Kabut Asap Karhutla Bisa Picu Serangan Jantung, Ini Penanganannya

5 hours ago 7

Newswire

Newswire Selasa, 25 Agustus 2026 06:27 WIB

Kabut Asap Karhutla Bisa Picu Serangan Jantung, Ini Penanganannya

Kondisi Jalanan Kota Pekanbaru terpantau asap mulai menyelimuti dengan kualitas udara tidak sehat. Antara/Bayu Agustari Adha\r\n

Harianjogja.com, BANJARBARU— Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak boleh dianggap sebagai bencana biasa. Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof Dr dr Syamsul Arifin, MPd, FISPH, FISCM mengingatkan paparan kabut asap dapat memicu gangguan kesehatan serius hingga mengancam nyawa.

"Data dari berbagai penelitian menunjukkan saat kabut asap melanda, kunjungan ke rumah sakit meningkat hingga 40 persen, terutama untuk kasus gangguan pernapasan dan jantung," kata dia di Banjarbaru, Senin.

Menurut Syamsul, masih terdapat masyarakat yang menganggap kabut asap sebagai "bencana biasa" yang harus diterima. Ia menilai anggapan tersebut justru berbahaya karena paparan polutan dapat berdampak terhadap kesehatan dalam jangka pendek maupun panjang.

"Anggapan ini keliru dan berbahaya," tegasnya.

PM2.5 Bisa Masuk hingga Aliran Darah

Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) ULM itu menjelaskan kabut asap terdiri atas partikel halus dan berbagai polutan yang dapat masuk ke dalam sistem pernapasan.

Salah satu komponen utamanya adalah PM2.5, yakni partikel dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer. Ukuran tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan rambut manusia yang memiliki diameter sekitar 50–70 mikrometer.

"Artinya, PM2.5 lebih dari 20 kali lebih kecil dari rambut kita," ujarnya.

Karena ukurannya sangat kecil, PM2.5 tidak dapat tertahan oleh rambut hidung maupun lendir pada saluran pernapasan bagian atas. Partikel tersebut dapat mencapai alveolus atau kantung udara di paru-paru dan bahkan masuk ke aliran darah.

Selain PM2.5, kabut asap juga membawa polutan lain seperti karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), serta senyawa organik volatil (VOC). Polutan tersebut memiliki sifat iritatif dan beberapa di antaranya bersifat karsinogenik.

Dampak kesehatan yang ditimbulkan dapat beragam, mulai dari iritasi ringan hingga gangguan yang lebih serius seperti serangan jantung dan kondisi yang mengancam jiwa.

Bayi hingga Penderita Penyakit Jantung Lebih Rentan

Syamsul mengatakan tidak semua orang memiliki tingkat risiko yang sama ketika terpapar kabut asap. Sejumlah kelompok memiliki kerentanan fisiologis sehingga membutuhkan perhatian lebih selama kualitas udara memburuk.

Kelompok tersebut meliputi bayi dan balita, ibu hamil, penderita asma atau penyakit paru, serta penderita penyakit jantung.

Karena itu, perlindungan diri menjadi penting ketika kabut asap menyelimuti suatu wilayah. Syamsul memberikan enam langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko paparan.

Enam Langkah Melindungi Diri dari Kabut Asap

1. Gunakan masker yang tepat

Masker KN95 atau N95 disarankan karena memiliki kemampuan filtrasi lebih dari 95 persen untuk partikel berukuran 0,3 mikrometer.

2. Kurangi aktivitas di luar ruangan

Semakin berat aktivitas fisik dilakukan, semakin cepat dan dalam seseorang bernapas. Kondisi tersebut membuat jumlah partikel yang masuk ke paru-paru menjadi lebih besar.

3. Tutup pintu dan jendela

Pintu dan jendela perlu ditutup untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan tetap baik ketika kondisi udara di luar dipenuhi kabut asap.

4. Cukupi kebutuhan air putih

Masyarakat dianjurkan minum air putih yang cukup selama terpapar kondisi kabut asap.

5. Bilas mata jika terasa perih

Jika mata mengalami iritasi atau terasa perih akibat paparan asap, bilas dengan air bersih.

6. Segera ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala berat

Masyarakat perlu segera mendapatkan penanganan medis apabila mengalami gejala berat, seperti nyeri dada, jantung berdebar, atau pusing secara mendadak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news