Jumali Rabu, 13 Mei 2026 12:17 WIB
Harianjogja.com, JOGJA—Dua dekade setelah lahir di asrama Harvard, Facebook kini menghadapi tantangan terbesar dalam sejarahnya. Di tengah lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI), perusahaan induknya, Meta, mulai disebut memasuki “Era Zombie” karena dinilai masih menghasilkan uang besar tetapi perlahan kehilangan relevansi budaya dan pengguna muda.
Istilah tersebut muncul dalam kolom jurnalis investigasi Julia Angwin di The New York Times pada Mei 2026.
Menurut Angwin, Facebook kini mengalami situasi serupa dengan nasib Yahoo dan AOL pada masa kejayaannya: masih hidup secara bisnis, tetapi perlahan ditinggalkan generasi baru internet.
Facebook Dinilai Tak Lagi Relevan bagi Anak Muda
Facebook resmi memasuki usia ke-20 pada Februari 2026. Namun perayaan itu justru dibayangi kekhawatiran soal masa depan platform tersebut.
Meski Meta masih mencatat miliaran pengguna aktif bulanan melalui Facebook, Instagram, WhatsApp, Messenger, dan Threads, pertumbuhan pengguna disebut mulai melambat.
Bahkan untuk pertama kalinya, jumlah pengguna aktif harian keluarga aplikasi Meta dilaporkan turun dibanding kuartal sebelumnya.
Menurut Angwin, generasi muda kini mulai menganggap Facebook sebagai platform “ketinggalan zaman” dan tidak lagi relevan secara budaya.
Fenomena tersebut disebut mirip dengan bagaimana generasi internet baru meninggalkan layanan lama seperti Yahoo dan AOL.
Pendapatan Naik, Tapi AI Jadi Beban Baru
Secara finansial, Meta sebenarnya masih mencatat pertumbuhan besar pada kuartal pertama 2026.
Perusahaan membukukan pendapatan lebih dari US$56 miliar dengan laba bersih sekitar US$26,8 miliar.
Namun sebagian besar kenaikan laba disebut berasal dari keuntungan pajak satu kali, bukan dari pertumbuhan bisnis inti.
Di sisi lain, Meta justru meningkatkan pengeluaran besar-besaran untuk pengembangan AI.
Perusahaan menaikkan proyeksi belanja modal 2026 menjadi sekitar US$125 miliar hingga US$145 miliar untuk membangun pusat data dan infrastruktur AI baru.
Beberapa proyek besar yang sedang dibangun mencakup data center di Texas dan Oklahoma.
Investor Mulai Khawatir
Langkah agresif Meta di sektor AI memicu kekhawatiran investor. Setelah laporan keuangan terbaru dirilis, saham Meta sempat turun tajam dalam perdagangan after-hours. Pasar disebut mulai mempertanyakan kapan investasi AI raksasa tersebut benar-benar menghasilkan keuntungan nyata.
Ketika ditanya soal pengembalian investasi AI, CEO Mark Zuckerberg disebut belum memberikan jawaban pasti mengenai kapan hasil finansial besar akan terlihat.
PHK dan Perburuan Talenta AI
Di tengah pengeluaran AI yang terus meningkat, Meta juga dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap ribuan karyawan.
Langkah efisiensi tersebut dilakukan untuk mendanai investasi AI dan perekrutan talenta teknologi baru.
Ironisnya, saat memangkas pegawai, perusahaan justru aktif memburu ahli AI dengan kompensasi fantastis untuk memperkuat pengembangan teknologi “superintelligence” yang sedang dipromosikan Zuckerberg.
TikTok dan Platform Baru Jadi Ancaman
Tantangan terbesar Meta saat ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga perubahan perilaku pengguna. Generasi muda kini lebih aktif menggunakan platform video pendek dan komunitas privat dibanding media sosial tradisional. TikTok disebut menjadi salah satu pesaing utama yang paling banyak menarik perhatian pengguna Gen Z.
Meski Facebook dan Instagram masih memiliki basis pengguna besar, sejumlah analis menilai Meta mulai kesulitan mempertahankan dominasi budaya digital seperti satu dekade lalu.
Kini, pertanyaan terbesar bagi Meta bukan lagi soal bertahan hidup secara bisnis, tetapi apakah perusahaan masih mampu mempertahankan relevansinya di mata generasi internet berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

5 hours ago
10

















































