Event Jogja Mei: TBY Gelar Tari Kontemporer Lintas Generasi

2 hours ago 1

 TBY Gelar Tari Kontemporer Lintas Generasi

Sejumlah koreografer saat memaparkan konsep tari yang akan ditampilkan dalam ajang Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi, Senin (18/5/2026). /Harian Jogja-Yosef Leon.

Harianjogja.com, JOGJA—Taman Budaya Yogyakarta kembali menghadirkan ruang kreatif bagi pelaku seni tari melalui agenda bertajuk Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi. Pertunjukan tersebut dijadwalkan berlangsung di Gedung Concert Hall TBY pada Rabu (20/5/2026) malam dan mempertemukan koreografer dari tiga generasi berbeda dalam satu panggung seni kontemporer.

Program seni tari itu menjadi bagian dari upaya TBY memperkuat regenerasi sekaligus memperluas jejaring seni pertunjukan kontemporer di Jogja. Kegiatan tersebut juga didukung Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Kementerian Kebudayaan Tahun 2026.

Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni Budaya TBY, Cerrya Wuri Waheni, mengatakan forum lintas generasi sengaja dihadirkan untuk membuka dialog kreatif antar-koreografer dengan pengalaman artistik berbeda.

“Melalui pertemuan lintas generasi ini, kami ingin menghadirkan dialog antargenerasi sekaligus memperlihatkan bagaimana seni tari kontemporer terus berkembang melalui sudut pandang dan pengalaman yang berbeda,” katanya, Senin (18/5/2026).

Dalam pertunjukan tersebut, tiga koreografer dari kelompok usia berbeda akan menampilkan karya masing-masing. Generasi 40-an diwakili Besar Widodo melalui karya Di Atas Irama Dua. Generasi 30-an diwakili Galih Puspita lewat karya Ngluru Lurung. Sementara generasi 20-an diwakili Eka Lutfi Febriyanto dengan karya Sangkar Sunyi yang Bernyawa.

Tak hanya menampilkan karya individu, ketiga koreografer juga dijadwalkan tampil dalam kolaborasi lintas generasi. Kolaborasi itu menjadi simbol dialog kreatif sekaligus eksplorasi bahasa gerak tari kontemporer dari beragam pengalaman artistik.

Koreografer Bimo Wiwohatmo menilai perkembangan tari kontemporer di Jogja saat ini cukup dinamis dengan lahirnya banyak gagasan baru. Meski demikian, ekosistem seni tari dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar.

Menurut Bimo, persoalan ekonomi seni masih menjadi hambatan utama bagi para pelaku tari kontemporer. Banyak koreografer dan penari masih bekerja secara independen dengan mengandalkan hibah, sponsor, maupun dana pribadi untuk memproduksi karya.

“Banyak karya tari akhirnya berhenti setelah satu atau dua kali pertunjukan karena persoalan pendanaan,” ujarnya.

Selain persoalan pembiayaan, keterbatasan ruang presentasi seni juga dinilai menjadi tantangan tersendiri. Meski Jogja memiliki sejumlah ruang pertunjukan seperti TBY, Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo, dan ASIATRI, jumlah pertunjukan disebut belum sebanding dengan pertumbuhan pelaku seni tari kontemporer di Kota Jogja.

Bimo juga menyoroti lemahnya dokumentasi dan kritik seni tari. Minimnya arsip video, naskah pertunjukan, hingga tulisan kritik dinilai membuat perkembangan tari kontemporer di Jogja belum terdokumentasikan secara optimal.

Meski menghadapi berbagai tantangan, ia menilai Jogja tetap menjadi ruang subur bagi lahirnya talenta dan eksplorasi artistik baru di bidang tari kontemporer. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah membangun ekosistem seni yang mampu mendukung seniman untuk berkarya secara berkelanjutan sekaligus menjangkau publik lebih luas.

Melalui forum Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi, TBY menghadirkan tiga koreografer terkurasi untuk memperlihatkan perkembangan tren kekaryaan tari kontemporer dari tiap generasi sekaligus membuka ruang apresiasi seni bagi masyarakat Jogja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news