
Hewan Kurban - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Pasar hewan kurban di wilayah Bantul mulai bergerak menjelang Hari Raya Iduladha, namun kondisi penjualannya justru memperlihatkan tren yang tidak merata di antara para peternak. Sebagian pelaku usaha mencatat kenaikan signifikan, sementara yang lain justru mengalami penurunan meskipun harga hewan kurban mengalami kenaikan.
Perbedaan kondisi tersebut juga terlihat dari aktivitas peternakan di sejumlah titik, termasuk di wilayah Bangunjiwo dan Pleret yang menjadi salah satu sentra penjualan sapi kurban.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP Bantul) masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan stok dan transaksi di lapangan, karena data final pembelian hewan kurban belum sepenuhnya terkumpul.
Pemilik Ubi Jaya Farm di Bangunjiwo, Bangunjiwo, Kasihan, Supardiono, menyebutkan penjualan sapi tahun ini mengalami peningkatan drastis dibanding tahun sebelumnya. Bahkan, ia mencatat kenaikan hingga dua kali lipat dalam periode yang sama.
“Kalau saya penjualan sapinya banyak peningkatan. Kebetulan saya cuma jual sapi saja. Peningkatannya sekitar 100 persen dibanding tahun lalu,” kata Supardiono saat dihubungi, Kamis (21/5/2026).
Ia menjelaskan sebagian besar stok sapi yang ia miliki telah terserap pasar. Hingga saat ini lebih dari 40 ekor sapi atau sekitar 90 persen dari total stok sudah terjual. Harga sapi atau lembu tahun ini juga mengalami kenaikan, berada di kisaran Rp23 juta hingga Rp30 juta per ekor.
Meski permintaan meningkat, Supardiono tetap berhati-hati dalam menambah stok. Hal ini dipengaruhi kekhawatiran terhadap dampak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sebelumnya sempat menyerang ternak dan menyebabkan kerugian peternak.
“Stok enggak banyak karena masih trauma PMK. Tahun kemarin banyak yang tumbang kena PMK,” ujarnya.
Kondisi berbeda dialami peternak di wilayah Pleret, Pleret, Agus Basuki. Ia mengaku penjualan hewan kurban tahun ini justru mengalami penurunan cukup tajam dibanding tahun lalu.
“Iya, turunnya hampir separuh. Tidak seperti tahun lalu,” kata Agus.
Hingga saat ini, sekitar 30 ekor hewan kurban miliknya telah terjual. Jika dibandingkan tahun lalu, ia bisa menjual lebih dari 50 ekor. Meski demikian, harga hewan kurban tetap mengalami kenaikan, sehingga tidak sepenuhnya menutupi penurunan volume penjualan.
“Tahun ini baru 30, tahun ada sekitar 50 lebih lakunya. Untuk harga sendiri jauh lebih mahal tahun ini,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo menyebutkan bahwa animo pembelian hewan kurban di wilayahnya secara umum belum menunjukkan peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Namun, ia menegaskan data lengkap masih dalam proses pendataan di lapangan.
“Kalau dilihat sementara, sepertinya lebih banyak tahun lalu tapi saya lupa datanya sekitar berapa,” kata Joko.
Pemantauan terus dilakukan seiring dinamika pasar yang masih bergerak menjelang puncak permintaan hewan kurban, terutama pada hari-hari terakhir sebelum Iduladha ketika transaksi biasanya meningkat tajam di tingkat peternak maupun pedagang lokal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

6 hours ago
9

















































