EV di Singapura Pukul Bengkel Tradisional, Pendapatan Turun 50 Persen

2 hours ago 1

Harianjogja.com, SINGAPURA—Gelombang adopsi kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) yang kian masif di Singapura mulai memukul kelangsungan bisnis bengkel tradisional.

Laporan Channel NewsAsia (CNA) mengungkapkan, berdasarkan data industri tahun 2025, penjualan mobil listrik murni telah mencapai 41% dari total penjualan mobil baru. Angka ini bersaing ketat dengan model hybrid sebesar 41,9%, sementara mobil berbahan bakar bensin murni kini tersisa 16,2%. Seiring perubahan drastis lanskap otomotif tersebut, banyak bengkel lama melaporkan penurunan pendapatan hingga 50% akibat berkurangnya volume servis rutin.

Kondisi ini salah satunya terlihat di Supreme Auto Service yang berlokasi di kawasan Sin Ming. Bengkel yang telah beroperasi lebih dari 50 tahun itu kini menghadapi kenyataan pahit berupa penurunan jumlah pelanggan secara signifikan.

Dantri mengungkapkan, setelah kendaraan listrik tidak lagi memerlukan perawatan mekanis yang kompleks, para mekanik lebih sering menganggur karena hilangnya pekerjaan rutin seperti penggantian oli mesin, filter udara, hingga sabuk timing.

Salah satu penyebab utama krisis ini adalah karakteristik EV yang secara desain memang minim perawatan. Berbeda dengan mesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE), kendaraan listrik tidak memiliki sistem pembuangan knalpot yang kerap membutuhkan perbaikan. Selain itu, komponen baterai yang mahal umumnya dilindungi garansi pabrikan selama lima hingga tujuh tahun, sehingga pemilik kendaraan enggan beralih ke bengkel independen karena keterbatasan alat dan sertifikasi.

Dampak finansial nyata juga dirasakan pelaku usaha lain, termasuk Adrian Ching dari Ching Motor yang melaporkan penurunan pendapatan sebesar 15% pada semester pertama 2025. Selain faktor teknis, tren konsumsi masyarakat turut memperkeruh keadaan seiring meningkatnya popularitas layanan ride-hailing dan rental yang disebut naik hingga lima kali lipat. Ketika generasi Z dan milenial mulai menunda atau menolak kepemilikan mobil pribadi, loyalitas terhadap merek konvensional pun disebut turun hingga 67% demi mengejar harga serta teknologi terbaru.

Realitas ini memaksa pelaku industri mengakui bahwa bengkel tradisional kini memasuki fase “industri senja”. Investasi di Singapura pun kian bergeser ke platform mobilitas digital dan layanan berbasis teknologi tinggi. Menghadapi tantangan tersebut, para mekanik dituntut segera melakukan alih keterampilan ke bidang diagnostik sistem cerdas dan penanganan baterai agar tetap relevan di tengah revolusi transportasi yang berlangsung cepat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news