Sesuai nomor antrean, dia orang yang ke 42 datang memasuki ruangan saya utuk melamar pekerjaan. Rambutnya yang gondrong mengkilat, senyumnya yang menawan membuat wajahnya terlihat semakin menarik di mata perempuan seperti saya. Pada aroma tubuhnya tidak ada tercium wewangian yang menyegat, seperti pelamar lain yang datang dengan keharuman yang dipaksakan dan penampilan berlebih-lebihan yang tidak mencerminkan keaslian. Mereka datang duduk dengan kesopanan yang menipu, memperlihatkan senyum karena ada maunya, seolah mereka adalah orang-orang terbaik di dunia yang harus saya pilih. Hatinya yang busuk berharap-harap cemas dapat saya terima. Saya melihat keburukan pada muka mereka yang merunduk-runduk di depan saya siap dijadikan seorang hamba untuk menjilat-jilat atasannya. Dan saya tidak akan tertipu pada mereka yang menunjukkan kesopanan palsu. Mereka yang datang bertopeng takbisa mengelabui pandangan saya yang tajam dan sudah lama berpengalaman menginterview orang.
Mereka yang datang pura-pura, bisa saya telanjangi kedoknya dengan membeberkan bukti. Pemilik kantor ini pernah berpesan pada saya, “Seekor biang kerok, tidak diizinkan bekerja di sini.” Kebetulan saya dipercayai untuk memilih mereka yang akan bekerja. Saya adalah tangan kanan perusahaan. Kepercayaan yang diemban pada saya tidak akan saya sia-siakan, termasuk dalam memilih karyawan. Saya lebih butuh orang jujur, walaupun tidak terlalu pintar. Asal ia sungguh-sungguh dan suka menghadapi tantangan, pasti ia berhasil. Daripada orang-orang pintar tidak benar, juga tidak punya hati nurani.
Semua yang sudah interview hampir keseluruhannya orang-orang yang tidak jujur. Saya tahu setelah melihat keningnya yang kelam, seolah-olah ada kebohongan yang memancar di sana. Apalagi setelah mereka beramah tamah berlebih-lebihan. Tapi orang yang satu ini, saya yakin dia pasti orang jujur. Saya melihat dengan mata batin saya. Dia duduk dengan tenang. Tak sedikitpun ada geraknya yang gerogi. Dari matanya yang bukan mata maling, keluar cahaya kejujuran. Dia menatap saya sekilas, kemudian tersenyum. Saya bertanya padanya,
“Berapa gaji yang sampean butuhkan jika sampean diterima?” sambil saya menyelidiki gerak-geriknya yang tidak mencurigakan, dan dia terlihat begitu santai, menggerak-gerakkan kepalanya.
“Tidak kurang dari lima juta perbulan,” benar-benar aneh orang yang satu ini. Tapi justru orang yang nekat dan berani seperti dialah yang saya butuhkan. Biasanya jika saya melempar pertanyaan seperti itu kepada orang lain, mereka hanya manggut-manggut tak jelas, dan tak memberi jawaban. Ada juga yang berkomentar yang membuat saya muak. Tapi saya tahu apa yang ada dalam pikiran mereka yang berkepala gelap.
“Kenapa sampean berani meminta gaji sebesar itu?” Pertanyaan saya tidak membuatnya takut. Dia menjawab penuh keyakinan.
“Karena saya percaya pada diri saya, saya berhak mendapatkat gaji segitu. InsyAllah pasti saya bisa bekerja dengan baik. Dan saya rasa gaji itu tidak terlalu besar buat saya yang siap bekerja keras, dan siap menanggung risiko atas apa yang saya perbuat.”
“Bagaiamana kalau pekerjaannya saya perberat?”
“Untuk orang seperti saya yang suka menghadapi tantangan, pasti bisa melakukannya.”
“Bagaimana kalau berantakan?”
“Sampean tinggal memecat saya,” dia melihat saya seperti sudah dikenalnya sejak lama, ia menggerak-gerakkan jarinya.
“Kalau ternyata sampean lulus interview ini, tahu tugasnya nanti apa?” matanya yang liar menerawang menatap ruangan sekeliling, dan ia menggeleng.
“Lo, sampean ini gimana sih. Melamar pekerjaan, tapi tidak tahu posisinya sebagai apa?” Saya sendiri yang bingung dibuatnya, apa dia hanya berpura-pura. Setelah itu saya melihat dia tersenyum menyihir saya. Apa dia mengerjai saya? Berani sekali dia, dan anehnya saya tidak marah setitik pun. Apa saya terlanjur sudah menyukainya dalam pertemuan pertama ini?
“Kenapa tersenyum?” tanya saya dengan tatapan tajam. Senyumnya semakin lebar dan menggoda, apalagi untuk seorang wanita seperti saya.
