Mesin Pirolisis di Bantul Sulap Sampah Plastik Jadi BBM Murah

4 hours ago 3

Harianjogja.com, BANTUL—Upaya mengatasi persoalan sampah plastik di Kabupaten Bantul memasuki babak baru. Melalui teknologi pirolisis, sampah plastik yang selama ini menjadi residu dan sulit dimanfaatkan kini dapat diubah menjadi bahan bakar alternatif bernama petasol. Inovasi ini digadang-gadang mampu menjawab dua tantangan sekaligus, yakni pengurangan timbulan sampah plastik dan penyediaan sumber energi alternatif yang lebih bernilai ekonomi.

Teknologi tersebut resmi diperkenalkan melalui kolaborasi Pertamina Foundation, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta kelompok pengelola sampah di Bantul. Peluncuran mesin pirolisis itu menjadi langkah awal pengembangan sistem pengolahan sampah berbasis masyarakat yang diharapkan dapat diterapkan lebih luas di berbagai wilayah di Bumi Projotamansari.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan inovasi tersebut memiliki potensi besar dalam mendukung pengelolaan lingkungan sekaligus menghadirkan solusi energi berbasis pemanfaatan limbah plastik.

“Pada Pertamina Foundation, atas inisiatif melaunching satu temuan yang sangat bagus yaitu pengelolaan sampah plastik menjadi petasol. Bahan bakar yang setara dengan solar dengan kualitas yang bagus. Dan ini akan menjawab masalah sampah yang kita hadapi,” kata Halim di Pendopo Puroloyo, Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Selasa (9/6/2026).

Menurut Halim, jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat Bantul terus meningkat dari waktu ke waktu. Dari total timbulan sampah sekitar 600 ton per hari, sekitar 31 persen di antaranya merupakan sampah plastik yang berpotensi menjadi bahan baku petasol.

“Kalau setiap hari 600 ton sampah yang terproduksi di Kabupaten Bantul, maka sekitar 180 ton sampah plastik tersedia. Dan ini potensi untuk kita kembangkan menjadi petasol,” ujarnya.

Ia menilai pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif tidak hanya berdampak pada pengurangan residu yang selama ini menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi baru dari limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

“Kalau masyarakat Bantul yang setiap hari memproduksi sampah plastik ini kita serap semuanya, maka ini akan menjadi potensi perbaikan lingkungan yang signifikan, sekaligus menyediakan BBM alternatif yang berkualitas bagus,” katanya.

Saat ini mesin pirolisis masih diterapkan sebagai proyek percontohan atau demplot di Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pilah Berkah Imogiri. Namun, Pemerintah Kabupaten Bantul telah menyiapkan rencana untuk memperluas pemanfaatan teknologi tersebut ke kelompok pengelola sampah lain yang dinilai siap dan memiliki komitmen menjalankannya.

“Ini kan baru demplot di KSM Pilah Berkah di Imogiri ini, nanti akan kita kembangkan di KSM-KSM yang lain. Mesinnya itu kan seharga kurang lebih Rp150 juta, jadi pastilah ini nanti akan kita kembangkan. Mana KSM yang siap dan berkomitmen, nanti akan kita berikan fasilitas mesin pengolah sampah menjadi petasol,” ucapnya.

Perwakilan sekaligus peneliti BRIN, Heru Susanto, menjelaskan bahwa teknologi pirolisis bekerja dengan memanaskan sampah plastik dalam kondisi tanpa oksigen atau anaerob. Proses tersebut dilakukan pada suhu antara 250 hingga 350 derajat Celsius selama kurang lebih tujuh sampai delapan jam hingga menghasilkan bahan bakar cair.

“Jadi ini merupakan teknologi pirolisis, yaitu proses thermal cracking hidrokarbon dalam kondisi anaerob atau tanpa oksigen pada suhu 250 sampai 350 derajat Celsius selama kurang lebih tujuh sampai delapan jam. Plastik kan asalnya dari minyak bumi, kita kembalikan menjadi minyak bumi,” jelas Heru.

Bahan baku yang digunakan merupakan sampah plastik bernilai ekonomi rendah yang selama ini sulit terserap oleh industri daur ulang. Jenis sampah tersebut umumnya hanya menjadi residu di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) karena harga jualnya sangat rendah.

“Sampah yang kita kelola itu sampah yang biasanya di TPST tidak laku dan dianggap residu. Kalaupun dijual nilainya kecil sekali, hanya sekitar Rp100 sampai Rp200 per kilogram. Dengan adanya teknologi pirolisis ini, yang tadinya tidak berharga bisa menjadi berharga,” katanya.

Heru mengungkapkan, setiap satu kilogram sampah plastik dapat menghasilkan sekitar 0,8 hingga 0,9 liter bahan bakar cair. Setelah proses pirolisis selesai, hasilnya masih harus melalui tahap pemurnian agar menjadi petasol yang siap digunakan pada berbagai mesin berbahan bakar solar.

Dari hasil pengujian yang dilakukan, kualitas petasol dinilai cukup kompetitif. Nilai cetane petasol mencapai angka 51, lebih tinggi dibandingkan standar solar yang umumnya berada pada kisaran angka 48.

“Kalau solar itu punya standar sendiri, nilai cetanenya sekitar 48. Nah kalau petasol ini sampai 51, bahkan lebih baik daripada solar. Memang masih ada beberapa aspek yang perlu disempurnakan, tetapi secara prinsip aman digunakan,” ujarnya.

Selain menawarkan manfaat lingkungan, teknologi pirolisis juga dinilai menjanjikan dari sisi ekonomi. Biaya produksi petasol diperkirakan hanya sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000 per liter, sementara harga jual internal saat ini mencapai Rp10.000 per liter.

“Keuntungan bisa sekitar Rp6.000 sampai Rp7.000 per liter. Dalam sehari bisa menghasilkan sekitar 40 sampai 45 liter dari 50 kilogram sampah plastik,” kata Heru.

Ia menambahkan hampir seluruh jenis sampah plastik bernilai rendah dapat diolah menjadi petasol. Namun terdapat pengecualian untuk plastik jenis Polyvinyl Chloride (PVC) karena mengandung klorin yang berpotensi menghasilkan emisi berbahaya saat melalui proses pemanasan.

Semakin kering dan bersih bahan baku yang digunakan, kualitas petasol yang dihasilkan juga akan semakin baik sehingga teknologi pirolisis dinilai memiliki peluang besar untuk mendukung pengelolaan sampah plastik dan pengembangan energi alternatif di Bantul.

“Prinsipnya semua sampah plastik low value bisa diolah, semakin kering dan bersih maka kualitasnya semakin baik. Yang tidak bisa itu jenis PVC karena kandungan klorinnya cukup tinggi,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news