Durian Pak Marsam

22 hours ago 4

Hayati Sumbar

Di dunia fana ini, setidaknya ada dua jenis kematian terburuk: mati dalam keadaan berdosa dan mati dalam penyesalan. Kini, keduanya menghantui Pak Marsam.

Sekarang musim penghujan. Lelaki tua itu menatap kuyu pohon-pohon durian di hadapannya. Padahal, hampir semua pohon sedang berbuah. Buah menggantung pada dahan-dahan pohon. Ada yang berbentuk bundar lonjong seperti telur. Ada pula yang berbentuk bundar bulat seperti bola. Duri-duri panjang dan rapat seperti terpahat pada kulit buah, menandakan kalau daging di dalamnya lembut dan tidak kering.

Debum durian yang meluncur dari dahan pohon dan mengempas tanah membuat Pak Marsam terkesiap. Dengan sedikit enggan ia memungut durian kuning kecokelatan dan menguarkan semerbak harum itu, lalu memasukannya ke dalam gubuk di tepi jalan setapak yang membelah kebunnya.

Di dalam gubuk itulah Pak Marsam menyimpan durian-duriannya sebelum dijual ke pasar. Dan di dalam gubuk itulah Dawi, tetangga yang tidak begitu dikenalnya, babak belur dihajar pemuda-pemuda kampung setengah mabuk.

Kemarin, ketika baru saja pulang dari masjid, Pak Marsam mendengar ribut-ribut dari kebunnya. Kebun itu memang hanya berjarak dua pelemparan batu dari dapur berdinding jati belanda yang terpisah dari bangunan utama rumahnya—tempat ia menyeruput kopi  bikinan istrinya setiap pagi.

Belum juga kopinya sempat diseruput, Pak Marsam langsung menghambur ke arah kebun. Peci hitam masih terpacak kokoh di kepalanya. Tangan kanan menyingsing sarung, agar tungkainya lebih leluasa melangkah cepat. Ia baru saja hendak bertanya ada apa gerangan ketika menghampiri gerombolan orang dekat gubuknya, tetapi sudah ada yang mengadu kepadanya. Ada yang maling duriannya di dalam gubuk.

“Dawi malingnya, Pak!” pekik seseorang.

Sesak di dada menyerang Pak Marsam. Napasnya tersengal-sengal karena tadi ia setengah berlari. Dengan terbata-bata ia meminta semuanya tenang, tapi itu percuma saja karena si tertuduh pencuri sudah bonyok. Dua pemuda kampung, yang dikenal Pak Marsam sebagai tukang mabuk, seketika menyeret Dawi keluar dari gubuk.

“Tadi kami melihatnya saat hendak keluar dari gubuk, jadi langsung kami hajar, haha,” kata salah seorang pemuda seraya terkekeh. Rambut pemuda itu kusut masai dan matanya memerah.

“Ampun, Pak, ampun…” ujar Dawi memelas dan mengharap iba kepada Pak Marsam.

“Tak ada ampun! Dasar maling!!” Pemuda satunya lagi tiba-tiba mendaratkan bogem mentah ke pipi Dawi. Wajah yang sudah lebam itu pun makin remuk redam.

“Cukup! Cukup!” bentak Pak Marsam. Ia mencoba melerai, menjauhkan si pemuda kesetanan dari korban penghakiman.

“Ampun, Pak, ampun,” kata Dawi lagi. Kali ini ia bersimpuh di hadapan Pak Marsam. “Kami lapar, Pak, kami lapar,” pungkasnya dengan tatapan sendu berkaca-kaca. Air matanya sudah meleleh sedari tadi, bercampur tetesan darah dari wajah.

Pak Marsam tersentak. Namun, belum juga ia sempat bertanya lebih lanjut kepada Dawi, Pak Lurah telah tiba bersama Inspektur Kirman—kepala kepolisian setempat. Tanpa banyak bicara Inspektur Kirman langsung meringkus Dawi, lalu menggelandangnya ke kantor polisi. Beberapa buah durian Pak Marsam juga ikut dibawa sebagai barang bukti. Polisi itu juga meminta beberapa orang untuk ikut karena akan dimintai keterangan sebagai saksi.

Pagi itu juga Dawi langsung mendekam dalam tahanan, sedangkan orang-orang kampung melanjutkan kegiatan seperti hari-hari biasa. Tapi, tidak dengan Pak Marsam. Lelaki tua itu tepekur seorang diri di kebunnya, di hadapan pohon-pohon durian yang tinggi menjulang.