“Sampean ini aneh, masa bertanya pada saya, apa tugas saya kalau lulus dari interview ini. Ya, jelas saya tahulah. Sampean kira saya sama dengan mereka yang tubuhnya babak belur karena kelaparan itu. Mereka telah dimiskinkan oleh koruptor di negeri ini.”
Saya tidak tahu apa maksudnya. Saya tidak tahan untuk tidak bertanya.
“Maksud sampean, mereka orang-orang miskin?”
“Ya, termasuk. Mereka kan banyak yang melamar pekerjaan apasaja. Sampai-sampai mereka tidak tahu pekerjaan yang dilamarnya sebagai apa. Mereka hanya menunggu, dan yang mereka tahu di situ ada pekerjaan dan di situ ada gaji untuk menyambung hidup mereka. Karena itu mereka datang berbondong-bondong siap diperintah. Dan negara takpernah peduli nasib mereka yang tragis.” Sepertinya ia menyeret saya bicara tentang rakyat jelata. Jauh sekali melompat pembicaraannya, melebar entah ke mana.
“Oh…..obrolan sampean sudah terlalu jauh.”
“Tidak, masih di sekitar-sekitar situ. Sampean saja yang belum paham.”
Saya tak bersuara dibuatnya sesaat. Sepertinya dia yang menginterview saya, seolah sayalah yang butuh pekerjaan, merangkak-rangkak meminta padanya. Sementara dia terus menggurui saya, dijadikannya seorang murid. Dan anehnya saya yang merasa lebih berpendidikan daripada dia, tidak ada setetes pun merasa kesal. Ia terkekeh, lalu terjadi lagi dialog di antara kami dalam ruangan yang dingin ini.
“Tolong, catat nomor hape dan alamat lengkap sampean!” Saya menyodorkan tangan memberi selembar kertas. Kemudian saya memandang ke luar lewat jendela kaca, melihat orang-orang yang menunggu antrean. Saya ingin dia cepat mengikuti perintah saya. Diam-diam saya senang melihat dia mengambil kertas itu, tapi dia tidak menulis apapun sesuai yang saya suruh. Dia meletak kertas itu di atas meja. Sebelum pergi dia berkata,
“Apa sampean tidak tahu, di dalam surat lamaran, saya mencantumkan nomor hape dan juga alamat lengkap. Sampean tidak baca?” Kali ini dia membuat saya marah. Tapi saya tak sanggup melampiaskannya. Apa yang terjadi pada diri saya. Kenapa dia bisa memperlakukan saya seperti ini di ruangan saya sendiri? Dan kenapa saya memilih diam? Mungkinkah saya telah jatuh hati pada lelaki berambut gondrong ini pada pandangan pertama? Ah, lupakan saja. Yang jelas dia belum jadi bawahan saya, yang bisa saya perintah sesuka hati dan saya hajar dengan kata-kata yang membabi buta. Ada waktunya nanti dia saya caci maki habis-habisan sampai babak belur. Dan saya akui kelemahan saya di depannya pada pertemuan ini. Saya yang biasa garang dan ganas, tiba-tiba menampakkan setitik kebodohan di depannya, orang yang saya anggap lebih bodoh dari saya. Dia pergi meninggalkan ruangan saya setelah pamit dan menampakkan ketampanannya. Perasaan saya berdesir, saya masih dalam keadaan terbisu, sambil memelototinya.
* * *
Pertemuan saya dengannya yang singkat itu, menjadikan pikiran saya mengingatnya terus. Akhirnya, setelah menyingkirkan rasa malu, saya datangi rumahnya, sengaja tak memberi kabar lewat telpon. Saya mengetuk pintu tanpa mengucap salam. Dia membuka pintu, dan melihat saya biasa saja, tidak dengan wajah terkejur. Walaupun dia mempersilakan saya masuk, tapi dia tidak menyuguhkan minuman, walaupun sekadar air putih. Sebagai seorang tamu, dia memperlakukan saya kurang sopan. Saya yang biasa dihormati berlebih-lebihan, tidak terlalu marah, walaupun sedikit tersinggung dengan kelakuannya. Saya hanya disuruh duduk di atas tikar yang baru ia bentang.
“Ada perlu apa sampean datang kemari?” dia yang memulai pembicaraan menghidupkan suasana. Pertanyaannya membuat saya kikuk. Sepertinya dia tak peduli dengan kehadiran saya, dan memang dia menunjukkan sikap tak terlalu membutuhkan pekerjaan dari saya.
“Apa sampean bersedia kerja sekantor dengan saya?” Lama tak menjawab. Dia memejamkan mata, seolah dia sedang berpikir.
