Harga Tanah di Sekitar Kelok 23 Melonjak, Investor Belum Masuk

7 hours ago 4

Harianjogja.com, BANTUL—Lonjakan harga tanah terjadi di kawasan sekitar proyek Kelok 23 yang menghubungkan wilayah di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul. Kenaikan signifikan ini terjadi saat proyek jalan hampir rampung, namun belum diikuti masuknya investor ke kawasan tersebut.

Di sejumlah titik seperti Padukuhan Poyahan dan Padukuhan Biro di Seloharjo, harga tanah kini menembus Rp300.000 per meter persegi dari sebelumnya hanya Rp50.000. Lonjakan ini terjadi dalam waktu relatif singkat sejak proyek mulai berjalan.

Lurah Seloharjo, Marhadi Badrun, menyebut kenaikan dipicu kombinasi proyek infrastruktur dan rencana pengembangan kawasan, termasuk keberadaan Gua Jepang sebagai penanda keistimewaan.

"Kenaikannya itu pas ada informasi bahwa Gua Jepang akan jadi penanda keistimewaan ditambah pula dengan adanya proyek Kelok 23, jadi tambah naik," katanya, Rabu (15/4/2026).

Meski demikian, potensi ekonomi kawasan tersebut belum sepenuhnya tergarap. Hingga kini belum ada investor yang menanamkan modal, padahal lokasi hanya berjarak sekitar dua hingga tiga kilometer dari jalur utama Kelok 23.

"Potensinya dari sektor pariwisata ya sebenarnya lumayan untuk dikembangkan," ujar Badrun.

Hal serupa disampaikan Kepala DPMPTSP Bantul, Annihayah. Ia mengakui belum ada pengajuan investasi yang masuk, meskipun peluang dari sektor wisata dan agrowisata dinilai cukup besar.

"Sampai sekarang belum ada yang masuk ke dinas kami," ujarnya.

Pemkab Bantul berencana mempromosikan potensi kawasan ini dalam ajang ekspos tingkat provinsi pada Mei mendatang. Salah satu yang akan ditawarkan adalah Bukit Dermo sebagai destinasi potensial.

"Dari hasil kajiannya di seputaran Kelok 23 itu kan cocoknya wisata sama agrowisata. Agrowisata karena itu kan ada durian, ada buah-buahan dan lain sebagainya di situ," jelasnya.

Namun, pengembangan kawasan menghadapi kendala karena sebagian besar lahan berstatus Sultan Ground (SG). Status ini membuat proses perizinan lebih kompleks dibandingkan lahan biasa, sekaligus membatasi pemanfaatan agar tetap berorientasi pada investasi ramah lingkungan.

"Benar sekali, kawasan itu memang didorong lebih kepada wisata pertanian dan perkebunan," kata Annihayah.

Sementara itu, progres pembangunan Kelok 23 terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga 12 April 2026, capaian fisik proyek telah mencapai 91,60 persen, melampaui target awal sebesar 90,38 persen.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.2 Satker PJN DIY, Ridwan Subarkah, menyampaikan pekerjaan yang tersisa hanya pemasangan satu jembatan di STA 3+700 di perbatasan Bantul dan Gunungkidul.

"Targetnya 28 Agustus pengerjaan fisik semua selesai, tapi mungkin belum dibuka, jadi ada jeda waktu mungkin sebentar," katanya.

Kelok 23 nantinya memiliki panjang sekitar 5 kilometer dengan lebar jalan 7 meter. Selain badan jalan, pembangunan juga mencakup dua jembatan, sistem drainase, serta perlindungan lereng mengingat kontur kawasan berupa perbukitan.

"Mengingat kontur lokasi yang merupakan perbukitan antara Bantul dan Gunung Kidul, perlindungan lereng menjadi fokus utama kami," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news