggu dan fungsi organ dapat menurun.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dehidrasi tidak hanya dialami orang dewasa, tetapi juga rentan terjadi pada bayi, anak-anak, hingga lansia. Bahkan, banyak kasus tidak disadari karena gejalanya kerap dianggap sepele.
Secara umum, dehidrasi dibagi menjadi beberapa tingkat, mulai dari ringan hingga berat. Pada tahap awal, tubuh biasanya memberikan sinyal yang sering diabaikan. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain rasa pusing, tubuh mudah lelah, frekuensi buang air kecil yang menurun, serta kondisi mulut, bibir, dan mata yang terasa kering.
Jika tidak segera ditangani, dehidrasi dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Dalam jangka panjang, kekurangan cairan dapat berdampak pada gangguan fungsi ginjal, meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal, hingga memicu kerusakan otot akibat ketidakseimbangan elektrolit. Pada kondisi berat, dehidrasi bahkan dapat menyebabkan penurunan kesadaran.
Data kesehatan global juga menunjukkan bahwa dehidrasi menjadi salah satu pemicu utama gangguan kesehatan saat cuaca panas ekstrem. Organisasi kesehatan dunia mencatat, paparan suhu tinggi tanpa asupan cairan yang cukup dapat meningkatkan risiko heat exhaustion hingga heat stroke, terutama pada kelompok rentan.
Untuk mencegah dehidrasi, masyarakat disarankan memenuhi kebutuhan cairan harian secara cukup. Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar dua liter air per hari, meski kebutuhan ini dapat meningkat tergantung aktivitas fisik dan kondisi lingkungan. Selain air minum, asupan cairan juga bisa diperoleh dari makanan, khususnya buah dan sayur dengan kandungan air tinggi seperti semangka, mentimun, dan bayam.
Penerapan pola hidup sehat juga menjadi kunci pencegahan. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) mendorong masyarakat untuk menjaga keseimbangan nutrisi, kebersihan, serta kecukupan cairan tubuh setiap hari.
Selain itu, penting untuk tidak menunggu rasa haus sebagai indikator minum. Rasa haus justru menandakan tubuh sudah mulai kekurangan cairan. Oleh karena itu, minum secara rutin, terutama saat beraktivitas di luar ruangan, menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menjaga kesehatan.
Apabila muncul gejala dehidrasi yang tidak kunjung membaik, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan terdekat. Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius, terutama di tengah kondisi cuaca panas yang semakin ekstrem.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

3 hours ago
4

















































