Satu Jeep Wisata sedang melintas ruas jalan di Kawasan Kaliurang, Kalurahan Umbuharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman, Senin (31/3/2025). Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, SLEMAN— Lonjakan kunjungan wisata di Kapanewon Cangkringan menjadi sorotan pada triwulan I 2026, saat wilayah lain justru mengalami penurunan meski total wisatawan ke Sleman meningkat tajam.
Dinas Pariwisata mencatat pergerakan wisatawan mencapai 1.756.180 kunjungan pada periode Januari–Maret 2026. Dari jumlah tersebut, empat kapanewon masih mendominasi, yakni Prambanan, Cangkringan, Pakem, dan Sleman.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dispar Sleman, Kus Endarto, menjelaskan Kapanewon Prambanan tetap menjadi tujuan utama dengan 579.144 kunjungan atau sekitar 32,98%. Namun, angka tersebut turun 12,92% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, Kapanewon Cangkringan justru mencatat lonjakan signifikan dengan 413.499 kunjungan atau 23,55%. Kenaikannya mencapai 265,68% dibanding triwulan I 2025, menjadikannya satu-satunya wilayah dengan pertumbuhan tinggi di antara empat besar.
Posisi berikutnya ditempati Pakem dengan 318.420 kunjungan (18,13%) dan Kapanewon Sleman dengan 146.956 kunjungan (8,37%). Kedua wilayah ini mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Kus, dominasi empat wilayah tersebut tidak lepas dari keberadaan destinasi unggulan seperti Candi Prambanan, kawasan Kaliurang, dan Kaliadem yang selama ini menjadi magnet wisata.
Ia menilai tren ini juga menguatkan fenomena microtourism, di mana wisatawan cenderung memilih destinasi dekat dan mudah dijangkau, terutama yang berbatasan dengan wilayah Jawa Tengah.
“Kenaikan di empat kapanewon itu mengonfirmasi fenomena microtourism, mengingat wilayah-wilayah itu dekat dengan Jawa Tengah,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Selain empat besar, sejumlah kapanewon lain seperti Tempel, Mlati, Gamping, dan Kalasan juga mencatat kenaikan kunjungan meski secara total masih jauh di bawah wilayah utama.
Lonjakan wisatawan juga dipengaruhi pergeseran libur Lebaran 2026 yang jatuh pada Maret. Momentum ini mendorong peningkatan kunjungan, terutama ke destinasi berbasis wisata alam.
“Secara keseluruhan, kunjungan wisatawan naik 106,64% dibanding triwulan I 2025,” katanya.
Dari sisi asal wisatawan, pergerakan didominasi wisatawan nusantara dengan porsi 98,28%. Mayoritas berasal dari Pulau Jawa yang mencapai 94,60%.
Sementara itu, General Manager PT Taman Wisata Candi Prambanan, Ratno Timur, mengonfirmasi bahwa Candi Prambanan masih menjadi destinasi favorit. Bahkan, kunjungan selama periode Lebaran 2026 berhasil melampaui target yang ditetapkan.
“Untuk data final Alhamdulillah Prambanan dan Ratu Boko secara target terlampaui di angka 130.000 orang, di atas target yang sudah dicanangkan sebelumnya 129.000 orang,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan pergeseran pola wisata di Sleman, di mana destinasi alam dan kawasan lereng Merapi mulai menjadi pilihan utama, meski ikon klasik seperti Prambanan tetap menjadi penopang utama kunjungan wisata.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

6 hours ago
3

















