“Kasih saya waktu dua atau tiga hari ini mempertimbangkannya.” Jatuh harga diri saya di depannya. Saya benar-benar bodoh, dan saya menyadari kebodohan itu yang mengangguk-angguk mengindahkan permohonannya. Padahal kalau saja saya mau, saya bisa mendapatkan orang secepatnya. Masalahnya saya tidak tertarik pada mereka yang berwajah palsu. Saya rasa, saya telah memilih orang yang tepat, yang memiliki kejujuran dan kepribadian yang matang. Dugaan saya dia tidak mudah dogoyahkan uang. Bukan karena saya merasa tahu, saya hanya diberi tahu oleh yang Maha tahu. Orang seperti dialah yang selama ini saya cari-cari. Dia tidak boleh lepas dari tangan saya. Lagi pula, sepertinya saya sudah terlanjur menyukainya.
* * *
Tiga hari berlalu, saya sibuk dengan aktivitas saya di kantor. Tapi pikiran saya selalu tertumbuk pada lelaki beramabut gondrong itu. Sampai sekarang ternyata dia belum datang menemui saya. Dia tidak bisa lepas dari pikiran saya. Dan terpaksa saya harus mengalah menemuinya kembali. Saya mengetuk pintu, dan dia membukanya. Saya melihat wajahnya pucat, jalannya lemas, lalu dia duduk di atas kasur yang telanjang, tidak ditutup dengan seprai.
“Sakit?” Saya memberanikan diri memegang keningnya yang panas, mengurut-urutnya.
“Sedikit,” jawabnya setelah ia menggigil sambil mendesis. Pertama saya datang ke rumahnya waktu itu, tak menemukan siapa pun selain dirinya sendiri. Sekarang pun saya tak menemukan siapa-siapa di rumahnya. Saya tak tahu apakah ia tinggal sendirian.
“Apakah sampean sudah menikah?” Dia menatap saya kaget, dan menjawab pertanyaan saya dengan ketus.
“Belum ada perempuan jujur yang saya temui, dan pantas untuk saya nikahi,” sebagai perempuan yang belum menikah, saya senang mendengar jawabannya itu. Lalu dia berdiri lemas, melangkah pelan-pelan mengambil gelas yang berisi susu di atas meja. Kenapa ia tidak minta tolong pada saya? kata hati saya.
“Jadi, sampean belum menikah sampai sekarang?” saya tanya lagi memastikan.
“Sampean pasti sudah tahu jawabannya. Sampean bertanya hanya sekadar basa-basi bukan? Kalau saya temukan perempuan jujur, saya pasti mengejarnya walaupun ia berlari seperti larinya seekor kuda. Saya pasti menunggunya walaupun dia sulit untuk datang. Sama seperti sampean yang mengejar-ngejar saya untuk bekerja sekantor dengan sampean, karena sampean yakin saya orang jujur, dan bukan seorang penjilat, apalagi maling, dan memang kenyataannya seperti itu, saya orang jujur.” Dari mana dia tahu isi hati saya. Dia yang memuji diri sendiri membuat saya tersenyum. Gelas yang di tangannya dia letak di atas lantai setelah meminum sedikit air susu, dan dia berdenting lagi menusuk telinga saya,
“Apa sampean bersedia menikah dengan saya?” saya yang bergetar terdiam sesaat. Wajah saya yang mendadak berpaling berubah merah.
“Perempuan cantik kan banyak, walaupun perempuan yang tidak jujur seperti sampean. Nanti dia jujur dengan sendirinya mengikuti jejak sampean,” sambil saya tersenyum, berharap dia membalas saya dengan candaan. Dan ternyata dia semakin berani menghabisi kepribadian saya.
“Sampean kira kejujuran itu mudah dirubah dan dibentuk. Jangan mimpi. Sampean tidak tahu, kejujuran tidak ada pendidikannya,” dia yang semakin lemas menyandarkan tubuh ke tembok, dan meluruskan kakinya yang pegal.
“Ngomong-ngomong, kenapa sampean punya kesimpulan mengatakan saya orang jujur?” Saya tak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu.
“Jangan-jangan sampean ada maunya maka memuji saya,” saya yakin dia tahu saya telah tertarik dengannya, alias menyukainya.
“Saya melihat kejujuran pertama kali saya bertemu dengan sampeyan. Dan saya langsung mencintai kejujuran itu.”
“Kenapa tidak sekalian sama orangnya,” cepat ia memotong pembicaraan saya, lalu dia bertanya lagi,
“Kenapa sampean bisa melihatnya?” suaranya semakin lemas. Saya mendengus sesaat, lalu menjawabnya.
“Karena saya juga orang jujur, sama seperti sampeyan yang benci pada kemunafikan.”
Saya harap ia tidak bertanya lagi.

17 hours ago
4


















