***

Sekembalinya ke rumah, saat salat Zuhur sudah ditunaikan dan perutnya sudah terisi nasi, kecipir rebus, dan ikan tamban goreng sambal tauco bikinan istrinya, Pak Marsam telah memantapkan niat. Ia harus menghadap Inspektur Kirman. Maka, ia pun bersiap ke kantor polisi.

Kedua mata Pak Marsam terasa berat. Peristiwa kemarin membebani pikirannya sehingga ia terjaga sepanjang malam.

“Ini bukan perkara main-main,” katanya kepada diri sendiri.

Dan memang demikianlah keyakinannya.

Kemarin sore, ketika ia baru pulang dari pasar dan sedang menurunkan keranjang besar—yang ia gunakan untuk membawa durian yang hendak dijual—dari motornya, seorang perempuan kurus kering mencarinya. Perempuan itu Wiwit, istri Dawi. Sebagaimana terhadap suaminya, Pak Marsam tak begitu mengenalnya meskipun mereka bertetangga.

Dawi dan Wiwit tinggal bersama dua anak mereka di rumah panggung berdinding kulit kayu kelukup. Ilalang mengelilingi rumah itu, membuatnya tampak tak terawat. Selama ini Pak Marsam memang tak menaruh perhatian pada Dawi dan keluarganya—entah tersebab apa, ia tak tahu pasti. Padahal, rumah Pak Marsam dan rumah keluarga itu hanya dipisahkan tiga pohon rambutan berjejer yang tak jelas siapa pemiliknya.

Hampir setiap pagi Pak Marsam melihat Dawi berangkat dengan motor bebek butut yang lengkingan knalpotnya sanggup mengagetkan anjing yang sedang tidur. Dari yang ia dengar, Dawi bekerja di TI timah milik seorang tauke di pusat kecamatan. Pak Marsam juga hampir setiap pagi melihat Wiwit mengantar kedua anaknya ke sekolah—dengan motor bebek yang sedikit lebih bagus. Tapi, itu dulu. Setahun belakangan ini Pak Marsam jarang sekali melihat Dawi maupun istrinya.

Pak Marsam lantas teringat sekiranya satu bulan lalu, manakala pagi begitu sendu dan gerimis membasuh jalan setapak berdebu. Saat hendak ke kebun, ia mendapati suami-istri itu sedang cekcok. Dawi duduk di motor dan Wiwit berdiri di sampingnya, persis di tengah jalan setapak. Dawi membentak, Wiwit diam saja. Meski itu masih pagi benar dan matahari belum menaburkan cahayanya, Pak Marsam yang sedang berjalan ke arah mereka masih dapat menangkap wajah Wiwit yang pucat bagai mayat dan linangan air mata di pipinya. Namun, meskipun sudah ada niat menyapa atau bertanya kabar, Pak Marsam hanya sekadar menyunggingkan senyum kaku dan terus berjalan.

Tapi kemarin sore ia akhirnya bertegur sapa juga dengan Wiwit ketika perempuan itu duduk kikuk di sofa ruang tamunya yang empuk.

“Apa benar Dawi dibawa ke kantor polisi, Pak?”

Wiwit menanyakan itu dengan suara pelan tapi juga dengan gelagat tidak sabar. Bibirnya pucat, tapi matanya menjegil.

“Iya, benar, tapi sebaiknya tenang dulu.”

Pak Marsam mengambil satu air mineral gelas plastik dan sedotannya yang tertata rapi dalam keranjang besi di atas meja, lalu menyodorkannya pada Wiwit, berharap tamunya itu tetap tenang. Tapi, ketika si tamu benar-benar tenang, Pak Marsam justru merasa itu hal aneh. Perempuan di hadapannya hanya terdiam dan tatapannya kosong. Tak ada tanda-tanda kesedihan di kedalaman matanya. Hanya kosong belaka. Kekosongan itu seperti mengirim sinyal bahwa duka yang baru saja dirasakannya tidaklah seburuk itu, sebab tidak sebanding dengan duka-duka lain, juga kesakitan-kesakitan lain yang pernah atau sedang ia rasakan. Dan hal itu jugalah yang dirasakan Pak Marsam.

