Iran Ancam Balas Serangan AS, Ketegangan Selat Hormuz Memanas

4 hours ago 2

Iran Ancam Balas Serangan AS, Ketegangan Selat Hormuz Memanas

Foto ilustrasi Iran vs Amerika Serikat. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Ketegangan Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah militer AS melancarkan operasi yang disebut sebagai serangan pertahanan diri. Merespons perkembangan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa setiap bentuk serangan maupun ancaman terhadap negaranya tidak akan dibiarkan tanpa respons.

Pernyataan keras itu disampaikan Abbas Araghchi melalui akun media sosial X pada Rabu (10/6/2026). Ia menilai langkah Amerika Serikat menunjukkan upaya untuk menguji keteguhan Iran setelah mengalami kegagalan dalam konfrontasi sebelumnya.

"Meskipun kalah di medan perang, AS memilih untuk menguji tekad kami," kata Araghchi dalam unggahannya.

Menurut dia, kekuatan militer Iran berada dalam kondisi siap menghadapi segala bentuk ancaman yang mengganggu kedaulatan negara. Karena itu, Teheran memperingatkan Washington agar tidak memperluas keterlibatannya di kawasan tersebut.

"Angkatan bersenjata kami yang kuat tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun tanpa balasan," tambahnya, sambil memperingatkan AS untuk "meninggalkan wilayah kami jika Anda ingin aman."

Araghchi juga menyinggung sejarah panjang kawasan Teluk Persia yang menurutnya menunjukkan konsekuensi buruk bagi pihak asing yang mencoba mencampuri urusan regional.

"Sejarah Teluk Persia memiliki banyak bab tentang nasib buruk para pendatang asing yang mengganggu," katanya.

Peringatan tersebut muncul setelah sejumlah wilayah di selatan Iran dilaporkan mengalami serangan dan ledakan. Media setempat menyebut insiden terjadi di Pulau Qeshm, Sirik, Minab, dan Jask yang berada di Provinsi Hormozgan. Situasi itu mendorong aktivasi sistem pertahanan udara di Bandar Abbas, Qeshm, dan Sirik.

Meski demikian, televisi pemerintah Iran kemudian melaporkan bahwa gelombang serangan yang sempat terjadi mulai mereda dan kondisi keamanan di kawasan tersebut berangsur stabil.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa pasukannya telah memulai serangan yang diklaim sebagai tindakan pertahanan diri terhadap Iran. Operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas insiden jatuhnya helikopter Apache Angkatan Darat AS yang terjadi sebelumnya.

Sehari sebelum pernyataan terbaru itu, Araghchi juga telah menyampaikan peringatan kepada seluruh pasukan asing yang berada di sekitar wilayah Iran. Dalam unggahan di media sosial X pada Selasa (9/6/2026), ia meminta kekuatan militer asing meninggalkan kawasan guna menghindari risiko konflik yang lebih besar.

"Pasukan asing di sekitar wilayah kami selalu berisiko karena kesalahan mereka sendiri, kecelakaan biasa, atau berpotensi terjebak dalam baku tembak. Untuk mengurangi risikonya, solusi terbaik adalah dengan mereka pergi. Kami lebih menyukai upaya diplomasi, tetapi juga 'berbicara dalam bahasa lain'," demikian cuitan Araghchi di media sosial X.

Ia juga menegaskan bahwa Selat Hormuz bukan merupakan perairan internasional dan lokasinya berada ribuan mil dari wilayah Amerika Serikat. Karena itu, menurutnya, keberadaan kekuatan asing di sekitar kawasan tersebut berpotensi memperbesar risiko ketegangan.

Menteri Luar Negeri Iran itu menambahkan bahwa angkatan bersenjata negaranya terus berada dalam kondisi siaga untuk menghadapi setiap kemungkinan pelanggaran wilayah udara maupun ancaman terhadap keamanan nasional Iran.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada Senin (8/6/2026) menyatakan helikopter AH-64 Apache milik Amerika Serikat yang jatuh di lepas pantai Oman ditembak oleh Iran sehingga perlu mendapatkan respons dari Washington.

Namun, Komando Pusat AS memberikan keterangan berbeda kepada RIA Novosti. Menurut CENTCOM, helikopter tersebut jatuh ketika sedang melakukan patroli di perairan kawasan dekat Oman. Kedua pilot berhasil dievakuasi dalam hitungan jam dan dilaporkan berada dalam kondisi stabil. Perkembangan terbaru terkait ketegangan Iran dan AS ini terus menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan kawasan Teluk Persia serta jalur strategis perdagangan energi dunia di sekitar Selat Hormuz.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news