
JJLS Kelok 18 - Foto ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Meningkatnya pembangunan di kawasan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta mulai memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan ekosistem karst. DPRD DIY mengingatkan berbagai proyek infrastruktur dan pengembangan ekonomi di wilayah tersebut harus memperhatikan daya dukung lingkungan agar tidak mengancam cadangan air dan keseimbangan alam di masa depan.
Perhatian itu mengemuka seiring berkembangnya berbagai proyek strategis di jalur selatan, termasuk Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), yang dinilai berpotensi mengubah bentang alam apabila tidak dibarengi langkah perlindungan lingkungan yang memadai.
Ketua Komisi C DPRD DIY, Nur Subiyantoro, mengatakan kawasan karst merupakan salah satu aset ekologis penting yang dimiliki Daerah Istimewa Yogyakarta. Karena itu, pembangunan yang berlangsung di wilayah selatan perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan.
"Adanya pembangunan-pembangunan di jalur wilayah selatan, JJLS, itu kan menerabas hutan. Jadi kekhawatiran-kekhawatiran kita terhadap perusakan alam akibat pembangunan ini sangat besar," katanya, Sabtu (11/7/2026).
Menurut Nur, persoalan yang perlu diperhatikan bukan hanya perubahan bentang alam akibat pembangunan fisik, tetapi juga potensi terganggunya fungsi ekologis kawasan karst yang selama ini berperan sebagai penyimpan air bawah tanah.
Keberadaan cadangan air di kawasan karst dinilai memiliki arti penting bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat, terutama ketika kebutuhan air bersih terus meningkat dan perubahan iklim mulai memengaruhi ketersediaan sumber daya air di berbagai wilayah.
"Di ekosistem karst itu ada potensi air yang bisa kita optimalkan sebagai cadangan air di Daerah Istimewa Yogyakarta," ujarnya.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah selatan DIY, keberadaan sistem karst tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan, tetapi juga berhubungan langsung dengan kebutuhan sehari-hari. Kerusakan kawasan tersebut dikhawatirkan dapat berdampak terhadap kemampuan alam menyimpan dan mengalirkan cadangan air dalam jangka panjang.
Meski demikian, DPRD DIY tidak menolak pembangunan maupun aktivitas ekonomi yang berkembang di kawasan selatan. Menurut Nur, pembangunan tetap dapat dilakukan selama menerapkan prinsip keberlanjutan dan tidak merusak karakter alami kawasan karst.
Ia menilai kawasan karst justru memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis alam yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar tanpa harus menghilangkan fungsi ekologisnya.
Pengembangan wisata berbasis alam dinilai dapat menjadi alternatif yang sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan. Dengan pendekatan tersebut, manfaat ekonomi tetap dapat dirasakan masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan kawasan karst sebagai bagian penting dari ekosistem DIY.
"Kalau memang mau ada aspek wisatanya juga ada tindak lanjut perlindungan dan pelestarian. Kalau menjadi kawasan ekonomi, ekonominya tetap ekonomi yang hijau, tidak merusak alam, tetapi justru melindungi alam," katanya.
Nur berharap setiap rencana pembangunan yang akan dilakukan di kawasan karst ke depan tidak hanya mempertimbangkan aspek investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhitungkan dampak lingkungan secara menyeluruh.
Menurutnya, keseimbangan antara pembangunan, pelestarian lingkungan, dan kebutuhan masyarakat menjadi faktor penting agar wilayah selatan DIY dapat berkembang tanpa kehilangan fungsi ekologis yang selama ini menopang keberlanjutan sumber daya alam.
Dengan semakin tingginya aktivitas pembangunan di kawasan selatan, perlindungan terhadap ekosistem karst menjadi isu yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih besar. Selain berperan menjaga keseimbangan lingkungan, kawasan ini juga menyimpan cadangan air yang dapat menjadi penopang kebutuhan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta pada masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
2

















