Selebihnya, Pak Marsam merasa dirinya sungguh berdosa. Dan dosa itu makin teruk saja baginya manakala ia terus mengulik hal-hal yang tidak diketahuinya. Wiwit bercerita kalau suaminya sudah satu setengah tahun menganggur. TI timah tempatnya bekerja berhenti beroperasi, menyusul gonjang-ganjing kasus korupsi yang konon merugikan negara ratusan triliun rupiah dan menyeret banyak pejabat serta pengusaha. Orang-orang di seantero negeri bersorak-sorai, tapi orang-orang di tempat ini justru merana.

Dan enam bulan lalu, Wiwit tiba-tiba batuk darah. Berat badannya turun drastis. Ia juga sering sesak napas dan nyeri hebat di bagian dada. Dawi membawanya ke puskesmas, namun puskesmas merujuknya ke rumah sakit daerah. Dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa ia mengidap kanker paru dan harus dibawa ke Jakarta untuk pengobatan lebih lanjut. Rumah sakit daerah menyerah begitu saja akan sakit yang dideritanya.

Ketika itu Dawi sudah tak lagi punya uang. Jangankan untuk ke Jakarta, untuk makan sehari-hari keluarganya saja ia sudah harus menjual barang-barang yang ada di rumah. Dan yang bisa dijual saat itu hanyalah motor bebek yang biasanya dipakai Wiwit. Motor itu ia jual, lalu uangnya dipakai untuk makan dan membawa istrinya ke dukun kampung yang katanya mampu mengobati segala penyakit. Oleh dukun kampung, Wiwit diminta rutin minum air rebusan akar kuning dan upak-apik. Ia juga diminta minum air rebusan daun bidara putih yang sebelumnya sudah dijampi-jampi.

Di tengah pertarungannya melawan rasa sakit, Dawi justru sering tidak di rumah. Suaminya itu sering pergi entah ke mana, tapi katanya demi mencari kerja serabutan. Akibatnya, anak-anak mereka jadi tak terurus dan sering tidak sekolah.

“Maafkan saya, Wiwit, maafkan saya.”

Hanya permintaan maaf yang sanggup diucapkan Pak Marsam dan itu bukannya tanpa alasan. Ia mencari-cari pembenaran atas titik tempatnya berdiri ketika ketidakberdayaan seorang tetangga begitu jelas di dekatnya, tetapi bukan pemakluman yang didapat, melainkan rasa bersalah yang menghebat.

Padahal menolong mereka sungguh tiada berat, begitu pikir Pak Marsam yang diselimuti rasa sesal. Dan itu memang benar adanya.

Pak Marsam hanya tinggal berdua dengan istrinya karena anak mereka satu-satunya sudah lama merantau ke negeri orang. Dan sejak pensiun dari pekerjaannya sebagai abdi negara di Tanah Jawa sepuluh tahun lalu, ia memutuskan kembali ke kampung ini, demi menghabiskan sisa hidup dalam kekhidmatan sebagai hamba Tuhan, dekat dengan sanak keluarga, dan damai dalam pelukan tanah kelahiran. Ia telah selesai dengan diri sendiri, dan merasa lebih dari cukup hidup dengan uang pensiun dan sedikit-sedikit menjual apa yang dihasilkan dari kebun warisan orang tuanya.

Selama sepuluh tahun ini, Pak Marsam rutin pergi ke masjid, mendaras Al-Qur’an, dan membaca buku-buku keagamaan yang semasa muda tak sempat ia baca. Ia juga rajin berderma sebagaimana tuntunan agama. Maka, tak ada hal lain yang lebih menyesakkan hatinya selain bayangan bahwa jangan-jangan ia telah terjebak kezaliman karena ketidakpedulian dan keangkuhannya.

Namun, setidaknya kini Pak Marsam dapat sedikit-sedikit meringankan kezaliman itu karena ia sudah berada di kantor polisi dan siap menghadap Inspektur Kirman. Kantor itu sedang sepi. Di halaman hanya ada satu mobil dan tiga motor yang terparkir di belakang pagar tembok bertuliskan: POLISI SEKTOR TANJUNG KEMURING.

Pak Marsam diminta menunggu dalam ruangan yang kecil saja. Hampir tak ada apa-apa di situ. Hanya ada meja dan kursi; juga beberapa buah duriannya yang kemarin dibawa untuk barang bukti, yang teronggok di sudut ruangan. Inspektur Kirman muncul sepuluh menit kemudian dan langsung duduk di belakang meja menghadap Pak Marsam. Meski ini sudah mendekati waktu Asar dan ia sudah bekerja sedari pagi, polisi itu tetap tampil rapi dan wajahnya bersih.

