Arsip statis dan buku-buku lawas yang selama ini identik dengan ruang penyimpanan berdebu kini justru ramai dikunjungi di ruang digital. Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengubah dokumen sejarah menjadi konten digital yang lebih dekat dengan kebiasaan Generasi Z melalui program Strategi Andalan Digital Yogyakarta (SANDYA).
Lewat program tersebut, arsip dan pustaka langka tidak lagi hanya disimpan sebagai dokumen lama, tetapi diolah menjadi artikel populer, infografis, hingga konten visual yang mudah dibaca dan dibagikan di media sosial. DPAD DIY memiliki 85.679 khazanah arsip statis dan 15.920 koleksi bahan pustaka langka. Selama ini, sebagian besar koleksi tersebut lebih banyak tersimpan di ruang penyimpanan dan belum optimal dikenal masyarakat luas. Kini, arsip lama itu dijadikan “bahan mentah” untuk memproduksi konten sejarah yang ringan, kontekstual, dan lebih mudah dipahami anak muda.
Pada awal implementasi, DPAD DIY memperbanyak unggahan di Instagram, TikTok, dan YouTube. Namun, strategi tersebut kemudian dievaluasi. DPAD DIY memilih memperkuat website resmi terlebih dahulu agar pengunjung tidak langsung meninggalkan laman setelah membuka konten.
Dalam dunia digital, kondisi itu dikenal sebagai bounce rate, yakni persentase pengunjung yang keluar dari website tanpa melakukan interaksi lanjutan. Karena itu, website DPAD DIY dikembangkan sebagai digital showcase memori kolektif Yogyakarta berbasis arsip statis dan bahan pustaka langka.
Konten sejarah tersebut dapat diakses melalui laman dpad.jogjaprov.go.id/tag/Sejarah-DIY dan dpad.jogjaprov. go.id/tag/Artikel. Konten Dibuat Lebih Ringan Dalam implementasinya, terdapat tiga jenis konten utama yang dikembangkan, yakni: • “Kolase Sejarah”, berupa penyusunan narasi berdasarkan kronologi arsip yang dilengkapi infografis. • “Peristiwa Bersejarah”, berupa konten momentum seperti Hari Kartini dan peringatan sejarah lainnya.
“Artikel Bersejarah”, berupa olahan pustaka langka yang dialihaksarakan dari aksara Jawa lalu diterjemahkan menjadi artikel populer. Seluruh proses produksi dilakukan dengan pengecekan validitas data agar informasi yang disampaikan tetap akurat dan kredibel. Menariknya, pengelolaan konten sejarah ini juga memanfaatkan teknologi modern. Tim DPAD DIY menggunakan program berbasis Python untuk membantu proses kurasi arsip hingga penyusunan kronologi.
Selain itu, teknologi Artificial Intelligence (AI) dimanfaatkan untuk membantu penyusunan narasi dan pengembangan ide visual agar produksi konten lebih cepat dan adaptif terhadap kebutuhan media digital. Pengunjung Website Naik Tajam Perubahan strategi tersebut mulai menunjukkan hasil signifikan. Data statistik website DPAD DIY menunjukkan jumlah page view meningkat dari 3.884 tayangan pada Januari 2026 menjadi 18.827 tayangan pada Maret 2026. Rata-rata halaman yang dibuka pengunjung dalam satu sesi juga meningkat dari 1,78 menjadi 10,37 halaman.

Sementara itu, perkiraan bounce rate yang sebelumnya berada di kisaran 60%-70% turun menjadi sekitar 10%- 20% pada April 2026, meski penghitungan tersebut masih bersifat estimasi karena keterbatasan alat analitik. Di media sosial, perkembangan juga mulai terlihat. Akun Instagram DPAD DIY meningkat dari 8.283 pengikut menjadi 8.666 pengikut hanya dalam dua bulan.
TikTok dan YouTube juga menunjukkan tren pertumbuhan positif. Tujuan utama program ini sebenarnya sederhana, yakni mengenalkan khazanah arsip dan pustaka kepada masyarakat melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan digital sehari-hari. Melalui strategi tersebut, sejarah Yogyakarta yang sebelumnya terasa jauh dan kaku kini hadir di layar ponsel masyarakat umum dan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di ruang digital. (Adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

9 hours ago
7

















































