Bisnis Kopi Indonesia Berkembang, Pelaku F&B Hadapi Tantangan Baru

2 hours ago 2

Newswire

Newswire Selasa, 22 September 2026 21:17 WIB

Bisnis Kopi Indonesia Berkembang, Pelaku F&B Hadapi Tantangan Baru

Kafe Jogja - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Coffee culture di Indonesia terus berkembang dan membuat kopi tidak lagi sekadar minuman untuk menemani aktivitas sehari-hari. Kopi kini juga menjadi bagian dari aktivitas sosial sekaligus gaya hidup masyarakat, sehingga perubahan perilaku konsumen ikut membuka peluang sekaligus tantangan baru bagi bisnis food and beverage (F&B).

Perubahan budaya minum kopi tersebut membuat persaingan bisnis F&B semakin dinamis. Pelaku usaha tidak cukup hanya mengandalkan menu yang sedang populer, tetapi juga perlu beradaptasi dengan perubahan tren sambil mempertahankan kualitas dan konsistensi produk.

“Coffee itu awalnya hanya tren, setelah itu menjadi lifestyle, dan sekarang sudah menjadi culture,” kata Jacqueline Karina, Business Head of F&B Solutions Indonesia perusahaan bahan makanan dan minuman Olam Food Ingredients (OFI) di Jakarta Utara, Kamis (17/9/2026).

Menurut Jacqueline, perkembangan coffee culture juga ikut mengubah peta bisnis restoran dan coffee shop. Industri yang sebelumnya banyak didominasi kelompok usaha besar kini semakin ramai dengan masuknya pemain-pemain kecil.

Media sosial menjadi salah satu faktor yang membuat informasi mengenai bisnis F&B semakin mudah diakses. Namun, kemudahan tersebut juga membuat kompetisi semakin ketat karena pelaku usaha harus mampu membaca kebutuhan pasar dan mempertahankan relevansi produk.

Tren F&B Berubah Cepat

Kecepatan perubahan tren menjadi salah satu tantangan utama bagi pelaku bisnis F&B. Jacqueline menyebut tren baru dapat muncul dalam waktu singkat sehingga pengusaha perlu memiliki kemampuan untuk menyesuaikan produk dengan perubahan selera konsumen.

“Setiap tiga bulan itu selalu muncul tren baru,” kata Jacqueline pada kesempatan yang sama.

Mengikuti tren memang dapat menjadi peluang untuk menarik konsumen baru. Namun, perubahan yang cepat membuat pelaku usaha perlu mengembangkan produk dalam waktu relatif singkat agar tidak tertinggal dari perkembangan pasar.

Tantangan berikutnya berkaitan dengan skala produksi. Produk yang masih dapat dibuat secara manual atau dalam jumlah terbatas belum tentu mudah diterapkan ketika harus diproduksi dalam volume besar untuk memenuhi kebutuhan banyak gerai.

Karena itu, kebutuhan industri F&B tidak hanya berfokus pada penciptaan rasa baru. Pelaku usaha juga membutuhkan proses produksi yang efisien sekaligus mampu menjaga konsistensi produk ketika permintaan meningkat.

Salah satu upaya yang berkembang adalah penggunaan premiks minuman. Produk tersebut dapat membantu menyederhanakan proses produksi sekaligus menjaga konsistensi ketika minuman harus dibuat dalam jumlah lebih besar.

Bahan Baku Jadi Tantangan Bisnis Kopi

Selain tren konsumen, bisnis F&B juga menghadapi persoalan dari sisi ketersediaan bahan baku. Volatilitas pasokan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari ketegangan geopolitik, konflik, inflasi hingga perubahan iklim.

Gangguan di wilayah produksi juga dapat memengaruhi ketersediaan komoditas dan pada akhirnya menghambat proses produksi industri F&B. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha perlu mempertimbangkan strategi pasokan selain pengembangan produk.

Dalam bisnis kedai kopi, keterbatasan pasokan menjadi salah satu alasan pelaku usaha mencari bahan alternatif. OFI, misalnya, menyoroti ketersediaan susu segar dan mengembangkan susu barista blend serta susu bubuk sebagai alternatif untuk kebutuhan minuman.

Tantangan bahan baku tersebut juga menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat perubahan iklim, gangguan rantai pasok, fluktuasi harga, serta dinamika pasokan bahan baku sebagai sejumlah tantangan yang dihadapi industri pangan.

Kemenperin juga mendorong industri kecil dan menengah (IKM) pangan untuk masuk ke rantai pasok industri yang lebih besar. Upaya tersebut ditujukan untuk memperkuat keterhubungan antara pelaku usaha pangan dan industri sekaligus meningkatkan kemampuan sektor pangan dalam memenuhi kebutuhan pasar.

Dengan perkembangan coffee culture dan persaingan bisnis F&B yang semakin dinamis, inovasi produk perlu berjalan beriringan dengan strategi rantai pasok. Diversifikasi sumber bahan baku menjadi salah satu pilihan untuk menyediakan alternatif pasokan ketika terjadi gangguan di salah satu wilayah produksi.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan bisnis kopi tidak hanya berkaitan dengan selera konsumen. Di balik semakin kuatnya coffee culture di Indonesia, pelaku usaha juga menghadapi kebutuhan untuk beradaptasi terhadap tren, meningkatkan efisiensi produksi, menjaga konsistensi kualitas, serta mengantisipasi perubahan ketersediaan bahan baku.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news