“Untung kemarin saya sedang berada di wilayah rumah Bapak, ya, Pak,” kata Inspektur Kirman membuka obrolan, “jadi begitu Pak Lurah telepon, saya langsung datang dan mengambil tindakan.”

“Terima kasih, Komandan. Tapi saya kemari karena ada hal lain yang harus saya sampaikan,” kata Pak Marsam dengan penuh keyakinan.

“Apa itu?”

“Saya mau Dawi dibebaskan saja. Saya tidak menuntut apa-apa. Damai saja, Komandan.”

Inspektur Kirman mengerutkan kening dan sedikit memicingkan mata. “Tidak bisa, Pak. Proses hukum harus terus berjalan,” jawabnya mantap.

“Tapi, Komandan, Dawi mencuri karena terpaksa. Dia sudah lama kehilangan pekerjaan dan istrinya sakit. Dia mencuri karena lapar.”

“Tetap tidak bisa, Pak.”

“Tolonglah, Komandan, ini demi kemanusiaan.”

“Hukum tetap harus ditegakkan, Pak Marsam. Ini negara hukum. Mari kita hormati hukum.” Kali ini Inspektur Kirman mencoba bijak. “Lagipula, ini delik umum, proses hukum tidak bisa dihentikan begitu saja. Berkas-berkasnya juga sudah siap dilimpahkan ke kejaksaan,” tandasnya.

Sekuat apa pun Pak Marsam meminta Dawi dibebaskan, sekuat itu pula Inspektur Kirman berkukuh pada keputusannya. Dawi yang malang tetaplah menjadi pesakitan.

“Boleh saya menemui Dawi, Komandan?” kata Pak Marsam pada akhirnya.

“Silakan, Pak.”

***

Keesokan paginya Pak Marsam menderita demam. Ia bahkan hanya salat Subuh di rumah lantaran tak sanggup pergi ke masjid. Ketika hari mulai terang ia berjalan gontai menemui istrinya di dapur.

“Berdosa kita, Mak,” katanya memelas, “kita sungguh-sungguh berdosa.”

“Sudah, Pak, sudah,” jawab istrinya, sembari menatap si suami dengan penuh kasih. “Yang penting sekarang kita memohon ampun kepada Allah.”

“Tapi aku amat keterlaluan, Mak. Mengapa aku tak menyapa atau bertanya kabar ketika ada kesempatan? Mengapa aku tak berinisiatif mengunjungi mereka ketika mereka lama tak terlihat? Rumah mereka bahkan hanya beberapa langkah dari sini.”

Istri Pak Marsam hendak mengatakan sesuatu tetapi tertahan oleh gelagat suaminya yang masih ingin berkeluh kesah.

“Kalau begini, apa gunanya aku salat? Apa gunanya aku mempelajari Al-Qur’an?” kata Pak Marsam lagi, yang kali ini benar-benar tenggelam dalam kemasygulan.

Istrinya mendekat, lalu duduk di sampingnya sembari membawa secangkir kopi panas mengepul.

“Setiap bulan aku bersedekah ke masjid, menyumbang ini dan itu, tapi aku biarkan tetangga terdekatku kelaparan. Aku lalim, Mak, aku sungguh lalim.”

Istri Pak Marsam tak berkata apa-apa. Ia hanya diam dan mendengarkan, tapi tangannya mengaduk-aduk kopi.

Di kantor polisi, Inspektur Kirman juga mengaduk-aduk kopi. Sementara polisi-polisi lain sedang asyik membelah durian Pak Marsam. Daging-daging durian yang lembut langsung menguarkan keharuman. Inspektur Kirman menyeruput kopinya sedikit. Setelah itu ia langsung mencomot dan memasukkan daging durian lezat itu ke dalam mulut dan segera diikuti polisi-polisi lain. Polisi-polisi itu berpesta.

*Catatan:

TI: Singkatan dari Tambang Inkonvensional, merujuk pada penambangan timah oleh masyarakat di wilayah Bangka Belitung. Biasanya menggunakan peralatan mekanis sederhana saja, sehingga tidak membutuhkan modal terlalu besar.

Upak-apik: Akar bajakah (Spatholobus littoralis Hassk).

Anggit Rizkianto adalah pengarang dan dosen. Menulis artikel, esai, dan cerita pendek. Bukunya Pelayaran Terakhir: Kolase Kisah dari Bumi Timah hingga Jawa (Mekar Cipta Lestari, 2024) masuk nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa 2025. Email: [email protected] Media Sosial (Instagram dan X): @anggit_mr
Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news