Dosen UITKabarMakassar.com — Tim dosen Universitas Indonesia Timur (UIT) menggelar Program Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) bertajuk “Peningkatan Inovasi Petani Kecil Melalui Teknik Sanitasi dan Pemanfaatan Biomassa Agroforestry Kakao” di Dusun Lekke, Desa Tonronge, Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone. Kegiatan ini menyasar Kelompok Tani Wangi-Wangi 2 yang beranggotakan delapan petani kakao.
Program ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema BIMA Pengabdian kepada Masyarakat Pemula tahun anggaran 2026.
Tim pelaksana diketuai oleh Wahyullah, dosen Program Studi Kehutanan UIT, bersama dua anggota pelaksana yaitu Harlina dari UIT dan Herawaty dari Universitas Islam Makassar. Kegiatan turut melibatkan dua mahasiswa Program Studi Kehutanan UIT, Rider dan Muh. Anugrah.
Menurut ketua tim bahwa permasalahan utama yang dihadapi Kelompok Tani Wangi-Wangi 2 adalah rendahnya pengetahuan dan keterampilan petani dalam pemeliharaan serta sanitasi kebun kakao, yang berdampak pada tingginya serangan penyakit dan menurunnya mutu hasil panen. Selain itu, limbah biomassa dari pemangkasan tanaman kakao dan pohon penaung selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga berpotensi menjadi sumber masalah kebun sekaligus pemborosan sumber daya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim PKM memberikan pelatihan dan pendampingan yang mencakup:
- Sanitasi kebun kakao, meliputi teknik pemeliharaan dan pemangkasan untuk menekan serangan hama dan penyakit, termasuk busuk buah.
- Pemangkasan pohon penaung pada sistem agroforestri kakao guna mengoptimalkan pertumbuhan tanaman.
- Pengolahan biomassa kebun menjadi pupuk organik cair (POC) berbasis sumber daya lokal, dengan memanfaatkan bahan seperti EM4 dan gula merah sebagai starter fermentasi.
Program ini peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam sanitasi kebun sebesar 70 persen, penurunan intensitas serangan busuk buah kakao minimal 20 persen, serta terampilnya petani kecil memperoleh pupuk organik cair siap pakai hasil olahan biomassa kebun bagi kelompok tani mitra.
Dalam pelaksanaannya, tim juga menyerahkan sejumlah alat teknologi tepat guna kepada kelompok tani, di antaranya mesin pencacah biomassa, gerobak angkut, gergaji dahan, gunting pruning, parang, cangkul, serta drum fermentasi berkapasitas 150 liter, untuk mendukung keberlanjutan praktik sanitasi dan pengolahan pupuk organik secara mandiri.
Ketua tim pelaksana, Wahyullah, menyampaikan bahwa program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas dan mutu kakao, tetapi juga menekan biaya produksi petani serta memperkuat kemandirian dan inovasi kelompok tani dalam mengelola kebun secara berkelanjutan.
Kegiatan ini sejalan dengan capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yakni Tanpa Kemiskinan, Tanpa Kelaparan, Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta Penanganan Perubahan Iklim. Program ini juga mendukung Asta Cita pembangunan desa dan penguatan ekonomi hijau, sekaligus selaras dengan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) pada bidang ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan.
Melalui program ini, tim UIT berharap sistem agroforestri kakao di Desa Tonronge dapat menjadi model pertanian berkelanjutan berbasis ekonomi hijau yang dapat direplikasi oleh kelompok tani lain di wilayah Sulawesi Selatan.


















































