Crossway Terendam Bertahun-Tahun, Warga Gedangsari Minta Jembatan Baru

6 hours ago 5

Crossway Terendam Bertahun-Tahun, Warga Gedangsari Minta Jembatan Baru Proses pengerukan aliran kali di Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, untuk mengurangi risiko banjir di kawasan tersebut, Selasa (15/4 - 2026). / Istimewa / Humas Pemkab Gunungkidul

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Banjir yang kerap merendam akses penyeberangan di Kalurahan Hargomulyo, Gedangsari, memicu desakan warga agar tidak hanya dilakukan pengerukan sungai, tetapi juga pembangunan jembatan permanen. Selama ini, genangan air membuat aktivitas warga terganggu karena akses utama tidak bisa dilalui saat hujan deras.

Lurah Hargomulyo, Sumaryanta, mengatakan warga menginginkan solusi jangka panjang berupa jembatan baru menggantikan crossway yang sering tergenang. “Untuk saat ini adanya crossway. Tapi, seringkali tergenang air saat musim penghujan sehingga tidak bisa dilalui,” kata Sumaryanta, Rabu (15/4/2026).

Ia menjelaskan, banjir tidak hanya disebabkan sedimentasi di alur sungai, tetapi juga karena penyumbatan di kolong crossway akibat sampah, batang, dan ranting yang terbawa arus. Kondisi ini membuat aliran air tidak lancar dan meluap ke permukaan.

“Kalau tersumbat, aliran tidak lancar sehingga meluap ke atas crossway,” ungkapnya.

Menurutnya, pengerukan sungai memang sudah mulai dilakukan. Namun, pemerintah kalurahan bersama warga berharap pembangunan jembatan permanen dapat segera direalisasikan agar akses tetap aman saat banjir.

“Harapannya ada pembangunan jembatan agar saat terjadi banjir bisa tetap dilalui. Sebab, kalau hanya crossway potensi tergenang masih tinggi saat hujan deras,” katanya.

Dampak banjir tidak hanya memutus akses jalan, tetapi juga menggenangi fasilitas umum di sekitar aliran sungai, seperti lapangan dan taman kanak-kanak. Sumaryanta menyebut banjir di wilayah ini sudah terjadi sejak 1990-an.

Sebelumnya, Panewu Gedangsari, Eko Krisdiyanto, menyampaikan banjir di Kali Hargomulyo dipicu sedimentasi parah yang telah berlangsung sekitar 36 tahun. Kondisi tersebut membuat aliran sungai dangkal sehingga mudah meluap saat hujan deras.

Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) kini melakukan pengerukan di sepanjang aliran untuk memperlancar arus air. “Memang butuh pengerukan karena endapan lumpur sudah tinggi sehingga seringkali terjadi banjir saat hujan deras,” kata Eko.

Ia menambahkan, crossway tersebut juga menjadi akses penting menuju SMP Negeri 2 Gedangsari. Saat terendam, warga dan pelajar harus memutar lewat jalur yang lebih jauh demi keselamatan.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengatakan pengerukan dilakukan sepanjang sekitar 100 meter oleh BBWSSO. Ia menyebut proses tersebut juga disertai normalisasi pada pertemuan arus sungai agar tidak langsung menghantam badan crossway.

“Kami sudah meninjau ke lokasi yang akan dikeruk,” kata Endah.

Pengerjaan ini ditargetkan selesai dalam waktu sepuluh hari dengan tujuan mempercepat aliran air agar masuk ke kolong crossway dan mengurangi genangan.

Meski demikian, Endah menegaskan upaya pengurangan risiko banjir tidak bisa hanya mengandalkan pengerukan. Ia mengajak masyarakat menjaga kebersihan sungai dengan rutin melakukan kerja bakti.

Selain itu, warga juga diminta tidak menanam tumbuhan seperti rumput kolonjono di aliran sungai karena dapat mempercepat sedimentasi. “Aliran kali jangan digunakan untuk menanam karena mempercepat proses sedimentasi sehingga bisa menimbulkan banjir,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news