Gelombang Pasang Hantam Pandansimo, 3 Rumah Rusak Berat

2 hours ago 1

Gelombang Pasang Hantam Pandansimo, 3 Rumah Rusak Berat

Ngatiman merapikan puing-puing bangunan rumahnya yang hancur diterjang gelombang tinggi. Harian Jogja-Kiki Luqman\r\n\r\n

Harianjogja.com, BANTUL— Gelombang pasang menerjang kawasan Pantai Pandansimo, Kalurahan Poncosari, Srandakan, Bantul, Selasa (11/8/2026) pagi. Terjangan air laut membuat sedikitnya tiga rumah warga mengalami kerusakan berat hingga tidak dapat ditempati.

Rumah milik Ngatiman, 50, menjadi bangunan yang mengalami kerusakan paling parah. Sekitar separuh bagian rumahnya ambruk setelah dihantam gelombang pasang yang disebutnya mencapai bagian atas bangunan hingga melewati genting.

Ngatiman Lari Saat Gelombang Menghantam Rumah

Ngatiman menuturkan gelombang pasang datang sekitar pukul 07.00 WIB ketika dirinya sedang berada di dapur untuk menanak nasi. Ia tiba-tiba mendengar suara benda dan bangunan seperti terkena hantaman keras.

"Saya mendengar suara ribut gitu, kemudian saya lari keluar rumah lewat pintu sisi utara rumah," ungkap Ngatiman, Rabu (12/8/2026).

Belum sempat menjauh dari rumah, gelombang besar langsung menghantam tempat tinggalnya. Air laut bahkan mencapai bagian atas rumah hingga melewati genting.

Hantaman tersebut membuat sekitar separuh bangunan rumah ambruk. Atap ikut runtuh, sedangkan dinding depan yang terbuat dari batako hancur akibat kuatnya terjangan air laut.

"Setnegah bangunan rumah sama atapnya langsung hancur diterjang gelombang pasang. Dinding bagian depan rumah juga hancur berkeping-keping diterjang dahsyatnya gelombang pasang," ujarnya.

"Beruntung saya bisa lari ke luar rumah rumah. Soalnya tembok dari batako," tambahnya.

Kerusakan juga membuat berbagai perabot rumah tangga milik Ngatiman hancur. Peralatan elektronik, termasuk kulkas, rusak, sedangkan meja dan kursi ikut terdampak. Piring dan gelas juga tidak tersisa.

"Airnya bisa sampai 50 meter ke daratan, jadi memang gelombang pasangnya tinggi sekali," ungkapnya.

Dua Rumah Lain Ikut Rusak Berat

Selain rumah Ngatiman, dua rumah yang berada di sisi selatan juga mengalami kerusakan berat akibat gelombang pasang. Kedua rumah tersebut beruntung tidak sedang ditempati ketika air laut menerjang.

Salah satu rumah terkadang digunakan pemiliknya untuk berjualan makanan. Namun, ketika gelombang pasang terjadi, pemiliknya sedang berada di rumah yang berada di kawasan permukiman.

"Hanya satu rumah saja yang terkadang untuk jualan makanan, namun saat kejadian pemilik rumah tidur di rumah yang ada di kampung," ujarnya.

Gelombang Tinggi Masih Berpotensi Terjadi

Koordinator Satgas Linmas Jogo Segoro Pantai Parangtritis hingga Depok, Arief Nugraha, mengatakan gelombang tinggi di kawasan pantai mulai terasa sejak Senin (10/8) malam. Kondisi tersebut dipengaruhi angin yang bertiup cukup kencang di wilayah pesisir.

Pada Rabu (12/8/2026), kondisi gelombang sementara sudah lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Meski demikian, masyarakat dan wisatawan diminta tetap memperhatikan perubahan kondisi laut karena gelombang tinggi masih berpotensi kembali terjadi pada sore hari.

"Sekarang sudah tidak tinggi, tapi mungkin sore tinggi lagi,” ujarnya.

Aktivitas wisatawan di Pantai Parangtritis masih berlangsung meski gelombang sempat meninggi. Menurut Arief, kondisi tersebut masih dapat diantisipasi selama wisatawan memperhatikan arahan petugas dan tidak mendekati area berisiko.

Warung di Sempadan Pantai Dinilai Berisiko

Arief juga menyoroti keberadaan sejumlah kios dan warung yang berdiri cukup dekat dengan garis pantai, terutama di kawasan pesisir sebelah timur Pantai Parangtritis.

Menurutnya, posisi bangunan yang terlalu dekat dengan laut meningkatkan risiko bagi pemilik maupun bangunan ketika gelombang pasang terjadi.

Ia mengatakan kawasan sempadan pantai semestinya tidak digunakan untuk mendirikan bangunan. Selain berisiko terdampak gelombang tinggi, pendirian warung atau kios di lokasi tersebut juga bertentangan dengan aturan yang berlaku.

"Kalau bisa pesisir itu tidak usah ada warung-warung. Karena mendirikan warung di tepi pantai juga melanggar peraturan,” katanya.

Arief menambahkan potensi gelombang tinggi belum sepenuhnya berakhir. Berdasarkan perkiraan yang diterimanya, gelombang tinggi masih dapat terjadi dalam beberapa hari hingga sekitar satu pekan ke depan.

Kondisi tersebut berkaitan dengan siklus musiman yang diperkuat oleh angin kencang. Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan, khususnya bagi masyarakat yang beraktivitas di kawasan pesisir.

"Prediksi gelombang tinggi tiga hari sampai satu minggu," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news