Harianjogja.com, JOGJA—Suasana penuh refleksi, kreativitas, dan semangat kolaborasi mewarnai panggung Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Rabu malam, 13 Mei 2026. SMA Kolese De Britto bersama SMA Pangudi Luhur Yogyakarta sukses menghadirkan pementasan teater kolaboratif bertajuk “Sumur Tanpa Dasar”, karya monumental sastrawan Arifin C. Noer yang menggugah kesadaran tentang ambisi, kekuasaan, dan kehampaan hidup manusia.
Selain menghadirkan pementasan teater kolaboratif, kedua sekolah juga menyuguhkan beragam pameran karya kreatif sebagai bagian dari perayaan seni dan ekspresi generasi muda. Pameran fotografi, jurnalistik, dan seni lukis yang ditampilkan merupakan hasil proses panjang para murid dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah masing-masing.
Melalui karya-karya tersebut, para murid tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis dan artistik, tetapi juga menghadirkan cara pandang terhadap realitas kehidupan, kemanusiaan, lingkungan sosial, hingga dinamika generasi muda masa kini.
Setiap foto, tulisan, dan lukisan menjadi ruang bercerita yang memantulkan kepekaan, imajinasi, serta refleksi batin para murid terhadap dunia di sekitar. Kehadiran pameran ini semakin mempertegas bahwa pendidikan tidak semata berorientasi pada capaian akademik, melainkan juga memberi ruang bagi tumbuhnya kreativitas, kebebasan berekspresi, dan keberanian menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan melalui karya seni.
Pementasan yang dimulai pukul 18.00 WIB dimulai dengan penampilan kolaboratif dari sekolah-sekolah SMP pendukung yang turut menunjukkan kreativitas dan karakter khas masing-masing sekolah. Adapun sekolah-sekolah yang terlibat antara lain SMP Marsudirini Immaculata, SMP Joanes Bosco, SMP Kanisius Gayam, SMP Kanisius Kalasan, SMP Santo Aloysius Turi, serta SMP Pangudi Luhur Yogyakarta. Beragam penampilan seni yang ditampilkan para murid SMP tersebut menambah warna tersendiri dalam perayaan seni dan pendidikan karakter generasi muda.
Masuk dalam pementasan tetater berlangsung meriah sekaligus kontemplatif. Ratusan penonton yang memenuhi auditorium diajak masuk ke dalam pengalaman batin yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengguncang nurani. Melalui simbol “sumur tanpa dasar”, para pemain menghadirkan refleksi tentang manusia modern yang terus mengejar kepemilikan dan ambisi tanpa pernah benar-benar menemukan kepenuhan makna hidup.
Kepala SMA Kolese De Britto R. Arifin Nugroho, S.Si., M.Pd dalam sambutannya menyampaikan bahwa teater bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan ruang pembentukan manusia yang utuh. Menurutnya, pendidikan sejati tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga membentuk kepekaan hati dan keberanian untuk merefleksikan realitas kehidupan.
“Melalui teater, para murid belajar mendengarkan kehidupan, memahami pergulatan manusia, dan menemukan makna di balik setiap peristiwa. Inilah bagian dari pendidikan karakter yang ingin terus kami bangun di De Britto,” ungkapnya dalam keterangan tertulis.
Senada dengan hal tersebut, Kepala SMA Pangudi Luhur Yogyakarta, Anna Fitri Anitasari Nugroho, S. Pd, menegaskan bahwa kolaborasi ini menjadi simbol persaudaraan dan komitmen bersama dalam mendidik generasi muda yang humanis, reflektif, dan peduli terhadap sesama.
“Di tengah budaya instan dan derasnya arus digitalisasi, teater menghadirkan ruang hening untuk berpikir, merasakan, dan memaknai hidup. Anak-anak muda perlu memiliki ruang seperti ini agar tidak kehilangan kedalaman kemanusiaannya,” tuturnya.
Seluruh proses produksi pementasan melibatkan murid dari kedua sekolah yang tergabung dalam ekstrakurikuler teater. Para murid menjalani latihan intensif selama berbulan-bulan, mulai dari pendalaman karakter, pengolahan artistik, manajemen produksi, hingga eksplorasi nilai-nilai yang terkandung dalam naskah. Proses kreatif tersebut didampingi oleh guru pembimbing ekstrakurikuler teaterprofesional, sehingga menjadi pengalaman belajar yang konkret, kolaboratif, dan transformatif.
Tidak hanya menghadirkan kritik sosial, “Sumur Tanpa Dasar” juga menjadi ruang refleksi bersama bagi masyarakat luas. Penonton diajak melihat kembali realitas kehidupan modern yang sering kali dipenuhi ambisi tanpa batas, tetapi miskin makna dan relasi kemanusiaan.
Kolaborasi antara SMA Kolese De Britto dan SMA Pangudi Luhur Yogyakarta ini menjadi bukti bahwa pendidikan dapat hadir melalui pengalaman nyata yang hidup, dialogis, dan menyentuh kesadaran batin. Melalui panggung teater, seni tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga jalan untuk menimba makna kehidupan dari “sumur” refleksi yang tak pernah habis digali.
Lebih jauh dari itu, kolaborasi ini merupakan implementasi dari pesan pastoral Bapak Uskup Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam sinode Pendidikan beberapa waktu yang lalu. Bahwa praktik baik kolaborasi ini menunjukkan bagaimana sekolah Katolik dapat saling memperkuat, saling menginspirasi, dan saling mendampingi demi membentuk generasi muda yang berkarakter, berbelarasa, dan siap menghadapi masa depan, demi kemulliaan Allah yang lebih besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

2 hours ago
4

















































