Kemenkes Sediakan 666 Ribu Kuota Pelatihan Online Gratis untuk SPPG

6 hours ago 4

Kemenkes Sediakan 666 Ribu Kuota Pelatihan Online Gratis untuk SPPG Foto ilustrasi dapur Makan Bergizi Gratis, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Kesehatan menyediakan kuota pelatihan gratis sebanyak 666.000 orang bagi penjamah pangan di seluruh Indonesia guna meningkatkan kompetensi dan menjamin standar keamanan pangan pada dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga kualitas makanan bergizi yang diberikan kepada masyarakat melalui SPPG sebagai mitra penyalur program pemenuhan gizi nasional.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr. Then Suyanti, mengingatkan bahwa pelatihan ini perlu digencarkan karena pemanfaatannya saat ini masih relatif rendah. Menurut data Kemenkes, dari total kuota 666.000, baru sekitar 224.000 orang yang mengakses pelatihan, atau sekitar 33 persen.

“Jadi kami masih membuka kuota ini sampai akhir tahun. Pelatihan ini gratis dan bisa diakses 24 jam kapan pun melalui platform digital,” ujar Then dalam dialog bertajuk “Dari Pangan Bergizi Menuju Kecerdasan Bangsa” pada APPMBGI National Summit 2026, Jakarta, Sabtu.

Pelatihan tersebut dilaksanakan secara daring melalui sistem Massive Open Online Course (MOOC) di laman resmi LMS Kemenkes Pelataran Sehat. Materi pelatihan yang diberikan telah tersertifikasi sebanyak 8 Jam Pelajaran (JPL), mencakup kebijakan keamanan pangan, higiene perorangan, serta sanitasi peralatan dan lingkungan dapur.

Materi tersebut dirancang untuk memastikan penjamah pangan memahami alur kritis pengolahan makanan siap saji yang aman, dari penerimaan bahan baku hingga penyajian.

Then menegaskan bahwa pelatihan menjadi kunci penting dalam proses penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dapur SPPG. Sebuah dapur SPPG tidak akan memperoleh SLHS jika penjamah pangannya belum mengikuti pelatihan dan belum tersertifikasi.

“Sebenarnya tidak ada halangan bagi penjamah pangan untuk tidak terlatih. Jika ada kendala teknologi atau gagap teknologi, kami minta kepala SPPG atau yayasan membantu memfasilitasi para pekerjanya untuk mengakses materi tersebut,” jelasnya.

Sistem pelatihan ini dirancang fleksibel dengan metode pre‑test dan post‑test. Kemenkes memberikan kesempatan bagi peserta yang belum lulus untuk mengulang materi secara terus‑menerus hingga mencapai standar kelulusan yang telah ditetapkan. Dengan metode seperti ini, diharapkan pelatihan dapat diikuti oleh penjamah pangan yang berada di berbagai daerah, baik di perkotaan maupun di pelosok desa, tanpa terbentur waktu maupun jarak.

“Kami ingin memastikan para penjamah pangan di seluruh pelosok Indonesia bisa mengikuti pelatihan ini tanpa terkendala biaya dan jarak,” kata Then, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya besar Kementerian Kesehatan dalam percepatan sertifikasi bagi 26.000 dapur SPPG yang menjadi mitra pemerintah dalam program pemenuhan gizi nasional.

Dengan percepatan sertifikasi SLHS, pengelola SPPG diharapkan segera memanfaatkan kuota yang tersedia agar operasional dapur mereka memenuhi standar kesehatan lingkungan dan keamanan pangan, sehingga makanan yang disajikan kepada masyarakat benar‑benar aman, bergizi, dan bebas risiko kontaminasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news